Lilian dan Pelajaran Memasak (Part 2)

“Apa itu?”

Aku kaget melihat Fandi berjalan masuk dapur sambil memikul sesuatu. Dia menjatuhkan barang yang dipikulnya di lantai samping kulkas, kira-kira dua meter dari tempatku berdiri. Tiga sisir pisang raja yang ranum. Aku sampai kaget melihat bentuknya yang besar-besar.


“Dari pelangganku di luar kota,” ujar Fandi. “Tadi pagi dia singgah ke toko dan membawa ini.”

“Banyak sekali, Fan… Kamu pikir saya mau jualan pisang?”

“Kamu juga pikir saya dan Papaku monyet? Bisa makan semuanya berdua?”

“Saya tidak berpikir begitu,” sanggahku cekikikan.

Fandi mengangkat bahu. “Yah, paling tidak kalau di sini kamu bisa mengolahnya menjadi apa kek: pisang goreng, kolak atau puding. Eh, omong-omong puding pisang tempo hari enak. Buat lagi dong…”

”Ha! Sejak kapan saya jadi tukang masakmu? Sudah makan gratis tiap minggu siang di sini, masih juga menyuruh-nyuruhku membuat ini – itu tanpa bayaran.”

“Eh, bukannya kamu senang masak? Beruntunglah aku membawakanmu bahan,” Fandi menepis protesku. Aku mendengus pura-pura kesal.

Aku mengambil sebuah rantang lalu membuka tutup panci di atas kompor. Baso sapi yang kubeli kemarin sore telah matang. Melihatku menyendok kuah dan basonya, Fandi menghampiri.

“Hm, baunya enak,” katanya di belakangku. Dia mengambil garpu hendak menusuk sebiji baso.

Aku memukul tangannya yang memegang garpu. “Kamu tidak boleh duluan! Ini buat Papa.”

Fandi meringis sebentar dan meletakkan garpunya kembali.

“Galaknya…,” dia menggerutu.

Kebetulan Mama memasuki dapur. Seperti biasa dia menawarkan ‘undangan’ makan siang gratis pada Fandi yang sudah pasti diterima dengan senang hati.

“Makan di sini, Pan?” kudengar Mama keliru menyebut huruf F menjadi P. Ini kebiasaan yang sulit sekali dirubah Mama sejak dulu. Dan Fandi tidak pernah keberatan.

“Minggu ini makan di bengkel deh, sama Shu-Shu lagi,” kata Fandi sambil menerima rantang yang telah kuisi penuh. Fandi juga memanggil Papaku dengan sebutan Shu-Shu-Paman.

Aku mengambil rantangan lain dan menuju rice cooker menyendok nasi.

“Belakangan kamu senang makan di bengkel bersama Papanya Lilian, ya?” tanya Mama.

“Iya. Soalnya menyenangkan makan sambil ngobrol dengan Shu-Shu. Shu-Shu rajin sekali. Hari Minggu pun tetap buka bengkel.”

“Yah, itu sudah jadi kebiasaannya selama puluhan tahun,” Mama tersenyum seraya meninggalkan dapur. “Sehari saja tidak ke bengkel rasanya ada yang kurang…”

Tinggal Fandi dan aku berdua lagi.

“Kamu biasa ngobrol apa dengan Papaku?” tanyaku sambil menutup rantang rapat-rapat. Bengkel Papa jaraknya sekitar seratus meter dari rumah. Biasanya jika Fandi pergi makan siang di sana, dia akan tinggal sampai sore hingga bengkel tutup dan pulang bareng bersama Papa.

Fandi melipat kedua tangan di dada, tersenyum jahil.

“Adalah.. Urusan lelaki.”

“Hmmm,” aku bergumam seraya melontarkan pandangan sinis padanya. “Sebaiknya kamu jangan terlalu sering ke sana.”

“Kenapa?” tanya Fandi heran.

“Nanti bisa timbul salah paham.”

“Karena?”

Aku berbalik ke arahnya. Tangan kananku kuselipkan di pinggang. “Karena kamu satu-satunya temanku-yang cowok, yang paling sering nongol di bengkel Papa.”

Fandi menampakkan wajah lugu seolah dia bocah polos yang sungguh tak tahu apa-apa. “Aku tidak mengerti,” katanya mengangkat bahu. “Apakah itu bisa menimbulkan salah paham?”

“Ya!” sahutku gemas. “Nanti kau dikira calon menantu Papa!”

Fandi diam sedetik. Kemudian dia tertawa. Dia mengambil bungkusan rantang dan bersiap pergi.

“Masak ada orang usil yang punya pikiran semacam itu?”

Aku teringat pada beberapa Ayi – sebutan kepada saudara perempuan Mama, yang pernah menanyakan soal hubunganku dengan Fandi. Mereka curiga kalau aku dan Fandi pacaran meski telah kusanggah. Aku baru saja mau mengatakannya tapi Fandi memotongku sambil nyengir, “Yah, kalau ada yang berpikir begitu, aku tidak keberatan.”

“Apa?” aku terkejut sampai mencengkeram serbet kuat-kuat.

Fandi berjalan cepat ke arah pintu. Dia mengulang perkataannya-sengaja membuatku marah.

“Aku tidak keberatan kalau kita pacaran!”

“Kau!” aku memekik dan serbet melayang dari tanganku.

Fandi berhasil menghindar. Dan dia tertawa penuh kemenangan karenanya.

Aku dan Fandi sudah saling mengenal sejak kami masih kecil. Rumah kami berdekatan. Cukup jalan kaki keluar dari lorong rumahku lima belas meter. Terus belok ke kiri dan carilah rumah toko keempat.

Jadi tidak heran kalau kami bersahabat sampai sekarang bukan?

Tapi jangan dikira pertemanan kami selalu berjalan mulus. Ketika masih kecil, aku justru menganggap Fandi sebagai musuh bebuyutanku. Dulu dia terkenal sebagai salah satu anak terbandel di lingkungan kami. Aku tidak menyukainya karena dia selalu menjahiliku dan mengejekku sebagai ‘Cewek Gendut’.

Waktu kecil aku memang montok. Orang tuaku tidak pernah keberatan. Entah kenapa, justru berandal kecil satu ini yang merasa terganggu.

Meski usia Fandi satu setengah tahun lebih tua dariku, dia terlambat masuk sekolah. Jadilah kami satu sekolah ketika SD dan sekelas terus selama enam tahun berturut-turut. Waktu itu, aku semakin membencinya karena kelakuannya. Bagaimana tidak? Dia mengajari teman-temannya untuk ikut mengejekku ‘Cewek Gendut’.

Tiba masanya ketika kesabaranku habis menghadapinya. Suatu hari ketika kami kelas empat dan permainan kasti sedang in di sekolah kami. Fandi terkenal sebagai pemukul terbaik. Dia selalu tak sabar memukul bola yang diarahkan padanya.

Lalu, dia memarahiku.

“Hei, Gendut! Cepat lempar bolanya!”

Aku jengkel sekali. Cukup sudah! Aku tak mau dihina sebagai ‘Cewek Gendut’ selamanya. Jadi aku melempar bola kasti hijau dengan dua garis putih itu dengan penuh kebensian ke arahnya. Bola melayang di udara. Betapa kuberharap bola tersebut berubah menjadi batu dan melukai anak brengsek itu.

‘Buk!’ Bola mengenai pemukul Fandi. Teman-teman kami bersorak. Tapi sejurus kemudian aku mendengar suara melolong. Sorak-sorai berhenti. Dan di hadapan kami Fandi terjongkok sambil memegang mata kirinya yang terkena hantaman bola kasti.

Seminggu kemudian, lingkaran biru besar menghiasi mata kiri Fandi. Aku mengira Fandi akan mengadu pada orang tuanya. Dan Shu-Shu Eng akan ke rumah mencariku untuk membuat perhitungan karena telah menyakiti putra satu-satunya. Tapi hal itu tidak pernah terjadi.

Kata para simpatisanku (teman-teman yang pro denganku), lemparanku itu benar-benar mujarab. Bola itu tidak hanya mengenai mata Fandi tetapi juga mampu merontokkan sumbatan nadi di otaknya. Kalau diperhatikan, memang sejak pelemparan itu pelajaran berhitung Fandi maju pesat. Entah ada hubungannya atau tidak. Yang pasti hubungan kami sempat mendingin selama beberapa bulan.

Kami baru mulai saling berbicara lagi saat kelas lima. Dan sejak itu Fandi tak pernah lagi memanggilku ‘Cewek Gendut’. Dia sudah memanggil nama ”Lilian” dengan sopan.

Ada sebuah peristiwa terjadi ketika kami kelas enam. Mama Fandi meninggal. Dan dia tidak meninggal sendiri. Bersamanya ikut janin bakal adik Fandi yang berusia lima bulan.

Seingatku, Mama Fandi wanita yang cantik. Kelihatannya jauh lebih muda daripada Shu-Shu Eng. Dan ada saja mulut-mulut usil orang-orang tak berperasaan menghembuskan gosip kejam. Baru sehari istri Shu-Shu Eng dimakamkan, telah tersebar desas-desus kalau dia meninggal karena bunuh diri. Dia mendengar kalau Shu-Shu Eng selingkuh. Kecewa dengan pengkhianatan suaminya, dia memutuskan menggugurkan kandungan dengan tanaman jarak di kamar mandi.

Mama Fandi memang ditemukan tergeletak di kamar mandi dengan kaki bersimbah darah. Belasan tahun kemudian Fandi bercerita padaku cerita sesungguhnya.

“Dulu Mama sering keguguran. Aku beberapa kali gagal punya adik baru,” kata Fandi menerawang.

“Lalu tahun itu ketika Mama hamil lagi, dokter mendapati ada tumor di rahimnya. Mama diminta aborsi supaya dia bisa selamat. Tapi Mama menolak. Dia berharap keajaiban bisa melahirkan adikku. Tapi dugaannya meleset. Baik dia maupun adikku, dua-duanya tidak selamat.”

Shu-Shu Eng sangat terpukul oleh kematian istrinya. Toko Sinar Waja-nya sempat terbengkalai selama beberapa waktu. Bukan hanya itu, Fandi tidak terurus. Sampai-sampai anak itu menjadi liar.

“Kenapa kamu atau Papamu tidak pernah mengklarifikasi gosip itu – jika memang tidak benar?” tanyaku.

Fandi menjawab,”Keluarga terdekat kami tahu soal itu. Tapi aku sendiri baru tahu waktu kelas tiga SMP.” Fandi tertawa. “Sejujurnya, aku sempat mengira gosip itu benar. Sepeninggal Mama, Papa uring-uringan dan selalu keluar rumah. Aku sudah berkesimpulan kalau Papa memang punya wanita simpanan.”

Menginjak SMP, Fandi dan aku pisah sekolah. Tiga tahun berikutnya kami sesekali saja bertemu. Setiap kali bersua, Fandi semakin jangkung tapi juga kurus. Meski jarang bertemu, aku tahu perkembangannya dari cerita yang beredar di lingkungan kami. Kudengar Fandi sering membuat Shu-Shu Eng marah. Keduanya sering bertengkar. Di sekolahnya, Fandi bergabung dengan kelompok preman. Dia mulai merokok, membangkang dan ikut tawuran. Prestasi belajarnya parah. Pada awal kelas tiga, Fandi dikeluarkan gara-gara terlibat tawuran besar dengan anak-anak sekolah lain. Dia sampai dirawat di rumah sakit.

“Jadi, kapan hubunganmu dan Shu-Shu Eng kembali membaik?” tanyaku penuh minat. Jika melihat kedua Ayah-beranak ini sekarang, tak ada yang percaya kalau dulu mereka pernah melewati masa-masa sulit.

“Waktu di rumah sakit itu,” Fandi tersenyum.”Aku menyebutnya kembali ke titik nol. Papa menemaniku sepanjang malam. Kami berdua saja. Membicarakan banyak hal. Papa menceritakan penyebab kematian Mama. Katanya dia menunggu tiga tahun karena menganggap usiaku masih kecil sewaktu Mama meninggal.”

“Papa menceritakan kesedihannya. Kegelisahannya karena akan lanjut membesarkanku sendirian. Dia sering keluar rumah setelah Mama meninggal karena selalu teringat Mama. Mama meninggalakan terlalu banyak jejak di setiap sudut rumah kami.”

“Aku juga menceritakan kesedihanku. Mendadak ditinggal pergi oleh wanita yang setiap hari kutemui. Yang merawatku dari kecil. Aku gelisah karena sebelumnya belum pernah begitu jauh berpisah dari Mama. Aku merindukan wangi shamponya. Dan masakannya, aku tidak pernah bisa memakannya lagi.”

Fandi terdiam. Dan aku dibiarkan sendiri membayangkan malam sewaktu Ayah-putra ini berbincang-bincang di kamar rumah sakit. Mungkin suasananya cukup melankolis hingga dua-duanya menitikkan air mata. Mungkin pula keduanya sempat berpelukan untuk saling menguatkan.

Yang jelas setelahnya itu keduanya pulih. Shu-Shu Eng kembali menjalankan Toko Sinar Waja-nya. Dan Fandi lulus SMP dengan nilai lumayan. Dia juga lolos seleksi di salah satu SMA unggulan. Kebetulan, aku juga lolos seleksi di SMA yang sama.


2 Tanggapan »

  1. rudhy berkata

    mantep cerita. apa ada lanjutannya ?

  2. R 1 NA berkata

    Hiks.. Hiks.. Sy jd terharu.. Syukur si Fandinya ga slh jalan ya ka’. Hehe.. Peace

Pengumpan RSS untuk komentar di postingan ini · URI Lacak Balik

Tinggalkan sebuah Komentar