“Saya sudah selesai membaca buku Anda, Mr. Patel.”
Lelaki awal lima puluhan itu mendekati meja pendek tempat peralatan minum tehnya berada.
“Life Of Pi?” katanya seraya mengangkat teko perak. “Menurutmu buku itu bagus, bukan? Yann Martel memang penulis hebat.”
“Mm..m…”
Saya bangkit berdiri menghampiri pria itu. Kini dia menuang teh panas dalam teko ke dalam dua cangkir keramik.
“Yeah, Yann Martel penulis hebat,” saya mengulang perkataannya. Lelaki itu tersenyum.
“Susu atau gula?”
“Gula.”
Lelaki itu memasukkan sebongkah gula batu ke dalam cangkir. Dia mengangsurkan cangkir tersebut kepadaku. Ucapan terima kasih yang terlontar dari kerongkonganku kemudian seperti bisikan. Saya menghirup teh seteguk. Belum terlalu manis. Gula batunya belum hancur. Seandainya ada melati dalam teh ini, tentu aromanya lebih nikmat.
Lelaki itu juga menghirup tehnya dan kembali ke sofa. Saya mengikutinya.
“Jadi setelah membaca kisah itu, kau menjadi percaya Tuhan?”
Saya memandangnya sejenak. Lelaki itu tersenyum ramah. Wajahnya khas dari tanah Hindustan. Kepalanya mulai botak dengan sela-sela rambut yang memutih.
Cangkir saya letakkan di meja. “Well, Mr. Patel. Buku itu tidak menambah kepercayaan saya pada Tuhan.”
“Oh?” Lelaki itu tampak terkejut. Dia menyesap tehnya lagi. “Kalau begitu Anda berbeda dari orang kebanyakan, Miss Chung. Dari semua orang yang telah kutemui dan telah membaca buku itu mengaku kalau mereka menjadi atau lebih percaya kepada Tuhan daripada sebelumnya.”
“Mm..,” tangan kanan saya mengusap dagu seolah berpikir keras. “Tapi saya lihat itu tidak berlaku buat saya.”
Lelaki itu meletakkan cangkir ke atas meja. Kedua telapak tangannya bertautan. Atmosfir percakapan ini terasa menjadi serius.
“Kalau begitu, apa yang kau temukan di dalamnya?”
Saya coba memikirkan sesuatu.
Lelaki itu coba memberi petunjuk,”Orang secerdas Anda pasti menemukan ‘sesuatu’ dari segala hal yang dibaca. Nah, dalam Life Of Pi, apakah ‘sesuatu’ itu?”
Saya coba menemukan ‘sesuatu’ itu. Bibir saya sempat berkerut sebelum menjawab dia, “Saya kira adegan Anda bertahan hidup di atas sekoci itu salah satu yang berkesan. Saya merasa teori seleksi alam Charles Darwin terparaktek sempurna di situ.”
Lelaki itu memejamkan mata sambil mengangguk-anggukkan kepala. Saya tidak yakin pikirannya sama dengan saya. Saat itu di benak saya terlintas sebuah kapal sekoci tanpa atap. Sekoci dengan panjang delapan meter pasti cukup panjang buat menampung: seorang anak lelaki usia enam belas tahun, seekor zebra, hyena, orang utan dan… Richard Parker.
Saya membayangkan sekoci itu di tengah-tengah samudera Pasifik. Si anak lelaki tidak tahu sekoci itu akan berlayar ke mana. Dia sangat sedih, sekaligus ketakutan. Adegan saat si hyena yang kelaparan mulai menerkam kaki zebra yang patah. Lalu bagian-bagian tubuhnya yang lain, isi perutnya. Darah menetes-netes dari hidung zebra jatuh ke laut memancing kehadiran segerombolan hiu. Ketika zebra telah menjadi bangkai, hyena memangsa si orang utan. Dan akhirnya, si hyena dimangsa oleh hewan lebih besar: Richard Parker.
“Anda pasti sulit membayangkan bagaimana anak lelaki itu bisa ‘berdamai’ dengan seekor harimau Bengal dan hidup berdampingan selama enam bulan bersamanya di atas sekoci itu, bukan?”
Lelaki itu rupanya telah membuka kedua matanya. Kedua tangannya masih bertaut. Kening saya berkerut. Ya, agak sulit membayangkannya. Anak lelaki itu lalu tinggal berdua saja bersama Richard Parker, si harimau Bengal – di sekoci itu. Ketika persediaan logistik di sekoci habis, si anak menghapus dahaganya dengan minum darah penyu. Tanpa pilihan lain, dia hanya menyantap daging mentah. Dan supaya si harimau Bengal tak memangsanya, si anak lelaki harus berbagi santapan dengannya. Ikan tebang, ikan dorado atau daging penyu, dilempar ke arah Richard Parker.
“Menurut saya Anda berhasil menaklukkan Richard Parker, Sir, ”kata saya kemudian. “Anda dan dia berhasil menciptakan teritori di sekoci itu. Dia tak bisa melanggar teritori Anda, begitu pula sebaliknya. Lalu tatapan mata, ya, tatapan mata. Saya setuju dengan hukum itu, jangan sampai melepaskan kontak mata. Bahkan pada binatang pun, mata berfungsi sebagai jendela. Jendela menuju jiwanya.”
Lelaki itu tersenyum. Dia melepaskan tautan kedua tanganya.
“Saya senang mendengar kalimatmu barusan. ‘Mata berfungsi sebagai jendela menuju ke dalam jiwa’ – jiwa seluruh makhluk hidup. Tahukah Anda Miss Chung, di jiwa itu… di jiwa itulah Tuhan bersemayam.”
“Tapi saya geli dengan sikap Anda, Mr. Patel,” kata saya kemudian.
Sebelumnya kurang lebih tiga puluh menit berselang, lelaki itu bermonolog tentang agama dan Tuhan di hadapan saya.
“Karena?” dia bertanya alasan kegelian saya.
“Mana mungkin seseorang bisa menganut tiga agama dalam waktu bersamaan?”
Sekali lagi lelaki itu menyunggingkan senyum. “Bisa saja,” ujarnya santai.”Aku contohnya.”
“Well, mungkin Anda bisa, Sir. Tapi pengalaman pribadi menunjukkan saya tak bisa menjadi Katolik, Protestan dan Buddhis dalam waktu bersamaan.”
“Kau pernah beragama?” tanyanya tercengang.
“Yeah.”
“Anda pernah mengenal Kristus?”
“Well…, Yeah. Saya masih hafal doa Bapa Kami hingga sekarang.”
Sebelah alis lelaki itu terangkat. “Pardon me,” katanya kemudian.”Tadinya kukira Anda agnostik dari awal.”
Saya tersenyum. Saya baru menyadari kalau sedari tadi saya mungkin tidak tersenyum sebanyak dia kepada saya.
“Saya dulu belajar agama, Mr. Patel. Di negara tempat saya dibesarkan agama termasuk salah satu kurikulum wajib di sekolah. Di negara asal Anda, India, kita bisa saja anak keluarga Hindu yang masuk sekolah Kristen tanpa harus mempelajari agama Nasrani. Di benua Amerika adalah semacam ‘dosa’ jika sewaktu mengurus dokumen-dokumen penting petugas menanyai apa agama kita. Tapi tidak demikian di negara asal saya.”
Kini giliran kening lelaki itu yang berkerut.
“Jadi menurutmu seseorang seharusnya punya satu agama saja, itu sudah cukup?”
“One is enough. Two are too much.”
“Tapi aku tidak sependapat,” Lelaki itu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kita punya beragam cara untuk memuja Tuhan.”
“Yeah, memang,” saya setuju dengannya untuk hal ini.”Tapi saya tetap tak bisa mempraktekkan tiga agama sekaligus dalam memuja Tuhan. Saya tidak bisa meniru Anda menyerukan Batara Krishna, Haleluya Yesus dan Allahuakbar bersamaan.”
Lelaki itu tertawa terbahak-bahak. “Kau terdengar seperti Ibu dan Ayahku. Juga kakakku Ravi. Dan ketiga pemuka agama itu. Mereka dulu juga berdebat ketika mengetahui aku menganut tiga agama sekaligus.”
“Bukan hanya menganut, Anda juga mempraktekkannya dengan sempurna. Yann Martel menuliskannya dengan jelas: ‘Kamis ke kuil, Jum’at ke masjid dan hari Minggu ke gereja.’
Lelaki itu menyambung,”Saya melakukan puja, shalat dan berdoa. Tidak hanya Veda, tetapi saya juga membaca Quran dan Alkitab.”
Saya termangu sejenak. Lelaki itu bangkit membawa cangkirnya ke meja pendek tadi. Tehnya telah habis sementara punyaku masih penuh tapi telah mendingin. Kami berdua tak berkata apa-apa.
“Di satu sisi saya kagum dengan Anda, Mr. Patel,” kata saya memecah keheningan.
“Kagum?” Lelaki itu mencoba menyambung percakapan.
“Yeah, tentu saja karena ‘prestasi’ Anda yang itu.”
Saya mengacungkan dua tangan. Dengan jari tengah dan telunjuk membentuk tanda kutip dua kali di udara.
Lelaki itu tidak berkata apa-apa tapi dia mengerti. Dia hanya tersenyum melihat simbol yang kubuat.
Di beberapa tempat di muka bumi ini orang biasa baku bunuh karena perbedaan persepsi tentang Tuhan tapi pada diri Anda saya melihat perdamaian semuanya.”
“Saya hanya memuja Tuhan, Miss Chung.” Lagi-lagi jawaban itu. Sekilas terdengar sederhana tetapi saya mulai memahami maknanya yang sangat dalam.
“Mengapa mereka yang bertikai itu tak bisa meneladani separuh saja dari sikap Anda, Mr. Patel? Maksudku, tak perlu sampai memeluk agama yang berbeda tetapi tolerirlah satu sama lain.”
“Karena egoisme salah satu sifat manusia, Miss Chung. Itu yang membuatnya manusiawi.”
Saya menundukkan kepala ke arah permadani Persia yang menutupi lantai ruang tamu itu. Ujung higheels –ku mengetuk-ngetuk permadani itu. Terasa empuk.
“Tapi menurutku manusia seharusnya bisa ‘lebih’ daripada itu. Bukankah mereka diciptakan serupa Tuhan?” tanyaku masih mengetuk-ngetukkan higheels ke permadani.
Lelaki itu tidak langsung menjawab pertanyaanku. Rasanya dia tercenung lama. Aku pun tidak mengharapkan jawaban cepat atas pertanyaanku. Lama kemudian baru aku mendengar suaranya lagi. Kali ini aku berhenti mengetuk-ngetuk permadani dan menengadahkan kepala menatapnya.
Leleki itu menjawab dengan mimik serius,”Kurasa ketika menciptakan manusia, sebagian DNA Tuhan bermutasi sehingga manusia tak lagi memiliki seluruh kemuliaan-Nya.”
“Jadi apakah kau percaya Tuhan, Miss Chung?”
Lelaki itu bertanya ketika kami berdua berjalan melewati selasar menuju pintu gerbangnya. Bau rerumputan pekarangan rumahnya sore itu menggelitik hidungku. Mengancamku untuk bangkis.
Syukurlah bersin itu tidak jadi. Maka, saya menjawab pertanyaannya.
“Ya, saya percaya Dia ada. Tapi saya menolak keterlibatannya lebih jauh dalam hidupku, Mr. Patel.”
Lelaki itu tertawa. “Kau tidak mendukung untuk teori penciptaan tujuh harinya?”
Saya ikut tertawa. Entah mengapa, saya merasa di udara terbuka seperti ini perbincangan menjadi lebih santai.
Saya menggelengkan kepala. “Terlalu cepat untuk menciptakan segala sesuatu: alam raya, tata surya, planet bumi beserta seluruh makhluk hidup sebagai isinya-hanya dalam waktu tujuh hari.”
“Kau percaya destiny-takdir?”
“Di tangan-Nya? Tentu saja tidak.”
Kami berdua tertawa.
“Kau mirip Mr. Kumar, guru Biologi-ku yang komunis di India dulu. Tapi tunggu sebentar…. Tidak, tidak mirip. Dia benar-benar ateis sementara kau masih percaya.”
“Dan saya bukan penganut paham komunis, Sir.”
Kami berdua kembali tertawa.
Demikianlah satu sore bersama Piscine Molitor Patel di rumahnya, Toronto, Canada. Tak ada kesepakatan apa-apa di antara kami. Tak perlu membuat kesimpulan ini-itu. Bukankah dalam bukunya Yann Martel telah menulis kalau Mr. Patel mau berkawan dengan siapa saja – bahkan dengan orang ateis sekalipun?
Saya bukan seorang ateis. Percakapan kami sore itu hanya bincang-bincang saja. Ya, bincang-bincang…
dedy berkata
kamu bisa membandingkan laporan jurnalisme saastrawi gabriel garcia marquez yang dibukukan (tebal dan ukuran bukunya nyaris serupa hiroshima): Caldas. Caldas adalah nama kapal angkatan laut (militer mana?) yang karam (saya lupa di laut mana), dan hanya seorang awaknya yang kemudian terombang-ambing satu minggu lebih. Ada juga adegan yang seru di mana dia (saya juga lupa ia terapung di atas benda apa) sering berhalusinasi tentang banyak hal. kamu cari sendiri bukunya.
life of pi aku belum baca. tapi aku telah mengetahui adanya buku itu tahun 2005 sampul hijau di mana seseorang berbaring berdampingan dengan seekor harimau bengal. apa bukunya dicetak ulang dengan sampul berbeda?
tabik..