Tebing Merah

INILAH Film yang sudah lama saya tunggu kemunculannya sejak berita rilisnya dihembuskan tiga tahun lalu. Red Cliff atau Chi Bi dalam bahasa Mandarin, adalah nama sebuah tebing di daerah sungai Yangtze, tempat bertempurnya ratusan ribu prajurit pada periode akhir Dinasti Han ( 220 M ) dan menjadi cikal-bakal terbentuknya Tiga Kerajaan di China.


Tidak banyak yang tahu kalau saya sangat tergila-gila dengan kisah Romance Of Three Kingdoms. Di antara sekian banyak sejarah negeri China yang pernah saya baca, periode Tiga Kerajaan inilah yang paling menarik perhatian saya. Alasan awalnya sederhana. Karena di dalam Sam Kok ada tokoh bernama Guan Yu. Guan Yu kelak menjadi cikal-bakal Guan Gong ( Kuan Kong ), dewa perang yang dipuja banyak orang China bahkan oleh para Huaqiao – China perantauan, seperti keluarga saya.

Minat yang besar terhadap kisah ini mencengangkan orang-orang terdekat saya. Mama bahkan tidak habis pikir, kenapa saya yang perempuan lebih memilih Sam Kok ketimbang A Dream Of Red Mansion misalnya. Atau Sampek – Engtay. Bagi saya, Romance Of Three Kingdoms adalah sebuah epik yang bagus sekali. Di dalamnya ada ratusan tokoh. Dari yang paling jujur hingga pecundang. Dari yang penuh integritas hingga penjilat. Di sini juga terlihat bagaimana otak manusia yang volumenya tidak seberapa menghasilkan aneka strategi-strategi jitu, tidak terbaca oleh lawan serta penuh kejutan.

Pada tahun 2002, ketika saya berulang tahun ke-20, Papa menghadiahkan saya empat jilid Sam Kok terbitan Bhuana Ilmu Populer. Usai membacanya, saya jadi mengagumi empat tokoh dalam kisah ini. Zhuge Liang alias Khong Ming, Guan Yu alias Yunchang, Zhao Yun alias Zilong dan Laksamana Zhou Yu alias Gongjin.

Maka, jika anda tahan melihat adegan pertempuran dengan darah berceceran dimana-mana, saya sarankan nontonlah Red Cliff. Film arahan sutradara John Woo ini memang tidak dibuat seratus persen mengikuti novel San Guo Yan Yi nya Luo Guangzhong. Tapi lebih pada catatan resmi sejarawan dari tiga pihak yang sedang bertempur itu. Walau begitu, castingnya cukup oke. Pemeran Cao Cao nya sempurna. Berwajah tenang. Bengis. Kejam. Tak terduga.

Nilai untuk film ini parfait : 9 !

& Komentar »

  1. kurnia berkata

    So… kapan mo nonton barengnya… ?
    Kalo Nia diluar fakta bahwa ini film berlatar belakang sejarah yang hebat, kayaknya tertarik juga sama pemainnya… TAKESHI KANESHIRO… what a cool man…!!!

  2. merlinherlina berkata

    Saya sudah nonton film ini minggu sore kemarin. Sendiri. Penjual tiketnya sampai bengong, ‘ Nih cewek aneh. Nonton film genre perang sendirian…’
    Adegan paling bagus menurut saya ada dua. Waktu Zhao Yun narik baju Nyonya Mi, istri Liu Bei yang terjun ke dalam sumur. Sama waktu pasukannya Cao Cao terjebak oleh formasi bunga Zhuge Liang – Zhou Yu.

  3. Jafar berkata

    kayaknya film ini menarik jg untuk ditonton. ya kapan2 aq cari bajakannya aja deh, biar ga perlu lagi ke studio nonton sendirian. ntar qw dibilangin jg cowok aneh.

  4. Gelandangan berkata

    wah bagus kayaknya untuk di nonton di
    Salam kenal ka ces

  5. Solihin berkata

    Kalau nonton film manadarin saya paling hoby tuh..apalagi kalau ada kungfunya diselingi degan percintaan yang menghanyutkan,Apakah didalam film diatas ada seperti itu..?tapi membaca sekilas dari film tersebut saya jadi penasaran mau mau nonton..

  6. Effendy Wongso berkata

    Ada pemahaman keliru menyoal totem yang sudah mengkultus di ranah Tiongkok. Mungkin itu merupakan inferioritas berpikir masyarakat marjinal baheula, dimana epik tidak seharusnya diangkat sertamerta menjadi ‘dewa’ yang pada akhirnya disembah dan dijadikan ‘berhala’. Namun dalam kenyataannya, Guang Yu (Kuang Kong, Cantonesse) dijadikan obyek puja. Sebagai warga negara Indonesia etnis Tionghoa, saya sedari kecil telah memahami hal tersebut sebagai sebuah ‘pencitraan’ agama kepercayaan, Kong Hu Cu. Padahal, ‘Kong Hu Cu’ adalah ajaran filsafat Confusiunisme yang berkembang pada era Sam Kok (Tiga Kerajaan). Dan kebetulan, Jenderal Guang Yu banyak menyerap serta mengamalkan laku kebajikan yang terkandung di dalam Confusiunisme itu. Lalu, berkembanglah hakam yang keliru, yang pada akhirnya menimbulkan streotip yang keliru pula tentang ke-cinaa-an yang ‘penyembah berhala’. Melalui tulisan singkat ini, saya kira Merlin Herlina bisa menjelaskan lebih detil lagi. Saat ini di Sulawesi Selatan, ia merupakan penulis yang sangat memahami seluk-beluk tentang Tiongkok!

    Wasalam,
    Effendy Wongso
    http://www.cafenovel.com/
    Situs Sastra Populer Indonesia

  7. Ly berkata

    hai merlin,
    film ini akan menjadi pembukaan di tokyo international film festival. sutradara dan pemainnya akan menggelar open session. nanti saya bagi ceritanya untuk merlin.

    Ly

  8. rina berkata

    kaka’…………. sudah ma nonton…. keluarmi kah yang lanjutuannya… kan masih ada lagi perangnya di laut… belum selesai…. (penasaran ka belaaaa)… kalo ada mi, kasih tau ka nah ka’… email ma saj di ripazz_lovely@yahoo.com… thanx ka’…

  9. dani chiaputra berkata

    Hii Lin…
    Kita sudah menyelesaikan ketegangan versi jhon woo ini.saya puas meski akhir ceritanya terkesan terburu-buru.
    Ada sedikit komentar saya tentang objek puja tokoh kwan kong (guan yu), sebagai dewa perang orang cina.
    Objek ini saya nilai tepat, mengingat aliran kepercayaan. Tiongkok asli adalah memuja leluhur dan Guan Yu adalah leluhur yang terkenal kesetiaannya serta ketangguhannya dalam medan perang. Sosok yang sempurna sebagai panutan kepada cucu cicit keturunan han asli.
    Diatas semua pemujaan ini masih ada Thian, Yang Maha Esa. Thian lah yang disembah, bukan yang lain.
    Demikian sedikit pemahaman dan pandangan saya yang sempit ini.

    Dani Chiaputra

  10. merlinherlina berkata

    Pemahaman Anda cukup menarik. Terima kasih, Pak Dani.

  11. eomer berkata

    Merlinherlina, saya mau tanya nih itu buku terbitan tahun berapa yah, trus empat jilid tuh sampai tamat ngga? soalnya gw dulu pernah minjem dari teman (penerbitnya juga BIP) tapi cuma baca dua jilid doang. pas nyari2 di internet ternyata ada lebih dari 5 jilid itu buku.

Pengumpan RSS untuk komentar di postingan ini · URI Lacak Balik

Tinggalkan sebuah Komentar