Tanjung Banoa-Bali, 26 November 2008
Dibanding bulan-bulan lalu, frekuensi online internet saya untuk bulan ini jauh lebih sedikit. November ini bisa dibilang bulan yang padat kegiatan. Saya hanya online seperlunya di kantor. Sepulang di rumah tidak lagi.
Pertengahan November (12-16) ada pameran Makassar Computer Expo di Celebes Convention Centre, Tanjung Bunga yang berlangsung dari pagi jam sembilan hingga malam jam sepuluh. Selama lima hari itu, sesampainya di rumah saya sudah lelah dan tidak sempat mengecek email. Alhasil, ketika saya mengecek kotak surat minggu berikutnya, ada 200 surat yang menunggu dibaca di yahoo.
Alasan berikut kenapa saya ‘malas’ online di rumah belakangan adalah karena Jewel In The Palace ( Dae Jang Deum ). Dua minggu terakhir, saya rajin mengikuti serialnya lewat dvd yang dipinjamkan oleh salah seorang sepupu. Memang sinema elektronik dari negeri gingseng ini sudah pernah tayang di Indosiar – bahkan sampai diulang dua kali. Tapi pada dua-dua kesempatan itu pula saya tidak pernah bisa menyaksikan dengan baik. Ini merupakan salah satu serial terpanjang yang sudi saya tonton. Ceritanya menarik. Meski ide dasarnya sebetulnya sederhana, tapi banyak pelajaran moral yang bisa dipetik, disamping tentu saja kita jadi lebih mengenal tentang adat-istiadat serta kebudayaan Korea.
Lalu pada tanggal 26 – 28 November kemarin saya berangkat ke Bali dalam rangka promo LCD Monitor ACER. Ini kali kedua saya mengunjungi pulau dewata. Sebelumnya, tahun lalu pada pertengahan Maret, saya juga berkunjung ke sana selama tiga hari.
***
Saya selalu senang berkunjung ke Bali. Bali seperti second home saya. Mungkin karena ada beberapa keluarga yang tinggal di sana. Mungkin karena suasana dan lingkungannya membuat kita merasa aman dan nyaman. Entahlah. Tapi jika disuruh memilih tempat tinggal lain setelah Makassar untuk dihuni, saya akan memilih Bali.
Mengangkat penyu di Pulau Penyu
Bapak Anwardie dan Ibu Farida Massiang. “Jinak ji ini elangnya?”-Jinak, selama tidak mematuk. Hehe..
Saya berangkat bersama rombongan Anta Tour. Total seluruhnya dua puluh lima orang. Sebagian besar berasal dari Makassar. Sisanya dari Kendari dan Gorontalo. Suasananya hangat dan akrab. Kami berangkat sekitar pukul setengah sepuluh dari Bandara International Hasanuddin ( Ini kali pertama saya masuk ke bandara baru. Ketika ke Jakarta bulan July kemarin, saya masih melalui bandara lama Mandai). Kmi tiba di Bandara Ngurah Rai sekitar pukul setengah sebelas. Langsung diajak makan malam ke rumah makan Pasundan di daerah Tuban. Sehabis itu kami diajak ke Tanjung Banoa. Saya hanya mau naik motorboat ke Pulau Penyu. Tapi ogah mengikuti olahraga air seperti banana boat, parasailing, speed boat dan sebagainya. Kami di sana sampai kira-kira jam tiga sore. Sehabis itu kami dibawa ke Garuda Wisnu Kencana (GWK).
Dalam perjalanan menuju GWK kami melewati daerah kampus Udayana, kampus terbesar di Pulau Bali. Kembali soal GWK, menurut pemandu lokal kami Bapak Wayan Londra, rencananya patung tersebut akan menjadi patung yang letaknya tertinggi di dunia, bahkan melebihi patung Liberty ( Oh ya? ). Untuk sampai ke GWK kita harus mendaki anak-anak tangga yang tidak main-main jumlahnya.
Sehabis dari GWK, kami diajak ke Uluwatu untuk melihat pura paling selatan di Bali. Pura tersebut berdiri di atas tebing dan di bawahnya terhampar samudra Hindia yang luas tanpa pulau-pulau penghalang seperti Kahyangan, Samalona atau Lae-Lae di Losarinya Makassar. Di bawah tebing ombak laut memukul-mukul karang. Buihnya putih dan bergulung-gulung.
Batu karang dan Samudra Hundia dari atas Pura Uluwatu
Karena sudah sore, angin bertiup kencang sekali selama kunjungan kami di Uluwatu. Saya tidak berjalan terlalu jauh sampai masuk ke dalam pura karena khawatir ’bertemu’ dengan monyet-monyet penghuni pura. Di Uluwatu ini memang ada banyak monyet yang hidup bebas. Sebelum masuk, Pak Wayan sudah mengingatkan kami agar melepas segala bentuk perhiasan seperti kalung, anting, gelang, jam tangan bahkan kacamata. Sering ada kejadian dimana monyet-monyet tersebut menarik barang-barang pengunjung kemudian membawanya kabur atau bahkan meremukkannya. Saya tentu berpikir tentang kacamata minus yang saya kenakan. Jika saya lepas, saya tidak dapat melihat jelas. Wah, daripada beresiko disambar monyet, mending saya lekas kembali ke bis. Setelah semua rombongan kembali berkumpul dalam bis, saya mendengar dri salah satu peserta kalau tadi mereka sempat mellihat seekor monyet yang berhasil menarik kacamata seorang turis Jepang. Untungnya monyet itu mau mengembalikan setelah negosiasi dengan iming-iming pisang berhasil.
***
Kami makan malam pada hari pertama itu di Jimbaran. Tepatnya di restoran sea food Furama. Rencananya kami makan malam di ruang terbuka sambil menikmati sunset. Angin kembali bertiup kencang di sini sehingga membatalkan rencana tersbut. Saya mulai merasa masuk angin. Musuh utama saya kalau berpergian seperti ini adalah angin. Badan mulai erasa meriang dan kepala pening. Sehabis makan malam kami semua dibawa menuju hotel Ramayana di Kuta. Sesampainya di kamar saya olangsung mandi air hangat, mengoles minyak kayu putih dan minum obat sakit perut
. Sekitar setengah jam kemudian, kondisi saya serasa membaik. Dan saya mengikuti ’tantangan’ salah seorang teman yang mengajak keluar malam jalan kaki berkeliling Kuta.
Karena kedatangan saya ke Bali kali ini tanpa perberitahuan sebelumnya, jadilah sepupu-sepupu saya pada kaget. ”Kok nggak bilang-bilang sebelumnya?” Saya jawab ya, karena cuma tiga hari, ngapain juga perlu ngelapor dulu? Alhasil, karena ini sifatnya mendadak, mereka tak bisa menemui saya malam di hari pertama itu. Tidak mengapa, malam itu saya tetap berkeliling Kuta bersama enam teman yang lain. Kami sempat singgah di warung Made ( yang katanya sering dijadikan tempat jumpa pers selebriti jika berada di Bali ). Sebelum kami masuk kembali ke kamar masing-masing, saya singgah ke sebuah minimarket. Membeli sekaleng Fanta dan sebotol besar Aqua. Saya minum Fanta itu begitu tiba di kamar dan tak lama sesudahnya saya tidur pulas sampai pagi.
***
Baru kali ini saya bisa tidur nyenyak di tempat yang jauh dari rumah. Biasanya kalau ganti tempat, mata sulit terpejam atau biasanya cuma tidur-tidur ayam. Keesokan harinya setelah bangun badan terasa segar dan setelah sarapan kami pun siap berangkat.
Tujuan pertama kami di hari kedua adalah menuju desa Galuh di Kabupaten Gianyar menonton tari Barong. Pertunjukan sudah berlangsung lima belas menit ketika kami sampai. Cerita tari barong kali ini dikutip dari salah satu bagian kisah Mahabharata. Dewi Kunti dalam perjalanana menemui salah satu patihnya dirasuki roh jahat sehingga memberikan putra bungsunya, Sadewa untuk disandera oleh patih tersebut. Dialog dalam tarian menggunakan bahasa Bali tapi secara keseluruhan tarian ini masih bisa dinikmati. Ending ceritanya seperti semua kisah dalam tari Barong Bali. Bukan dengan menyelipkan angpao ke mulut barong… ( emangnya barongsai ? hehe.. ). Tapi lebih kepada sebuah pembelajaran tentang adanya dua kekuatan di dunia ini yang saling bertolak belakang namun juga saling membutuhkan. Pada akhirnya tidak ada satu dari kekuatan itu yang dominan. Mereka terus ada dan tetap saling menyeimbangkan.
Tari Barong. (Barongnya kejauhan deh..,
)
Selepas dari Galuh kami dibawa menuju Kintamani yang terkenal dengan danau dan gunung Baturnya. Perjalanan ke sana memakan waktu sekitar satu setengah jam. Dalam perjalanan tersebut, masih di kawasan Gianyar, saya sempat melihat sebuah rumah besar berpagar putih tertutup rapat. Tapi di depan pagar tersebut berdiri selusinan orang membawa kamera dan terus melongokkan kepala ke arah dalam. Mereka sepertinya wartawan. Ada apa gerangan? Mungkinkah rumah itu sedang dihuni salah satu selebritis atau politikus incaran para kuli disket?
***
Kintamani berarti ’Cinta yang tulus’. Menurut Pak Nyoman, guide lokal kami yang pada hari kedua itu mengenakan pakaian khas Bali udeng dan sarung, nama Kintamani berasal dari sebuah kisah romantis beberapa abad yang lalu.
Alkisah ada seorang raja di Bali jatuh cinta dengan seorang gadis China bernama Kang Cingwi. Demi cintanya yang besar terhadap gadis itu, Raja rela turun tahta dari singgasananya karena para menterinya tidak menyetujui pernikahan tersebut. Jadilah ex Raja ini dan Kang Cingwi menyepi di sebuah tempat di daerah pinggiran Danau Batur usai menikah. Mereka hidup bahagia dan keturunan mereka hidup di daerah yang kini dinamai Kintamani itu.
Ketika kami sampai di Kintamani waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Ini kali kedua saya mengunjungi Kintamani. Setahun yang lalu museum vulkanologinya belum selesai. Tapi kunjungan kedua kali ini juga tidak membuat saya bisa berlama-lama melihat keindahan Danau dan Gunung Batur. Hujan deras menyambut kedatangan rombongan kami disertai kabut tebal yang menghalangi pandangan. Hujan dan halimun berhenti sesaat saja. Ketika kami hendak meninggalkan Kintamani, hujan dan kabut tebal kembali mengguyur.
Sampai di sini, rencana berubah. Semula rombongan hendak dibawa ke Tampaksiring. Tapi karena mayoritas memilih ke Sukawati untuk berbelanja, arah bis pun berubah menuju Ubud. Kira-kira sejam dari Kintamani kami tiba di Pasar Sukawati dua atau dengan nama lain Pasar Guang. Di sini kita bisa berbelanja souvenir-souvenir khas Bali dengan harga miring. Bahkan kita bisa tawar-menawar dengan para pedagang seperti di Pasar Sentral – Makassar. Karena yang pergi dalam tur kali ini semuanya adalah pedagang komputer, bisa dibayangkan alotnya tawar-menawar berlangsung?
***
Setelah dari Sukawati, rombongan kami dibawa menuju Kuta kembali. Kali ini mengunjungi Joger. Kalau hari gini pembaca belum tahu apa itu Joger, aduuuh, cape deh… Sebagian besar anggota rombongan turun dan kembali berbelanja di sini. Saya memutuskan tidak ikut. Bersama empat anggota rombongan lainnya, kami memutuskan kembali ke hotel untuk mandi dan beristirahat sejenak. Setelah itu kami menyusul rombongan lainnya menuju restoran Selera Kuring di Sunset Road untuk makan malam.
Malam itu usai kembali ke hotel acara bebas sampai besok jam 11. Malam itulah salah seorang sepupu, Cie Wiwi dan suaminya, Ko Theo datang berkunjung. Mereka mengajak saya makan (lagi) di salah satu restoran dekat dari hotel. Ketika duduk, Cie Wie sengaja memilih tempat khusus buat saya.
“ Lihat di depan sana Lina,” katanya setelah saya duduk.” Itu hotel Kuta Paradiso tempat kamu menginap ketika pertama kali ke Bali tahun lalu.”
***
Keesokan paginya karena acara bebas saya mengunjungi Klenteng Kuta yang letaknya lima belas menit jalan kaki dari hotel.
Entah karena kebetulan atau apa, hari itu ternyata bertepatan dengan tanggal satu Imlek. Kondisi klenteng bersih dan terpelihara baik. Karena hari itu bertepatan dengan tanggal satu Imlek, ada banyak pengunjung (mayoritas warga Tionghoa di Bali) yang datang dengan membawa sesajen.
Salah satu sudut klenteng Kuta
Sekembalinya ke hotel, saya mengikuti beberapa teman untuk mengunjungi Centro, mal terbesar di Kuta. Jaraknya juga kurang lebih lima belas menit dari hotel. Waktu kami tiba, Centro baru buka. Gerai-gerai dalamnya masih sementara berbenah. Kondisinya hampir samalah dengan semua mal yang ada di Makassar. Hanya saja barang-barangnya lebih bervariasi dan berkelas dengan harga-harga yang hm, hm, hm…
Berpose di Centro dengan latar belakang Pantai Kuta
Kami semua akhirnya meninggalkan hotel dan menuju bandara pada pukul setengah dua belas siang. Sesampainya di bandara, pemeriksaan sangat ketat. Kita harus melewati sekurang-kurangnya dua pintu detektor sebelum masuk ke ruang tunggu. Ketika hendak naik ke pesawat pun harus ada pemeriksaan KTP segala.
Karena selama tiga hari tidak perbah menyentuh surat kabar, televisi, atau pun internet, sesampainya di Makassar saya baru tahu kalau teroris menyerang belasan tempat di Mumbai – India, Rabu 26 November. Mereka juga menyandera ratusan orang. Di hotel Oberoi, di antara ratusan sandera terdapat lima orang warganegara Indonesia asal Bali. Salah satunya rumahnya terlacak di Kabupaten Gianyar. Jangan-jangan, rumah berpagar putih di Gianyar yang saya lihat dikerubungi lusinan wartawan kemarin itu…



R 1 NA berkata
Wah, asyik ya ka’. Kegiatanx buanyak buanget.. Btw foto2x nyusul ya..
merlinherlina berkata
Oke Rina, foto-fotonya sudah kumuat tuh.
Kurnia berkata
Asiknya yang dah pernah ke Bali … 2x lagi… hiks.. jadi pengen…
But keliatannya di hal-hal yang menurut k nia seru, seperti banana boat dkk or liat monyet dkk, kok Lina malah g ikutan… hehehe.. kalo k nia, semua dah pasti pengen dicoba hehehe… btw, kalo itu acaranya ACER kok malah g ada liputan tentang pertemuan ACER nya ? or kelewatan bacanya ya.. ?
Budi berkata
sebagai catatan perjalanan pastilah tulisan ini sangat menarik!!! saya justru penasaran dengan tujuan utama ke Bali seperti apa sih teknologi terbaru dari ACER…
Hasan berkata
Mba’, bali itu dimana seh….. jadi pengen saya kesana
Mau makan penyu boleh kan mba
besse eka berkata
kak merlin ada PR buat kakak di Blog-ku ok…met mengerjakannya
jafar berkata
menarik sekali perjalanannya Mba Lin? aku penasaran dengan ilmu tentang LCD Acer, kalo bisa disharing juga donk ilmunya.
thanks before.
R 1 NA berkata
nah… gitu dong… gambarnya sudah ada… biar lebih asik lagi bacanya.. heheee