Kantung plastik hitam yang kubawa ternyata berat juga.
Maklum, isinya rupa-rupa belanjaanku sore itu. Sebotol saus tiram seberat tujuh koma tujuh ons. Sebotol kecap manis ukuran enam ratus dua puluh milliliter. Sekilo baso sapi. Setengah kilo cumi beku yang sudah dibersihkan. Juga ada beberapa bungkus tepung bumbu.
Bukan hanya berat, aku mesti hati-hati membawa kantung plastik itu. Kedua botol kaca di dalamnya sesekali berkelotakan. Aku khawatir mediumnya pecah sebelum isinya sempat kugunakan. Dengan persediaan botol ukuran besar seperti ini artinya aku bisa berhemat karena stoknya cukup untuk dua-tiga bulan.
Sebentar lagi aku melewati toko bangunan Sinar Waja. Seperti biasa, sore-sore begitu Tauke tuanya duduk di bangku kecil depan pintu. Tokonya sudah lengang. Pintu harmonikanya siap-siap ditarik.
Ah Eng, nama si Tauke tua. Aku memanggilnya Shu-Shu Eng-Paman Eng. Penampilannya bersahaja dengan celana coklat selutut berpinggang karet dan kaus putih singlet lengan pendek-khas pria Tionghoa lanjut usia umumnya. Badannya tidak gemuk atau kurus. Kulitnya putih, berkerut dengan sedikit bintik-bintik hitam dan biru di pergelangan tangan dan wajah. Rambutnya abu-abu. Sekarang sudah lebih banyak helai-helai putih ketimbang hitam.
Aku dalam jarak semeter dari Shu-Shu Eng. Pandangan kami bertemu. Kulambaikan sebelah tanganku yang tidak menenteng kantung plastik ke arahnya.
“Hai Shu-Shu Eng! Sore!” sapaku riang.
Shu-Shu Eng sedang merokok. Dia membalasku seraya menggigit-gigit filter rokok di sela-sela giginya.
“Hei, Lilian. Kau habis belanja lagi?”
Aku tersenyum. Shu-Shu Eng sepertinya sudah hapal kebiasaanku tahun-tahun belakangan ini. Setiap Sabtu sore sepulang kerja aku pasti membawa bungkusan belanja mingguan. Kadang-kadang bungkusannya besar seperti hari ini, kadang pula hanya berupa bungkusan kecil. Jumlah dan ukurannya tidak tentu.
“Fandi mana?” Aku melongok kepala ke dalam toko dan kulihat tak seorang pun di dalam.
Shu-Shu Eng ikut menengok.
“Masih di lantai dua. Mungkin sedang mandi.”
“Oh,” aku bergumam sedikit kecewa. Kalau Fandi ada, aku bisa meyuruhnya membawa belanjaanku sampai di rumah.
Maka aku permisi dari Shu-Shu Eng. Baru lima langkah dari toko Sinar Waja, seseorang menepuk pundak kananku. Aku sedikit tersentak.
“Kata Papaku kau mencariku,” kata pria yang menepukku barusan. Dia mengenakan baju kaus hitam dengan gambar lidah merah terjulur keluar, seperti angka tujuh-tujuh. Rambutnya basah sehabis keramas. Aku mencium wangi sabun dari tubuhnya.
Inilah Fandi, Shaoye – majikan mudanya Toko Sinar Waja.
“Habis belanja ya?” Fandi bertanya. Tanpa menunggu jawabanku dia meraih kantung plastik hitam belanjaanku. Membawakannya untukku. Kami berdua berjalan berdampingan.
“Hati-hati, nanti botolnya pecah.”
Fandi mengintip isi kantung. “Wah,” serunya. “Besok bakal makan enak, nih!”
Aku menatap wajah riangnya. Fandi adalah teman, sahabat dan saudaraku yang paling baik. Sekaligus paling tidak tahu malu. Empat bulan lalu aku mengundangnya makan siang di rumah pada hari Minggu. Dan sejak saat itu dia selalu makan siang gratis di rumahku pada hari Minggu.
“Saya belum mengundangmu buat besok,” aku mendelik.
Fandi terkekeh.”Tidak perlu undangan atau pemberitahuan, ini kan sudah menjadi rutinitas yang kita sepakati setiap hari Minggu,” dia menekankan pada kata kita.
“Seingatku kita tidak pernah buat kesepakatan itu deh,” balasku juga menekankan pada kata kita.
Fandi berjalan selangkah lebih cepat. Dia meledekku.
“Terserah! Yang jelas Mama dan Papamu mengijinkan aku makan di rumahmu setiap hari Minggu!”
Aku senang memasak meski tak bermaksud menggelutinya secara professional.
Profesiku yang sesungguhnya adalah karyawan di salah satu travel yang buka enam hari seminggu. Jadi, Senin hingga Jum’at, dari pukul delapan hingga lima sore tugasku selalu berhubungan dengan komputer, tiket serta agenda tour. Aku sudah bekerja di sana selama satu setengah tahun sejak aku lulus kuliah sebagai Sarjana Ekonomi.
Pada hari Sabtu, kantorku tutup jam dua siang. Biasanya kami melakukan kroscek pekerjaan selama seminggu dan meeting. Kadang-kadang ini memakan waktu hingga jam empat sore. Paling lama setengah lima. Setelah itu aku akan mengucapkan salam perpisahan dan sampai jumpa di hari Senin kepada kawan-kawanku lalu naik angkot.
Tapi aku tidak langsung pulang seperti biasanya. Pada hari Sabtu sore aku biasanya singgah di pasar tradisional yang buka dari pagi hingga malam. Jaraknya kira-kira dua ratus meter dari rumah. Di sebelahnya ada swalayan. Sesekali aku masuk ke sana juga kalau ada promosi atau membeli makanan beku. Sehabis itu, aku tinggal jalan kaki pulang ke rumah, melewati toko bangunan Sinar Waja. Kalau belanjaku banyak, aku berharap semoga Fandi ada di toko dan membantuku membawakannya sampai rumahku. Kadang-kadang juga dia tak ada. Ya, tidak masalah. Aku tetap masih bisa menentengnya sampai ke rumah.
Bisa dibilang aku belajar masak secara otodidak. Mama bukan sosok perempuan Tionghoa yang gemar memasak. Mungkin kedengaran sedikit aneh. Tapi sungguh, dulu Mama tak bisa membedakan angsio dan minyak wijen. Dia juga tidak tahu kegunaan sapo-mangkuk tanah liat tahan panas, peninggalan Nenek. Bukan hanya itu, Mama juga bingung membedakan biji ketumbar dan merica. Nata de coco dan kolang-kaling.
Mau tahu hal yang membuat Mama tergila-gila? Majalah mode dan infotainment. Mama berlangganan majalah mode mingguan. Untuk infotainment, aku suka protes agar dia tak menonton tayangan itu terlalu banyak. Isinya cuma gosip dan gosip. Apa bagusnya acara begitu?
“Tapi Lilian, di sana Mama bisa lihat gaya berpakaian selebritis terbaru. Bagus-bagus dan seksi. Seharusnya kamu nonton itu buat memperbaiki caramu berpenampilan.”
Aku mendengus saja kalau Mama berkata begitu. Aku memang bukan tipe up to date. Istilah bahasa Tionghoa, aku ini pu shu-terlalu sederhana. Tapi aku juga bukan tipe jadul, kok. Aku tahu kalau baju dengan bantalan bahu tidak lagi trend sekarang. Kaus serta kemeja ketat lebih pas dikenakan, serasi dengan rok atau jeans. Kalau lipstik glossy masa kini bisa membuat kita terlihat fresh dan muda ketimbang yang matte. Tapi meski rebonding sedang marak, itu belum pernah kucoba karena aku merasa rambutku lurus-lurus saja,
Mama seharusnya menjadi desainer atau pengamat mode. Bukannya istri seorang pemilik bengkel motor. Dia punya bakat alami di bidang fashion dan penampilan. Atau minimal Mama bisa jadi penjahit atau buka salon.
“Tapi Papamu tidak mengijinkan,” kata Mama suatu hari. Papaku tipe pria yang kalau sampai istrinya membuka usaha, artinya kemampuannya sang suami dalam mencari uang sudah berkurang. Dan ini bisa berakibat fatal karena Papa menganggap ini melukai harga dirinya. Papa sebenarnya pria Tionghoa yang cukup moderat. Tapi entahlah untuk yang satu ini, pendapatnya tak bisa dirubah.
Namun bukan berarti Mama tidak bisa memasak sama sekali. Mama sebenarnya paling jago memasak sup. Sejak dulu sup buatannya selalu menjadi favoritku dan Papa. Dia tak pernah menengok buku resep. Bumbu utama Mama hanya garam dan gula. Yang membuat tumisan sayurnya mewangi cuma kecap asin. Sesekali dia memakai vetsin.
Aku beruntung karena Mama tidak pernah menuntutku untuk belajar memasak. Semasa sekolah hingga kuliah, aku jarang sekali masuk dapur. Masa-masa itu aku menganggap dapur sebagai tempat panas dan tidak menyenangkan. Sehingga kalau masuk ke sana dan terkena setetes air mendidih saja aku menggerutu. Terpercik minyak panas dari penggorengan aku uring-uringan.
Lalu mendadak, usai lulus kuliah aku mulai belajar memasak.
Setelah lulus kuliah, aku sempat menganggur tiga bulan sebelum akhirnya diterima bekerja di kantor travel yang sekarang.
Kemauan belajarku itu mungkin timbul dari tambahan pengetahuanku soal memasak dari buku-buku dan majalah-majalah yang kubaca. Sehabis membaca kupikir memasak tak serepot kukira. Mungkin pula karena dapur rumah kami telah direnovasi. Desain barunya segar dengan ubin-ubin putih diselingi ubin-ubin kikiran berwarna hijau pada setiap tepinya. Langit-langit dapur kami dibuat lebih tinggi daripada sebelumnya sehingga asap hasil memasak tidak lagi membuatnya sumpek. Dan yang lebih utama adalah kompornya. Mama akhirnya mengganti tiga kompor minyak tanahnya dengan kompor gas bermata dua.
Ya, kenapa tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya kalau kompor bisa jadi merupakan penghalang utamaku dalam belajar memasak. Aku selalu terlalu takut untuk menggunakan kompor minyak tanah karena sejak kecil aku selalu diwanti-wanti Mama, “Lilian, jangan dekat-dekat kompor itu. Jangan bermain-main dekatnya. Jangan utak-atik kompornya kalau sedang menyala…,” dan sebagainya. Ketika usiaku sepuluh tahun, tetangga dua rumah kami kebakaran. Penyebabnya, kompor minyak tanah yang meledak.
Jadi aku mulai belajar memasak. Mama bertindak sebagai chaperon-pendamping di dapur. Dari Mamalah aku mengenal bumbu-bumbu dasar. Mama juga memberiku satu tips sewaktu mengupas bawang merah dan Bombay. “Jangan mengupas melawan arah angin. Matamu akan kepedisan nanti. Kupaslah melawan arah angin.”
Karena aku masih baru di dapur dan dapur masih merupakan tempat ‘asing’ bagiku, Mama tak henti-hentinya mengingatkan hal-hal seperti,”Perhatikan gasnya kalau tabungnya baru diganti. Jangan langsung menyalakan kompor. Tunggu beberapa saat. Kalau kau tak mencium bau gas, itu artinya kompornya baru siap dinyalakan.”
“Kalau mengiris, jari-jari yang memegang barang yang hendak diiris harus ditekuk seperti orang sakit kusta supaya pisau tidak mengiris kuku-kukumu.”
“Jangan berbicara di atas masakan, nanti air liurmu jatuh ke dalamnya.”
“Jangan bubuhkan garam terlalu banyak dalam masakan, nanti kau dikira sudah kebelet kawin karena makananmu keasinan.”
Demikianlah Mama menceritakan padaku berbagai kisah serta pantangan tentang dapur. Dan kisah-kisah itu mulai dari yang logis sampai yang sifatnya tahayul. Aku pun mulai akrab dengan dapur.
Karena makin terbiasa memasak akhirnya aku mahir. Api yang menyala tiba-tiba jika wajan berisi minyak panas dituangi bumbu tak lagi membuatku panik. Terseduh sedikit air panas untuk mengelupas sisik ikan tidak membuatku menggerutu lagi. Makin banyak berlatih membuat masakanku tak lagi gosong. Dan aku jadi tahu kalau daging yang amis bisa dinetralisir dengan jeruk nipis atau jahe. Rasa manis daging ikan paling terasa jika ditim, kedua dibakar dan terakhir digoreng.
Ketika aku mulai bekerja, memasak semakin penting lagi bagiku. Karena bekerja seminggu enam hari, aku hanya bisa memasak pada hari-hari libur. Aku senang memasak sebab aku menemukan kedamaian di dalamnya. Tak ada hal lain yang kupikirkan atau kucemaskan selain campuran bumbu-bumbu yang kutuangkan dalam wadah. Waktu-waktu terasa berharga bagiku ketika menunggu masakan matang.
Memasak adalah obat penenangku. Kegembiraanku dari rutinitas seorang karyawan travel.
Dan ada kebahagiaan sewaktu melihat orang-orang menikmati masakan hasil jerih-payahmu.
dedy berkata
hmmmm….yammmm…hmmmm………