KEMANA PERGINYA penulis sekaligus pemilik blog ini? Sudah hampir sebulan tidak ada tulisan baru di situsnya. Jangan-jangan, dia tidak pernah lagi masuk ke situs ini untuk sekedar mencek komentar~atau yang lebih parah, dia sudah lupa kalau dia memiliki blog.
Well, saya masih ada, tidak kemana-mana dan tetap di kota Makassar. Memang sebulan ini saya tidak memuat tulisan baru di blog. Sebenarnya bukan hanya di sini. Di situs cafenovel pun masih ada dua cerita yang belum saya selesaikan.
Belakangan ini saya agak pelit menulis. Saya sekarang pilih-pilih tema dan enggan menulis asal-asalan. Salah satu penyebab lain adalah menurunnya mood. Faktornya mulai internal hingga eksternal.
Kabarku selama sebulan ini sedang-sedang saja. Sejak tanggal 20 Juli ( tulisan terakhirku tentang Tebing Merah dimuat tanggal 20 Juli kan? ), saya menghadiri tiga pesta pernikahan. Satu orang mantan kawan SMA, satu orang sepupu jauh dan seorang lagi teman sesama pelatihan di Panyingkul.
Saya sempat bicara dekat dengan salah seorang sepupu Papa yang datang berkunjung ke rumah awal Agustus lalu. Saya tidak bisa menyebutkan pembicaraan kami sebagai wawancara sebab kami berbincang-bincang tidak lebih dari 30 menit dan saya tidak menanyakan kesediaannya untuk diwawancarai. Dia adalah pengiring wanita ketika Mama menikah. Sejak tahun 1999 pindah ke Canada. Saya juga sempat berbincang dengan keponakannya~yang enam tahun lebih muda dari saya. Dua tahun lalu, dia bersama seluruh keluarganya masih tinggal di sebuah kompleks ruko bilangan jalan Gunung Latimojong. Hingga pada suatu hari kami mendapat telepon dari Papanya yang mengabarkan kepindahan mereka sekeluarga ke Amerika Serikat. Sekarang, mereka tinggal di New Jersey.
Saya tertarik dengan cerita-cerita Sieau Fong, demikian namanya. Saya menanyainya apakah dia kesulitan berbahasa ketika pertama kali tinggal di Amerika? Sieau Fong menjawab malu-malu, ya. Apakah dia pernah mengalami perlakuan buruk dari teman-teman barunya di sekolah? Sieau Fong menjawab, tidak. Syukurlah, kata saya. Sebelumnya sebuah peristiwa Bullying berkelabat di benak saya.
***
MEMASUKI AGUSTUS ini seisi penghuni rumah seolah-olah mendapat giliran sakit. Mula-mula Ali. Lalu Papa, Mama dan saya sendiri. Kecuali Nenek. Nenek baik-baik saja walau mengeluhkan kakinya rematik.
Sakit kami seputar flu dan pilek. Saya terserang cukup parah. Obat-obat analgesic, antihistamin sampai antibiotic tidak banyak menolong. Virus flu ini mengamuk minta waktu inkubinasi. Menggelitik hidung, menyakiti tenggorokan hingga merampas suaraku. Jatah libur hari kemerdekaan yang cuma dua hari ditambah menjadi tiga hari. Tapi tidak banyak yang bisa diperbuat. Tahun-tahun lalu setiap 17 Agustus kami sekeluarga pasti keluar naik mobil untuk berkeliling dari pagi hingga sore. Biasanya kami berlabuh selama dua jam di mall dan makan siang di Rumah Makan Seafood Apong di Jalan Diponegoro. Waktu itu Nenek belum tinggal bersama kami.
Kemarin dulu, Tante terkecil, adik bungsu Mama datang menemput Nenek untuk menginap di rumahnya selama dua hari. Hari Minggu kemarin saya isi dengan membantu Mama memasak, menyiapkan hidangan sesajen untuk menyembahyangi Aye – Kakek dari pihak Ayah. 17 Agustus hari Minggu kemarin bertepatan dengan hari kematian Aye. Malamnya Papa mengajak kami berkeliling dengan mobil. Hanya berkeliling. Papa berharap melihat pemandangan kota yang bermandikan cahaya dari lampu-lampu hias yang dipasang di gedung-gedung dan kantor-kantor pemerintah. Tapi rupanya tahun ini tidak seperti harapan Ayah. Sebagian gedung dan kantor di jalan protokol itu tampak seperti malam-malam pada hari biasa. Sunyi. Gelap.
Pagi tadi Papa kembali mengajak kami keluar jalan-jalan. Kali ini ke anjungan pantai Losari. Sumpah, semenjak anjungan ini mulai dibuka untuk umum, baru sekali ini saya mengunjunginya. Sayangnya, baru beberapa tahun usianya, kondisinya sudah seperti tempat tua. Besi-besi pagar yang menghadap ke laut catnya mengelupas, bahkan ada yang sudah patah tapi tidak diperbaiki. Sampah bertebaran di selokan-selokan, pedagang kaki lima tampak satu-dua. Mama minta difoto pada beberapa view yang menurutnya, berpemandangan indah. Ali memotret. Papa berjalan melihat-lihat. Saya duduk di tepi anjungan, membaca.
Kami kira-kira ada 30 menit di sana. Sehabis itu Mama minta diantar ke Pasar Sentral buat membeli daging sapi. Ali kemudian bilang kalau dia mau mentraktir kami semua makan Wun Hun Mien – pangsit mi,di jalan Sangir. Porsinya cukup besar. Sejak memakannya jam sembilan pagi tadi sampai sore jam empat sekarang, perut masih terasa kenyang.
Kami tiba di rumah jam sembilan lewat lima belas menit. Papa kembali ke bengkel. Saya berbenah. Mama mencuci. Jam sepuluh Ali pamit ke warnet dan baru pulang jam tiga tadi. Lima belas menit setelah Ali pergi, Nenek pulang.
***
LALU APA SAJA yang dilakukan penulis yang kehilangan mood ini selama sebulan?
Biasa. Pergi kantor pagi, pulangnya petang~kadang-kadang malam. Mengerjakan tugas-tugas rutin dan membaca.
Membaca? Ya. Membaca. Apalagi yang bisa dilakukan seorang penulis yang akinya mulai soak selain membaca? Tiga minggu terakhir saya merampungkan buku Dave Pelzer yang berkisah seputar child abuse. Dilanjutkan tiga buku Torey Hayden. Dua diantaranya adalah kisah tentang Sheila. Tapi menurut saya, terbaik itu Murid Istimewa, yang versi Inggris diberi judul Just Another Kid.
Buku itu berkisah tentang kelas terakhir yang Torey ajar sebelum dia berhenti menjadi guru. Murid Torey ada enam. Seorang gadis autis, dua anak dengan kelainan seksual dan tiga anak korban perang dari Irlandia. Torey juga punya murid lain~yang masalahnya tak kalah seriusnya dengan keenam murid ciliknya. Dia adalah Ladbrooke, asisten sukarelawan yang berusia tiga puluh dua tahun. Seorang dokter Fisika. Cantik. Pintar. Gugup. Pemabuk.
Dan ada sebuah buku lagi. Inilah buku terdahsyat yang baru saya baca saat ini. Judulnya: A Thousand Splendid Suns.
***
A THOUSAND SPLENDID SUNS sebenarnya bercerita tentang dua orang wanita: Mariam dan Laila, dua-duanya adalah istri Rasheed, seorang pembuat sepatu di Kabul, Afghanistan.
Meski berkisah tentang dua wanita, saya lebih tertarik dengan figur Mariam yang oleh Khaled Hosseini digambarkan kalem, penurut, menerima begitu saja segala perlakuan tidak adil terhadap dirinya.
Mariam seorang harami – anak haram, hasil hubungan gelap seorang pria kaya di kota Heart bernama Jalil dengan pembantunya, Nana. Entah karena enggan menikahi Nana yang berpenyakit aneh atau memang karena desakan dari ketiga istrinya, Jalil mengungsikan Nana dan Mariam di luar kota dan hanya mengunjungi mereka setiap Kamis.
Mariam pun dibesarkan oleh dua cerita. Satu versi Ayah, satu lagi versi Ibu. Keduanya selalu bertolak belakang. Namun pada setiap kesimpulan, Mariam selalu menganggap kisah Jalil-lah yang benar. Mariam sangat mengagumi Ayahnya meski sang Ibu selalu mencerokinya dengan perkataan yang menumbuhkan perasaan bersalah.
Lalu tibalah hari dimana semua tragedi berawal. Menjelang hari ulang tahunnya yang kelima belas, Mariam mengunjungi rumah Ayahnya di Herat untuk pertama kalinya. Ini dilakukannya diam-diam sebab jika Nana tahu, dia pasti akan melarangnya pergi.
Sesampainya di rumah itu, yang menemuinya hanyalah seorang supir. “ Jalil Khan tidak ada di rumah,” katanya. Dan Mariam memutuskan untuk tetap menunggu. Dia tidur di luar rumah tersebut, baru terbangun keesokan harinya ketika si supir mengguncang bahunya. “Akan kuantar kau pulang. Ini perintah dari Jalil Khan!”
Tapi sebelum Mariam masuk ke dalam mobil, terlebih dahulu dia melesat masuk ke dalam pekarangan rumah Jalil, menyaksikan hamparan taman yang indah serta gedung berlantai dua. Dan secara tidak sengaja Mariam melihat seorang pria di lantai dua, yang juga sedang memandangnya lalu cepat-cepat menutup tirai jendela. Pria itu Jalil.
Sepanjang perjalanan pulangnya Mariam tak hentinya menangis. Dia bukan hanya menangis karena Ayahnya tega membiarkannya tidur di luar rumahnya. Perkataan Nana selama ini benar. Ayahnya pembohong. Semua cerita versi Jalil selama ini adalah bohong. Dan kesedihan seolah belum berhenti sampai di sini. Sesampainya di rumah, Mariam menemukan Nana tewas gantung diri.
***
PADA salah satu bagian bola bumi ini, ada tempat dimana anak-anak perempuan yang sudah susah payah disekolahkan oleh orang tuanya, ternyata menyia-nyiakan kesempatan itu. Mereka ke sekolah tidak untuk belajar tetapi untuk bergosip, berlomba-lomba memamerkan aksesori terbaru dan termahal, memikirkan bagaimana mengikuti audisi atau masuk agensi yang akan mempopulerkan nama mereka sebagai bintang. Di belahan bumi lain, anak-anak perempuan harus meredam keinginan mereka untuk sekolah~entah itu karena dilarang oleh orang tua, keluarga, adat, agama, hukum atau pemerintah.
Pada bagian bumi ini, terdapat pula wanita-wanita yang begitu mudah bercerai dari suaminya hanya dengan alasan, “Kami sudah tak cocok lagi…” Sedangkan di bagian lain bumi, ada banyak wanita yang tetap hidup bersama suaminya selama bertahun-tahun meski dia telah dihina, dipukul, disakiti baik secara fisik dan psikis tanpa bisa mengumamkan kata cerai karena dilarang oleh adat, agama atau pemerintah.
Mariam tinggal bersama Jalil sepeninggal Nana. Tapi itu hanya tujuh hari. Seminggu kemudian Mariam dipanggil menghadap Jalil dan ketiga istrinya. Hosseini piawai sekali mendeskripsikan adegan ini. Mariam duduk di hadapan keempat orang itu menunggu vonis. Besok, Mariam akan dinikahkan dengan seorang duda yang tinggal di Kabul, 650 km jauhnya dari Herat. Rasheed namanya. Usianya tiga kali lipat umur Mariam.
Kebencian Mariam terhadap Jalil mulai memuncak ketika dilihatnya Jalil diam saja sementara ketiga istrinya terus mencecar Mariam. Mariam juga tahu. Bahwa dua saudari tirinya yang lain, yang juga sebaya dengannya saat itu tengah belajar di sekolah. Belum dinikahkan seperti dirinya. Masa depan cerah seolah menanti mereka.
Mariam menikahi Rasheed dengan terpaksa. Dia ikut pindah bersama suaminya ke Kabul. Awalnya Rasheed memperlakukan Mariam dengan baik. Lalu, ketika Mariam menunjukkan ketidak mampuannya dalam mengandung dan melahirkan anak, Rasheed mulai kasar padanya. Dia tidak segan menghina Mariam, memukulnya, membuat wanita itu ketakutan setengah mati. Dan setelah delapan belas tahun menikahi Mariam tanpa keturunan, Rasheed mengambil seorang istri lagi. Gadis cantik bekas tetangga mereka yang bernama Laila.
***
HOSSEINI menggambarkan kisah istri tua dan madunya ini dengan manusiawi sekali.
Awalnya mereka bertengkar. Selalu berselisih. Pemicunya Mariam yang merasa cemburu dan menuduh Laila telah mencuri suaminya. Lalu perlahan-lahan, diantara kedua wanita itu terjalin pemahaman yang luar biasa besarnya. Mariam yang semula hidup dalam gulita karena merasa dirinya ibarat gulma yang tidak dikehendaki oleh siapapun, mendadak merasakan ribuan matahari menyinari hatinya. Akhirnya, Mariam diberi juga kesempatan untuk menjadi seorang teman, saudara serta ibu.
Tidak salah kalau buku ini terpilih menjadi New York Times Bestseller. Pada bagian belakang sampulnya London Times menulis, “Sebuah cerita fiksi yang cemerlang, diprediksi akan lebih memberikan pengaruh luar biasa kepada pembaca dibandingkan The Kite Runner.”
*Kite Runner adalah novel perdana Khaled Hosseini yang telah terjual sebanyak 8 juta kopi. Hosseini seorang dokter dan masih berpraktek hingga sekarang. Dia tinggal di San Jose, California, Amerika Serikat. Situs resminya di: www.khaledhosseini.com

dedy berkata
semi-ulasan yang cantik. Dikatakan semi-ulasan, Merlin juga memasukkan unsur subjetifitasnya di sana. Terkhusus pada bagian saat Merlin membandingkan nasib dan keadaan kaum perempuan di beberapa belahan bumi. Tapi itu yang membuat tulisan ini menarik:
…Di belahan bumi lain, anak-anak perempuan harus meredam keinginan mereka untuk sekolah~entah itu karena dilarang oleh orang tua, keluarga, adat, agama, hukum atau pemerintah.
Saya juga ingin mengutip satu novel-surealis Indonesia, Cala Ibi, karangan Nukila Amal, tentang perempuan: “Jika kau lupa jenis kelaminmu, cobalah jalan-jalan atau naik bis kota. Ketika kau merasa bahwa tubuhmu bukan milikmu, maka kau adalah perempuan.”
evy jacc berkata
hei …ces….apa kareba….baji ki”….
baru skarang nee…baca blog na cie lina…cz…sibukkkk abiz…tp toko komputer lg sepi abizzzz….
emang knapa mood lg turun????? mudah2an deh…smua na baek…sa tunggu tulisan na..
evy berkata
hei…apa kareba…sorry baru saat ini baca blog na cie lina
knapa mood lg turun..sa tunggu ni tulisan na cie lina
dedywiths berkata
hebat…….. udah sibuk gitu tiap hari di toko…. tp masih ada waktu ngetik2 lagi :p terus berkarya yha… sapa tau tiba2 sukses dari tulisan ce Lina
Orang edank berkata
Samaji di bilang tiga kali menulis dalam sebulan…
haerulsohib berkata
buku yang memang luar biasa, kisah-kisah elegan membuat kita larut.
Salam kenal, terimakasih sudah koment di blogku. ternyata kita sama-sama dari makassar. Apa kareba….Ewako,,,heheheh
Tobucil berkata
Lho, bergaul dengan toko2 juga, ya, Mbak ? Kita juga toko, lho … toko yang bisa blogwalking =D