Beijing, masa akhir Dinasti Qing.
Tangan mungil gadis kecil itu digandeng seorang bibi paruh baya. Keduanya berjalan mengitari lorong-lorong yang panjang, koridor-koridor berliku serta taman-taman buatan. Rumah itu terasa begitu besar bagi si gadis kecil. Bila dibandingkan dengan rumahnya yang hanya terdiri dari satu ruangan di desa, rumah ini bak istana. Si gadis kecil dan bibi paruh baya melangkahi sebuah palang kayu dan masuklah mereka ke kamar tidur yang besar dan mewah.
“Nyonya, aku telah membawanya,” kata si bibi.
Gadis kecil agak ketakutan. Dia tak berani mengangkat kepala melihat wanita di depannya. Samar-samar didengarnya bunyi korek api menyala. Disusul suara desahan napas lega.