Yin Li Zai Wo De Jia

Yin Li Zai Wo De Jia.

Imlek di rumahku.

Bagi keluargaku, menyambut Imlek tidak dimulai dari tujuh hari sebelum perayaan tersebut tiba.

Mama bukan tipe ibu rumah tangga yang gemar melakukan banyak hal dalam tempo bersamaan. “Kalau kalian bisa merasa letih usai bekerja seharian, saya pun demikian,” katanya. “Mana mungkin kita bisa bersih-bersih, mengganti gorden, menggantung hiasan, pergi belanja hingga urusan masak-memasak dikerjakan hanya dalam waktu satu-dua hari?”


Mama lebih senang mencicil pekerjaannya. Termasuk dalam menyambut Imlek. Untuk Imlek tahun 2009 ini, Mama sudah start sejak Desember tahun lalu. Pada tanggal 14 Desember-tepat hari Minggu, Mama meminta Papa bersama pembantu lamanya: Gassing untuk membersihkan pintu. Kami sudah lebih sepuluh tahun tinggal di ruko (rumah toko) yang hanya memiliki satu pintu accordion. Dan setiap Imlek, Papa beserta Gassing melap pintu itu luar dalam. Melumuri setiap engselnya dengan oli dan mengetesnya buka-tutup berulang kali hingga yakin tidak mendengar bunyi mendecit. Kedua orang tuaku percaya kalau rejeki sebuah rumah berawal dari suara pintu yang tidak berdebum atau mendecit ketika digunakan.

Tidak ada ritual sapu-sapu alias mengecat rumah setiap kali menjelang Imlek. Seingatku, tembok bagian dalam rumah baru dua kali dicat. Alasan Papa enggan mengecat rumah karena menurutnya pekerjaan itu cukup melelahkan. Lagipula Mama bukan orang yang jika memasak, asap dan jelaganya memenuhi seisi rumah. Itu sebabnya tembok rumah kami masih bisa dibilang ‘bersih’.

Begitu juga dengan pintu. Seingatku Papa baru mengecatnya dua kali. Selalu dengan warna coklat. Itupun tidak dilakukan pada saat menjelang Imlek. Mengecat pintu selalu pada bulan Juli atau Agustus. Kalau menjelang Imlek, pasti bertepatan dengan musim hujan sehingga cat sulit kering. Selain itu, rumah kami menghadap lapangan ex tempat parkir bioskop yang telah roboh. Pada pagi atau sore, lapangan itu biasa digunakan mulai dari anak-anak hingga orang dewasa untuk bermain bola kaki. Sayang kan, kalau pintu baru saja dicat, ditempeli jejak lumpur bekas tendangan bola.

***

“Kalian jangan sekali-kali buat keributan pada hari ini. Hari ini adalah perayaan Hiak Yuan-makan onde.”

Mama megatakan hal tersebut kepadaku dan adikku, Ali, seminggu setelah Papa dan Gassing membersihkan pintu yakni pada minggu pagi tanggal 21 Desember. Aku dan Ali memang suka berdebat. Terkadang kami berdebat hingga pertengkaran tak terelakkan karena masing-masing enggan mengalah.

Menurut Mama, perayaan Dong Zhi atau lebih dikenal dengan perayaan Hiak Yuan dalam bahasa Kuangtong, merupakan hari yang sangat penting. Bahkan maknanya melebihi Imlek. Bulatan-bulatan tepung ketan melambangkan keluarga yang bersatu pada hari itu. Maka pada hari tersebut tidak boleh ada keributan. Dong Zhi merupakan perayaan terakhir dalam kalender lunar Tionghoa. Sehabis Dong Zhi, orang-orang Tionghoa tinggal menunggu satu perayaan besar yakni Imlek, yang datang sebulan kemudian.

Sejak kecil, aku tidak pernah melihat Mama bangun pada subuh untuk membuat onde. Sehari sebelum Hiak Yuan, usai makan malam Mama mulai mengeluarkan bahan-bahan membuat onde-ondenya. Dua bungkus tepung Rose Brand, sebuah baskom hijau berdiameter tiga puluh sentimeter, serta dua nampan besar berdiameter lima puluh sentimeter. Mama memasukkan tepung kedalam baskom hijau, lalu menuangkan air. Tak pernah ada resep khusus dalam membuat onde. Mama tidak pernah melihat catatan. Dia hanya mengandalkan feeling saja. Mama menguleni tepung, membantingnya. Ketika merasa kekenyalan tepung itu sudah cukup, dia mulai memilin lalu mencubit-cubitnya menjadi bongkahan-bongkahan kecil. Setelah itu, cubitan adonan tersebut siap digulung dengan kedua telapak tangan menjadi bola-bola kecil berdiameter sekitar 1.5 sentimeter.

Dulu, aku dan Ali yang bertugas menggulung cubitan-cubitan itu. Bagi kami, ini mengasyikkan. Kadang-kadang aku dan Ali bermain-main sebentar dengan cubitan adonan. Menggulung lalu menekan tengahnya mirip topi, memipihkannya atau menempelkannya dengan gulungan onde lain hingga menyerupai missetotle mini. Aku dan Ali akan terkikik-kikik melihat adonan siapa yang paling konyol. Kami baru akan berhenti jika Mama marah,”Hei! Itu bukan untuk mainan!”

Kini, setelah dewasa dan bekerja, aku sering lembur pada bulan Desember. Beberapa tahun terakhir aku sering melewatkan saat-saat Mama membuat onde. Ali masih sering membantu Mama menggulung adonan cubit. Tapi dia sudah tak bisa berkelakar seperti dulu lagi karena posisiku diganti Papa. Papa ingin proses pembuatan onde cepat selesai agar Mama lekas beristirahat. Dia tak segan-segan menegur Ali jika adikku itu membuang-buang waktu bereksperimen dengan adonannya. Sedangkan tugasku dalam pembuatan penganan ini hanya pada bagian akhir, yakni mencuci wadah-wadah kotor.

Mama sering bercerita. Pada tahun pertama menikah dengan Papa, Mama melihat Ibu Mertuanya, Pho Pho-ku, bangun pada jam dua dini hari untuk membuat onde. Dengan mata terkantuk-kantuk Pho Pho membuat onde tanpa dibantu siapapun. “Saya sudah biasa bikin ini sendiri,” begitu kata Pho Pho sewaktu Mama tanya mengapa dia tak membiarkan menantu-menantu perempuannya membantu.

“Sebenarnya tak usah membuat pada jam segini. Selesai makan malam tadi sebenarnya sudah bisa. Di rumah orang tuaku dulu begitu, Gei Gen,” kata Mama.

“Keesokan harinya tidak busuk?”

“Tidak. Cuaca kan dingin, jadi onde yang sudah jadi tidak khawatir membusuk. Besok pagi, kita tinggal memasak air dengan gula merah dan seruas jahe. Onde-onde ini pun cukup direbus ke dalam air panas mendidih. Setelah ia mengapung ke atas, segera kita angkat dan masukkan ke dalam air gula merah tadi.”

Tahun berikut dan seterusnya, Pho Pho memakai saran Mama sewaktu membuat onde.

Pada hari Hiak Yuan, Mama bangun jam enam, memasak bulatan-bulatan onde yang diletakkan dalam dua nampan besar dan ditutup di atas meja makan pada malam sebelumnya. Sambil menunggu air gula merahnya matang, Mama mengeluarkan mangkuk-mangkuk dan sendok-sendok bebek. Jumlahnya ada dua puluh dua pasang. Onde-onde yang sudah masak diletakkan ke dalam mangkuk-mangkuk itu beserta kuah gula merahnya. Lalu semuanya diletakkan ke empat altar yang ada di rumah kami: dua belas di altar Dewa-Dewa Langit, satu di altar Dewa Dapur, tiga di altar Dewa Tanah dan enam di altar leluhur. Pagi di hari Hiak Yuan, sarapanku ya, onde-onde itu.

Mamaku tidak pernah menceritakan mengapa kami orang Tionghoa harus makan onde pada tanggal 22 Desember. Aku mencari tahu sendiri. Dari beberapa buku yang pernah kubaca, tradisi Hiak Yuan sudah dilakukan orang Tionghoa sejak ribuan tahun lalu. Anehnya, tidak seperti sebagian perayaan Tionghoa lain yang memakai penanggalan Lunar, Hiak Yuan ditetapkan berdasarkan penanggalan Masehi sama seperti Qing Ming di bulan April. Anehnya lagi, Hiak Yuan tidak melulu dirayakan pada 22 Desember. Ini masih menimbulkan tanda tanya bagiku. Pada tahun-tahun tertentu, ia dirayakan pada 21 Desember-seperti tahun 2008 kemarin. Selain pengetahuan lainku bahwa Hiak Yuan juga ditetapkan pada hari yang sama dengan winter solstice, selebihnya aku tak tahu apa-apa lagi.

& Komentar »

  1. Jef berkata

    seharusnya Mba Lina jago bikin onde2. Onde2 yang mana ya. Tradisi orang bugis terkenal juga kue onde2. setiap ada hajatan selalu ada onde2. Seperti orang yang mau bepergian biasanya ada acara makan onde2 sebelum berangkat. kue onde kalau masak selalu berada diatas. Sehingga dipercaya kalau orang bepergian (berlayar) kapalnya selalu terapung. Terus dipercaya bisa menjadi pemimpin atau selalu menjadi atasan seperti hal sifat onde2 yang selalu ada di atas permukaan air kalau masak.

    Jafar

  2. dedy berkata

    makan, makan, makan. yah, inilah sebetulnya kebutuhan mendasar manusia. kebutuhan akan hal-hal kebatinan biasanya baru terpikirkan setelah kebutuhan mendasar itu terpenuhi. tapi, tesa di atas bukanlah kebenaran tunggal. namun, sebagian besar orang baru bisa berpikir tentang hal-hal spritualitas setelah perut terpenuhi.
    ah, mengapa juga aku membuka komentar tulisan ini dengan gugatan filsafati seperti di atas? mungkin karena saya teringat dengan begitu banyak orang yang masih belum mampu memenuhi kebutuhan dasar mereka. disebabkan bahan-bahan makanan dijadikan komoditas oleh sistem saat ini yang menuntut pemerolehan kebutuhan atas dasar uang, bukan berbagi.
    ini sekaligus mengingatkanku pada che guevara. che guevara, ketika dimina untuk mengucapkan permintaan terkahirnya oleh pengeksekusi kematiannya, hanya mengucapkan satu hal: makan.
    juga mengingatkan aku pada satu-satunya perempuan dalam hidupku (setidaknya untuk saat ini) yang mampu membuatku ‘tersesat’ di dapur: IBUKU. ya, dia adalah ibu…

Pengumpan RSS untuk komentar di postingan ini · URI Lacak Balik

Tinggalkan sebuah Komentar