<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Merlinherlina's Weblog</title>
	<atom:link href="http://merlinherlina.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://merlinherlina.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Sun, 19 Jul 2009 09:50:39 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='merlinherlina.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/e8eccc30f0e4872a3f5c7f3036aac1a8?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Merlinherlina's Weblog</title>
		<link>http://merlinherlina.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Ching&#8217;er &amp; Xulan</title>
		<link>http://merlinherlina.wordpress.com/2009/07/19/chinger-xulan/</link>
		<comments>http://merlinherlina.wordpress.com/2009/07/19/chinger-xulan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Jul 2009 09:46:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>merlinherlina</dc:creator>
				<category><![CDATA[BAHASA HATIKU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://merlinherlina.wordpress.com/?p=228</guid>
		<description><![CDATA[Beijing, masa akhir Dinasti Qing.
Tangan mungil gadis kecil itu digandeng seorang bibi paruh baya. Keduanya berjalan mengitari lorong-lorong yang panjang, koridor-koridor berliku serta taman-taman buatan. Rumah itu terasa begitu besar bagi si gadis kecil. Bila dibandingkan dengan rumahnya yang hanya terdiri dari satu ruangan di desa, rumah ini bak istana. Si gadis kecil dan bibi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=merlinherlina.wordpress.com&blog=3713065&post=228&subd=merlinherlina&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em>Beijing, masa akhir Dinasti Qing.</em></p>
<p>Tangan mungil gadis kecil itu digandeng seorang bibi paruh baya. Keduanya berjalan mengitari lorong-lorong yang panjang, koridor-koridor berliku serta taman-taman buatan. Rumah itu terasa begitu besar bagi si gadis kecil. Bila dibandingkan dengan rumahnya yang hanya terdiri dari satu ruangan di desa, rumah ini bak istana. Si gadis kecil dan bibi paruh baya melangkahi sebuah palang kayu dan masuklah mereka ke kamar tidur yang besar dan mewah.</p>
<p>“Nyonya, aku telah membawanya,” kata si bibi.</p>
<p>Gadis kecil agak ketakutan. Dia tak berani mengangkat kepala melihat wanita di depannya. Samar-samar didengarnya bunyi korek api menyala. Disusul suara desahan napas lega.</p>
<p><span id="more-228"></span></p>
<p>“Gadis kecil, angkat kepalamu,” perintah sang Nyonya. Suaranya lembut namun berwibawa. Dengan gemetaran si gadis kecil mengangkat kepala menatapnya. Alis wanita itu halus. Matanya sipit melancip ke atas. Dia mengenakan <em>cheongsam</em> satin hitam dengan bordir bunga-bunga merah. Rambutnya ditata dengan gaya rumit dan dihiasi beberapa jepit giok. Sepasang anting-anting mutiara bergoyang-goyang di bawah telinganya.</p>
<p>Sang Nyonya juga memegang setangkai pipa panjang yang mengepulkan asap jika dihisap. Si gadis kecil gelisah karena sorot mata sang Nyonya sedang menilainya dari atas hingga bawah.</p>
<p>“Apakah menurutmu dia tidak terlihat terlalu kurus?” tanya sang Nyonya kepada bibi paruh baya.</p>
<p>Dengan mulutnya yang lincah, si bibi menjawab,”Saat ini dia memang terlihat kurus. Tapi tenanglah Nyonya, aku akan memberinya makan yang banyak supaya dia bisa gemuk seperti babi.”</p>
<p>“Aku tak mau rugi dengan membeli seorang pelayan kecil yang sakit-sakitan,” sang Nyonya terlihat ragu-ragu.</p>
<p>“Tidak Nyonya,” si bibi buru-buru menyela. “Nyonya tak akan pernah rugi membeli anak ini-setidaknya begitulah yang dijanjikan ibunya. Meski baru berusia delapan tahun dia rajin dan giat bekerja.”</p>
<p>“Sebenarnya aku belum terlalu membutuhkan tambahan pelayan saat ini,” sang Nyonya menghisap pipanya dalam-dalam. Asap keluar dari mulutnya &#8211; seperti kabut yang perlahan-lahan menyelimuti wajahnya. “Tapi kupikir dia cocok dengan putriku. Berikan dia jadi pelayannya.”</p>
<p>Si bibi mengangguk dan mendorong si gadis kecil agar membungkukkan badannya sebagai tanda hormat. Setelah itu mereka keluar dari ruangan itu, melewati palang kayu tadi dengan tangan gadis kecil yang tetap digandeng.</p>
<p>Keduanya kembali menyusuri koridor berliku, melewati taman-taman lain dan memasuki sebuah gerbang berbentuk bulan purnama. Di balik gerbang ada bangunan lain-sebuah ruangan yang tak kalah besar dan mewahnya dari kamar tidur sang Nyonya.</p>
<p>Gadis kecil dan si bibi masuk. Ruangan itu memancarkan wewangian dupa cemara yang menyenangkan. Sebuah tempat tidur besar dengan ukiran-ukiran rumit terdapat pada satu sisi. Ranjang itu berkelambu sutra biru. Dan di atasnya duduk anak perempuan lain.</p>
<p>“Nona, kata Ibumu, mulai sekarang dia akan menjadi pelayanmu,” kata si bibi.</p>
<p>Anak perempuan itu terlihat lebih tinggi dari si gadis kecil. Dia mengenakan <em>cheongsam</em> merah muda dari sutra <em>jin</em> terbaik. Rambutnya terkepang rapi tanpa sehelai pun keluar dari alurnya. Sejenak dia menatap bibi dan si gadis kecil, kemudian mengacuhkan mereka. Tangan kanannya yang bergelang lonceng menepuk-nepuk sebuah bola kain. Menimbulkan bunyi gemerincing.</p>
<p>Bibi paruh baya mengabaikan sikap acuh tersebut, keluar ruangan meninggalkan si gadis kecil dan anak perempuan itu. Si gadis kecil berdiri terpaku menatap anak perempuan di depannya. Si anak perempuan mengabaikannya dan terus saja menepuk bola.</p>
<p>Lama kemudian baru si anak perempuan berhenti menepuk bola dan mulai memperhatikan pelayan barunya.</p>
<p>“Apa kau bisa bicara?” tanya si anak perempuan.</p>
<p>Gadis kecil mengangguk.</p>
<p>“Apa kau punya nama?” tanya si anak perempuan lagi.</p>
<p>Gadis kecil menjawab, “Ibuku memanggilku <em>Xiao Ya Thou</em>-anak perempuan kecil.”</p>
<p>“Huh, itu sih bukan nama,” dengus si anak perempuan. Dia kembali menepuk bola kainnya. “Apakah kau punya baju lain?”</p>
<p>Gadis kecil menunduk dan melihat blus <em>cheongsam</em> hijaunya yang mulai lusuh karena lama dipakainya di perjalanan.</p>
<p>“Ini satu-satunya baju yang kupunya, Nona.”</p>
<p>Anak perempuan itu seolah menimbang-nimbang sesuatu. Kemudian dia berujar, “Baiklah, karena kau datang dengan mengenakan baju hijau, kau akan kuberi nama <em>Ching’er</em>-Gadis Hijau.”</p>
<p>“Tapi aku biasa dipanggil Xiao Ya…”</p>
<p>“Sudah kubilang itu bukan nama,” potong si anak perempuan. “Dan jangan memanggilku Nona terus. Aku juga punya nama. <em>Xulan</em>-yang berarti Anggrek.”</p>
<p>***</p>
<p>Itulah hari pertama Ching’er memasuki rumah keluarga Chen. Pemilik pabrik penenunan serta pewarnaan kain di pinggir kota Beijing. Waktu itu, Sun Yat-sen baru saja memroklamirkan China sebagai negara republik dan Kaisar Manchu terakhir yang masih kanak-kanak, Pu Yi, dipaksa turun tahta.</p>
<p>Kemiskinan telah membuat Ibu Ching’er membuat keputusan sulit. Tiga tahun sebelumnya, suaminya pamit ke selatan untuk merantau dan sejak itu tak pernah lagi terdengar kabarnya. Dia terpaksa menjual Ching’er-anak satu-satunya, kepada keluarga kaya mana yang mau membelinya sebagai pelayan.</p>
<p>Maka sampailah Ching’er ke keluarga Chen. Meski di tengah keadaan sulit masa itu, keluarga Chen tetap makmur sehingga sanggup membeli pelayan lagi. Kekaisaran runtuh dan para bangsawan memudar keningratannya-tapi hal ini tidak melunturkan bisnis keluarga Chen. Orang-orang kaya baru terus bermunculan. Dan mereka membutuhkan lebih banyak kain yang dibuat serta diwarnai dengan berbagai corak untuk dipotong dan dijahit menjadi baju baru.</p>
<p>Ching’er menjadi pelayan Chen Xulan, anak bungsu sekaligus putri tunggal keluarga Chen. Ketika pertama kali berkenalan, Xulan berusia sebelas tahun dan baru  tiga bulan menjadi yatim. Ayahnya meninggal karena sakit tipus. Bisnis keluarga dilanjutkan oleh kakak tertuanya yang baru berumur sembilan belas.</p>
<p>Meski hidup seperti Tuan Putri, Xulan kesepian. Ketiga saudara lelakinya sibuk dengan urusan masing-masing. Sementara Ibunya lebih banyak menghabiskan waktu di kamar menghisap candu. Lama-kelamaan, Nyonya Besar yang pertama kali dilihat Ching’er dengan penampilan menakjubkan itu semakin kurus dan ringkih. Beberapa tahun mendatang, wajahnya pun memucat dengan bagian bawah mata cekung ke dalam dan pipi  mengkerut.</p>
<p>Ching’er segera mendapati kalau dia bisa berteman baik dengan Xulan meski pada awalnya gadis itu terkesan angkuh. Anehnya, Xulan justru bersikap amat baik terhadap Ching’er. Anak perempuan kaya yang kurang perhatian ibunya itu sering membagi barang-barangnya kepada Ching’er. Baju-baju bagus yang sudah tak terpakai, perhiasan serta makanan.</p>
<p>Xulan pula-lah yang mengajari Ching’er mengenal huruf. Dalam diri Xulan terpendam bakat alami seorang guru. Berkat Xulan, Ching’er dapat menulis namanya sendiri. Huruf  <em>Ching</em> dengan enam goresan vertikal serta tiga goresan horizontal. Dan huruf  <em>er </em>dengan dua goresan horizontal. Ching’er begitu bahagia ketika dia bisa menulis namanya sendiri. Setahu Ching’er, dengan begitu dia menjadi wanita pertama dalam keluarganya yang bebas buta huruf. Dalam kegembiraannya yang meluap-luap Ching’er berkata,</p>
<p>“Nona begitu baik padaku melebihi Ibuku sendiri. Kelak di kehidupan mendatang aku berharap <em>kau</em>lah yang menjadi Ibuku.”</p>
<p>Xulan sedikit terkejut mendengar pengakuan yang tulus itu. Pipinya tersipu-sipu dan dia amat bangga karenanya.</p>
<p>***</p>
<p>Tahun demi tahun berlalu. Tak terasa, Ching’er telah delapan tahun tinggal di keluarga Chen.</p>
<p>Dia tidak berhubungan dengan Ibunya. Terakhir, Ching’er mengunjungi ibunya sewaktu  berusia tiga belas tahun. Wanita itu tengah sakit dan dengan meronta mengusir Ching’er keluar rumah dan memintanya untuk tidak datang lagi. Ching’er sakit hati dengan perlakuan Ibunya. Rupanya Ibunya menganggap setelah Ching’er dibeli orang lain, dia telah sepenuhnya bukan miliknya lagi.</p>
<p>Ching’er hanya bisa bahagia bila berada di dekat Xulan. Baginya, nonanya itu tidak sekedar majikan. Dia bisa menjadi saudara, teman, guru sekaligus ibu.</p>
<p>Kini usia Ching’er enam belas dan Xulan delapan belas. Tiga tahun sebelumnya, Nyonya Chen, ibu Xulan meninggal karena sakit paru-paru. Xulan tidak terlalu merasa kehilangan. Toh selama ini ibunya lebih memilih candu ketimbang dirinya. Tiga tahun usai masa berkabung Xulan tumbuh bak kupu-kupu yang cantik. Ibarat bunga dia tengah mekar-mekar dan ranum-ranumnya. Sekarang, rambutnya telah dijalin dengan begitu rumit dan diberi hiasan jepit bunga anggrek sesuai dengan namanya.</p>
<p>Keluarganya mulai membicarakan masalah pernikahannya. Istri kakak lelaki tertua Xulan pernah berkata kepada suaminya, “Sampai kapan adik perempuanmu tinggal bersama kita? Menyimpan seorang gadis terlalu lama tidaklah baik. Sebaiknya kau lekas menikahkannya sebelum sesuatu yang buruk datang menimpa.”</p>
<p>Si kakak sulung mengelak, “Sabarlah. Tunggulah setengah tahun lagi. Akan kucarikan calon suami yang tepat lalu kita nikahkan dia.”</p>
<p>Namun, sebelum setengah tahun berlalu, hal yang buruk telah datang lebih cepat dari yang diduga. Semuanya bermula pada suatu siang ketika Xulan dan Ching’er keluar bersama ke pasar. Dan serombongan tentara memasuki pasar dengan derap kuda membabi-buta.</p>
<p>Masa itu di China utara bermunculan panglima-panglima perang yang saling berperang untuk memperoleh daerah kekuasaan. Dan salah satu diantaranya itulah pada hari itu memasuki wilayah pinggiran Beijing. Kudanya nyaris menendang Xulan dan Ching’er. Kedua gadis itu begitu terkejut hingga tersungkur. Si Panglima turun dari kudanya. Dan sewaktu melihat Xulan, dia terpana.</p>
<p>“Mari kubantu kau berdiri,” pria itu mengulurkan tangan-tapi ditampik Xulan yang lebih memilih dibantu Ching’er.</p>
<p>“Wahai Nona cantik, siapa namamu dan di mana rumahmu?”</p>
<p>Xulan mendelik menatap lelaki itu. Pria itu kelihatan menakutkan.Aksen bicaranya aneh. Mungkin dia orang Mongolia. Kulitnya hitam. Tubuhnya tinggi besar. Matanya besar dan bibirnya tebal menyunggingkan senyum kurang ajar.</p>
<p>Xulan mengabaikan pria itu dan menarik Ching’er untuk pergi. Pria itu meneriakinya,</p>
<p>“Wei, kau belum menjawabku, Nona!”</p>
<p>Xulan belum pernah diteriaki seperti itu. Dia berbalik dan menatap tajam. Pria itu tertawa. Akhirnya, masih dengan senyum kurang ajarnya dia berkata,</p>
<p>“Meski kau tak mau bilang sekarang, aku toh tetap tahu siapa dirimu dan di mana kau tinggal. Berhati-hatilah karena kemungkinan aku akan menculikmu.”</p>
<p>Xulan segera menarik Ching’er pergi diiringi tawa keras lelaki itu.</p>
<p>Sorenya, seorang beberapa tentara datang mengunjungi rumah Xulan. Salah satu di antaranya, minta bertemu dengan Tuan rumah. Saudara-saudara lelaki Xulan menemuinya. Para wanita tidak diperbolehkan hadir. Tapi dari balik kisi-kisi tirai pembatas ruang tengah dan ruang tamu, Xulan dapat melihat serta mendengar jelas.</p>
<p>“Pemimpin kami, Panglima Zhao siang tadi bertemu dengan seorang gadis menawan dari rumah ini. Dia bergaun sutra merah dengan jepitan bunga anggrek di kepalanya. Apakah dia adik perempuan kalian, Tuan-Tuan?”</p>
<p>Pria yang berbicara itu tidak sama dengan yang ditemui Xulan siang tadi. Yang ini perawakannya lebih langsing. Dengan gaya bicara lembut tapi tak kalah mengintimidasinya dari sang komandan.</p>
<p>Kakak sulung Yulan menjawab kikuk. “Kami tak tahu kalau Yang Terhormat Panglima pernah bertemu adik kami. Setahu kami, seharian ini adik perempuan kami berdiam diri di kamarnya dan tidak keluar rumah.”</p>
<p>“Jangan membodohi kami, Tuan Muda,” ujar pria itu dengan nada lembut yang dibuat-buat. “Kami sudah menanyai orang-orang dan mereka semua menunjuk gadis itu tinggal di sini.”</p>
<p>Wajah kakak sulung berubah keruh.</p>
<p>“Pemimpin kami menyukainya,” lanjut pria tu. “Kalu biasanya dia langsung membawa pergi gadis pilihannya, kali ini adik perempuan kalian adalah pengecualian. Pemimpin kami sangat menghormati keluarga baik-baik dan terpelajar seperti Anda sehingga mengutusku untuk mengajukan <em>lamaran</em> resmi.”</p>
<p>Ketiga saudara lelaki Xulan pucat-pasi. Mereka tentu tahu arah pembicaraan pria itu.</p>
<p>“Malam nanti pemimpin kami akan mengirim tandu pengantin kemari. Sebaiknya kalian bersiap. Pemimpin kami tak akan lama di kota ini. Dia hanya singgah sebentar. Tapi jika malam nanti dia pergi tanpa memperoleh pengantinnya, maka…”</p>
<p>Pria itu menyeringai. Dia lalu bangkit berdiri. Sebelum keluar, dia masih berbalik sekali dan berkata kepada ketiga saudara lelaki Xulan,</p>
<p>“Ingat. Waktunya malam ini. Kalian sudah harus menyiapkannya mulai dari sekarang. Tandunya akan datang pukul sepuluh.”</p>
<p>Xulan yang mendengar sepanjang percakapan bergidik. Dia membayangkan pria yang ditemuinya siang tadi. Membayangkannya saja sudah membuatnya mual. Apalagi sekarang dia harus menjadi mempelai pria itu…? Dia tak sudi!</p>
<p>Seisi rumah gempar mendengar berita ini. Ketiga saudara lelaki Xulan berembuk di ruangan tertutup. Kaum wanita gundah-gulana. Tak terkecuali Ching’er. Dia segera bersembahyang kepada Buddha memohon kebaikan bagi Xulan.</p>
<p>Setelah hampir sejam berdiskusi, Xulan dipanggil menemui kakak-kakaknya di ruangan tertutup itu. Senja sudah mulai turun tapi lilin-lilin belum dinyalakan. Membuat suasana di ruangan itu temaram dan misterius.</p>
<p>Berikutnya, apa yang akan disampaikan ketiga saudara lelakinya tak akan pernah dilupa Xulan. Dengan setengah berbisik, kakak sulungnya memulai percakapan,</p>
<p>“Kami telah merencanakan sesuatu untukmu. Dan kau tinggal melaksanakannya…”</p>
<p>***</p>
<p>Usai pertemuan tertutup dengan ketiga kakaknya, Xulan berdiam diri di kamar. Dia tidak mau makan atau minum sehingga pelayan dapur menyuruh Ching’er membawakannya dua piring makanan kecil.</p>
<p>“Nona, ayolah makan,” bujuk Ching’er. Awalnya Xulan menolak. Tapi Ching’er membujuk terus hingga akhirnya Xulan menyerah.</p>
<p>“Baik, aku akan makan. Tapi kau harus menemaniku,” kata Xulan.</p>
<p>Ching’er lalu duduk bersamanya. Sambil makan, Ching’er mencoba menyemangati Xulan, “Nona jangan mencemaskan pria yang kita temui tadi siang. Ketiga kakak Nona adalah orang berpengaruh. Mereka pasti bisa menemukan penyelesaian masalah ini. Mungkin pria hanya ingin sejumlah besar uang. Kalau begitu ketiga kakak Nona pasti bisa menyediakannya.”</p>
<p>Dengan sumpit, Xulan memasukkan sebongkah pangsit ke mulutnya dan mengunyahnya lamba-lambat. &lt;i&gt;Seandainya saja semudah itu&lt;/i&gt;, pikirnya. Xulan menatap Ching’er dengan sendu.</p>
<p>“Adakalanya uang tak mampu menyelesaikan masalah, Ching’er. Dan kita terpaksa dituntut melakukan sesuatu di luar kemauan kita…”</p>
<p>Mendengar perkataan Xulan, Ching’er terperanjat. Dipegangnya lengan Xulan erat-erat.</p>
<p>“Nona jangan bilang, kalau Nona setuju pergi dengan pria itu. Selama ini kau hidup nyaman dan terawat. Apa yang akan terjadi padamu kelak kalau kau menikahinya?”</p>
<p>Xulan menggeleng perlahan. “Tentu saja aku tak mau ikut bersamanya, Ching’er.”</p>
<p>Ching’er menghembuskan napas lega. “Syukurlah,” katanya sambil mengelus dada. “Nona jangan sampai mengorbankan diri untuk pria semacam itu. Aku bahkan tak sudi. Kalau aku…, aku akan memilih mati daripada menikahi pria macam begitu.”</p>
<p>Senyum tipis mengambang di wajah Xulan.  <em>Tapi lelaki itu tak akan meninggalkan tempat ini sebelum membawa mempelai dari rumah keluarga Chen</em>,-hati Xulan berbisik. <em>Jika dia tidak mendapat mempelai, kemalangan apa lagi yang akan terjadi di rumah ini?</em></p>
<p>Xulan tepekur sesaat. Kemudian dia berkata kepada Ching’er, “Tolong ambilkan aku sebotol arak di dapur.”</p>
<p>“Nona sebaiknya jangan minum malam ini.”</p>
<p>“Laksanakan saja keinginanku. Aku ingin minum malam ini.”</p>
<p>Maka, pergilah Ching’er ke dapur. Tak lama kemudian dia kembali dengan sebuah nampan berisi dua botol keramik kecil. Kedua botol itu berukuran sama tapi memiliki pola hias berbeda. Satu botol bercorak bunga-bunga krisan dengan cat warna-warni cerah. Botol lainnya berwarna dasar putih dengan gambar tanaman bambu biru sebagai hiasannya.</p>
<p>Ching’er meletakkan nampan ke atas meja. “Pelayan dapur berkata hanya ada dua botol arak ini yang tersisa setelah perayaan bulan purnama tiga hari lalu. Kepala rumah tangga baru akan membeli arak baru menjelang festival <em>chongyang</em> sepuluh hari lagi.”</p>
<p>Xulan mendengar penjelasan Ching’er tanpa berkata apa-apa. Dia mengambil botol bercorak bunga-bunga krisan dan menuang isinya ke cawan Ching’er.</p>
<p>“Rupanya, isi botol ini sedikit sekali,” celutuk Xulan sewaktu menandaskan isi arak ke cawan Ching’er. Isinya benar-benar hanya cukup untuk secawan saja. Xulan mengambil botol satunya yang bergambar bamboo. “Yang ini isinya lebih banyak,” katanya sambil menuang arak ke cawannya sendiri.</p>
<p>Xulan mengajak Ching’er minum bersama. Mereka bersulang. Dan untuk sesaat, mereka seolah melupakan si panglima perang. Keduanya minum hingga tiga cawan. Usai itu, Xulan memperhatikan Ching’er dengan seksama. Pipi gadis itu merah padam seperti apel.</p>
<p>Perlahan, Xulan mencabut jepit bunga anggrek dari rambutnya. Dia lalu berdiri. Dipasangkannya jepit rambut itu ke kepala Ching’er.</p>
<p>“Apa-apaan, Nona?” Ching’er terkejut dan mencoba mengelak.</p>
<p>“Ssst, jangan bergerak, aku mencoba memasang ini di rambutmu. Nah, kelihatan cocok sekali. Ambillah untukmu, Ching’er.”</p>
<p>“Apa? Nona sudah mabuk ya?” Ching’er memprotes. “Jepit rambut ini kesayangan Nona. Mengapa memberikannya padaku?”</p>
<p>Xulan tidak langsung menjawab. Matanya berkaca-kaca seperti sungai musim gugur di malam hari.</p>
<p>“Karena malam ini aku baru menyadari kau begitu penting bagiku, Ching’er.”</p>
<p>Ching’er tersentuh mendengar penuturan Xulan. Hampir terisak, dia berkata, “Nona, kau begitu baik. Di kehidupan mendatang aku bersedia menjadi anakmu untuk membalas budimu.”</p>
<p>Xulan kembali tersenyum. Sebuah senyum getir.</p>
<p>Tiba-tiba, Ching’er merasa pusing. Beberapa kali dia mencoba memijit kepalanya-akan tetapi rasa pusing itu tetap tak berkurang. Akhirnya dia bergumam tidak jelas, “Arak apa ini? Mengapa membuat kepalaku… begitu pening?”</p>
<p>Rasa pusing Ching’er tak tertahankan lagi. Sosok Xulan di depannya berubah menjadi bayang-bayang kabur. Dia tak sanggup mengucapkan apa-apa lagi. Kepalanya ambruk ke atas meja.</p>
<p>Xulan berdiri tegak. Dia sama sekali tidak mabuk. Ditatapnya wajah Ching’er yang terkulai di atas meja. Pipinya masih semerah tadi.</p>
<p>***</p>
<p>Xulan terus diam sewaktu para pelayan memindahkan Ching’er dan membaringkannya di ranjang. Pakaian Ching’er dilepas-diganti dengan <em>cheongsam </em>merah milik Xulan. Wajahnya dibedaki. Rambut Ching’er juga dijalin mirip Xulan. Lalu jepit rambut berbentuk bunga anggrek yang diberikan Xulan padanya dipasang dengan rapi ke rambutnya.</p>
<p>Kini, Ching’er tampak menyerupai Xulan.</p>
<p>Xulan tetap diam ketika para pelayan menggiringnya keluar kamar untuk menyembunyikannya di ruangan lain. Sekitar pukul sepuluh malam, Xulan mendengar kegaduhan. Bunyi orkes pengantin membahana. Sejam kemudian sewaktu Xulan kembali ke kamarnya, Ching’er sudah tak berada lagi di sana.</p>
<p>***</p>
<p>Malam itu juga-oleh kakak sulungnya, Xulan diminta berkemas. Dua jam setelah Ching’er dibawa si panglima perang, Xulan bersama kakak ketiganya dan seorang kusir berangkat ke Hangzhou yang bermil-mil jauhnya di selatan Beijing.</p>
<p>Pertama kali tiba di Hangzhou, Xulan tinggal bersama pamannya-adik lelaki Ayahnya. Belum genap sebulan, sebuah lamaran pernikahan datang bagi Xulan dan langsung disetujui Pamannya. Meski terkesan buru-buru, Xulan beruntung dengan pernikahannya. Suaminya pria baik-baik, putra salah satu tuan tanah pemilik perkebunan teh.</p>
<p>Tapi pada malam-malam tertentu, Xulan bermimpi buruk. Dia ingat Ching’er pernah mengatakan, <em>…aku akan memilih mati daripada menikahi pria macam</em> <em>begitu</em>. Dan dalam mimpinya, Ching’er datang dalam bentuk roh orang yang mati bunuh diri. Meminta Xulan untuk menebus nyawanya.</p>
<p>Ada kalanya Xulan merasa amat menyesal telah mengorbankan Ching’er. Tidak hanya mengorbankan, sebenarnya dia juga telah <em>mengkhianati </em>pelayannya itu. Namun kata-kata saudara-saudara lelakinya lebih membuatnya merinding.</p>
<p>“Kau tak bersedia melepasnya? Pikirkan apa yang akan terjadi kalau pemberang bodoh itu tak mendapat pengantin perempuannya dari sini!”</p>
<p>“Ching’er hanya pelayan yang dibeli ibu untukmu. Setelah dia pergi kau bisa mendapat pelayan lain yang lebih baik.”</p>
<p>“Atau kau ingin dirimu yang pergi? Xulan, kami kakak-kakakmu tak akan membiarkan hal itu terjadi. Oleh karena itu, jalankanlah siasat ini. Setelah Ching’er pingsan dandani dia menyerupai dirimu. Pasangkan jepit anggrekmu ke rambutnya. Si bodoh itu pasti akan mengira Ching’er-lah dirimu.”</p>
<p>Lima tahun kemudian Xulan tetap tinggal di Hangzhou. Kini dia seorang istri dan ibu dari seorang bocah lelaki yang sehat. Dari luar kehidupannya tampak sempurna. Punya uang dan harta, serta suami penyayang.</p>
<p>Dari surat-menyurat dengan ketiga kakaknya, Xulan tahu panglima itu tidak pernah kembali ke Beijing. Begitu pula dengan Ching’er. Perlahan-lahan, Xulan berusaha mengatasi mimpi buruknya. Saudaranya benar, Ching’er hanya seorang pelayan. Dengan uang dan kekuasaannya yang sekarang Xulan bisa memperoleh lebih banyak pelayan sebaik Ching’er.</p>
<p>Lalu pada suatu hari di bulan <em>Ching Ming</em>, Xulan bersama suami dan putranya pergi berziarah kubur di sebuah pemakaman. Pemakaman tersebut terletak di sebuah bukit. Selesai berziarah, Suami Xulan mengajak putra mereka melihat-lihat pemandangan di atas bukit. Xulan yang merasa sedikit kelelahan menolak ikut. Maka dia ditinggal beristirahat pada sebuah paviliun kecil di kaki bukit.</p>
<p>Suasana di sekitar paviliun agak sepi. Di kejauhan, satu dua orang tampak berziarah kubur atau membersihkan makam. Sewaktu menunggu kembalinya suami dan putranya, seseorang memasuki paviliun dan menyapa Xulan.</p>
<p>“Nona, sudah lama aku mencarimu…”</p>
<p>Meski sudah tak terdengar semerdu dulu, Xulan tetap terperanjat mendengar suara itu. Di hadapannya, berdiri seorang wanita ber<em>chipao</em> lusuh warna biru. Seharusnya, dia baru berusia dua puluh satu tahun sekarang-tapi yang dilihat Xulan wanita itu seperti telah berusia empat puluh tahun dengan rambut lusuh dan kulit wajah mengeriput.</p>
<p>“Nona belum lupa padaku, bukan?” Ching’er berkata.</p>
<p>Kaki-tangan Xulan gemetar. “Tentu… aku tidak pernah lupa padamu, Ching’er. Apa kabar?”</p>
<p>Ching’er tertawa sinis. “Nona tahu, kabarku pasti buruk. Tahukah Nona semenjak aku ikut Zhao apa yang terjadi padaku?”</p>
<p>“Dia memperlakukanku seperti binatang. Menyiksa, memukul serta memperkosa. Suatu hari aku tak tahan dan kubentak dia, ‘Kau telah ditipu oleh keluarga Chen, raksasa bodoh! Aku bukanlah Nona Chen yang kau lihat hari itu. Aku cuma pelayannya!’ Dan Nona tahu apa yang dilakukannya kemudian? Dia memberi aku kepada bawahan-bawahannya, bedebah-bedebah yang menjarah seluruh tubuh serta jiwaku.”</p>
<p>Ching’er menatap tajam Xulan. “Malam itu seharusnya Nona-lah yang pergi. Tapi kemudian aku dijebak dan Nona bisa meloloskan diri serta hidup tenang di sini.”</p>
<p>Xulan menutup wajahnya dan bergumam ketakutan. “Bukan aku. Kakak-kakakku lah yang mempunyai ide untuk menjadikanmu sebagai pengganti. Bukan aku!”</p>
<p>“Tapi Nona tak mencegah atau menolak, bukan?” bentak Ching’er. “Nona yang begitu kupercaya, melebihi Ibu kandungku sendiri… tega melakukan ini padaku… ”</p>
<p>Mata Ching’er berkaca-kaca. Campuran antara kemarahan dan kepedihan. “Lima tahun terakhir aku selalu berpikir lebih baik mati. Aku telah menyusun rencana menghabisi nyawaku sendiri. Tapi begitu memikirkanmu Nona, aku tak rela. Paling tidak sebelum aku mati, aku harus melihatmu sekali lagi.”</p>
<p>“Jadi sekitar enam bulan lalu, sewaktu Zhao tewas oleh saingannya, aku menggunakan kesempatan itu untuk lari. Aku kembali ke Beijing, ke dekat rumah keluarga Chen mencari-cari informasi. Lalu kutahu kau sudah menikah dan tinggal di Hangzhou. Jadi aku kemari. Tidak sulit mencarimu-apalagi keluarga suamimu cukup terkenal. Aku sudahcukup lama mengawasimu, Nona. Hingga menemukan saat yang tepat seperti ini buat mendekatimu. Kulihat kau juga telah menjadi seoran ibu. Aku dulu juga nyaris… Sampai mereka mengetahuinya dan memukul perutku hingga janinku keguguran.”</p>
<p>Xulan mundur karena Ching’er terus maju menghampirinya. “Sekarang Ching’er, maumu apa?”</p>
<p>Ching’er menatap Xulan dalam-dalam dengan tatapan tajam menohok. “Dulu kemanapun kau pergi, kau selalu mengajakku, Nona ,“ Ching’er mengangkat tangannya. “Sekarang permintaanku cuma satu. Temani aku pergi ke alam baka!”</p>
<p>Xulan tidak siap sewaktu Ching’er menubruknya dan kedua tangannya mencekik erat lehernya. Napas Xulan tercekat. Tak bisa turun melewati tenggorokan. Xulan meronta. Tapi semakin dia berusaha meloloskan diri, jari-jemari Ching’er semakin erat membelitnya.</p>
<p>Kemudian tiba-tiba, Xulan terjatuh ke tanah. Beberapa orang telah datang ke paviliun itu. Termasuk suami dan putranya. Bocah lelaki itu menangis melihat Xulan.</p>
<p>Ching’er kesulitan bergerak kerena dipegang erat oleh dua pria berbadan besar. Orang-orang mulai berkerumun dan berbicara. “Nona!” teriak Ching’er. “Aku pernah bilang akan menjadi anakmu di kehidupan mendatang untuk membalas budimu. Ya, aku tetap ingin menjadi anakmu! Tapi aku akan menjadi anak yang mendurhakaimu-sebagai pembalasan atas pengkhianatanmu saat ini!”</p>
<p>Ching’er menyikut kedua pria yang mengapitnya. Setelah itu, tanpa diduga sama sekali, dia berlari ke tiang paviliun terdekat, membenturkan kepalanya.</p>
<p>Terdengar bunyi tengkorak retak. Orang-orang menjerit. Tak lama kemudian darah keluar dari kepala Ching’er, mengalir melewati dahi, mata, hidung, pipi serta menetes-netes di bajunya. Ching’er tewas dengan mata terbuka.</p>
<p>Xulan gemetar dari ujung kepala hingga kaki. Dan dia menjerit keras.</p>
<p>***</p>
<p>Sejak saat itu Xulan semakin sering bermimpi buruk. Dalam mimpinya Ching’er mengejar-ngejarnya tapi dia kesulitan berlari sehingga tak bisa meloloskan diri. Sewaktu bangun, sekujur tubuh Xulan berkeringat dan lehernya seolah tercekik.</p>
<p>Xulan juga mulai berhalunisasi. Dia menjadi gampang ketakutan dan selalu melihat arwah Ching’er di mana-mana. Ibu mertuanya memanggil beberapa dukun pengusir setan. Namun, meski telah melakukan banyak ritual rumit dan mahal, tak satu pun berhasil menyembuhkan Xulan.</p>
<p>Dari hari ke hari kondisi mental Xulan semakin parah. Keluarganya mulai mengucilkannya. Tidak sampai setahun, Xulan yang dulunya adalah Nyonya muda kaya disegani kini dikunci di kamarnya sendiri.</p>
<p>Dia telah berubah menjadi gila.</p>
<p style="text-align:right;">Makassar, 19 Juli 2009</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/merlinherlina.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/merlinherlina.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/merlinherlina.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/merlinherlina.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/merlinherlina.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/merlinherlina.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/merlinherlina.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/merlinherlina.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/merlinherlina.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/merlinherlina.wordpress.com/228/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=merlinherlina.wordpress.com&blog=3713065&post=228&subd=merlinherlina&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://merlinherlina.wordpress.com/2009/07/19/chinger-xulan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/631a6d7561a2a506d1e4a89b9c06ad81?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">merlinherlina</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lilian dan Pelajaran Memasak (Part 2)</title>
		<link>http://merlinherlina.wordpress.com/2009/03/09/lilian-dan-pelajaran-memasak-part-2/</link>
		<comments>http://merlinherlina.wordpress.com/2009/03/09/lilian-dan-pelajaran-memasak-part-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Mar 2009 13:02:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>merlinherlina</dc:creator>
				<category><![CDATA[BAHASA HATIKU]]></category>
		<category><![CDATA[FIKSI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://merlinherlina.wordpress.com/?p=223</guid>
		<description><![CDATA[
“Apa itu?”
 Aku kaget melihat Fandi berjalan masuk dapur sambil memikul sesuatu. Dia menjatuhkan barang yang dipikulnya di lantai samping kulkas, kira-kira dua meter dari tempatku berdiri. Tiga sisir pisang raja yang ranum. Aku sampai kaget melihat bentuknya yang besar-besar.


 “Dari pelangganku di luar kota,” ujar Fandi. “Tadi pagi dia singgah ke toko dan membawa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=merlinherlina.wordpress.com&blog=3713065&post=223&subd=merlinherlina&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">“Apa itu?”</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Aku kaget melihat Fandi berjalan masuk dapur sambil memikul sesuatu. Dia menjatuhkan barang yang dipikulnya di lantai samping kulkas, kira-kira dua meter dari tempatku berdiri. Tiga sisir pisang raja yang ranum. Aku sampai kaget melihat bentuknya yang besar-besar.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span id="more-223"></span><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Dari pelangganku di luar kota,” ujar Fandi. “Tadi pagi dia singgah ke toko dan membawa ini.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Banyak sekali, Fan… Kamu pikir saya mau jualan pisang?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Kamu juga pikir saya dan Papaku monyet? Bisa makan semuanya berdua?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Saya tidak berpikir begitu,” sanggahku cekikikan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Fandi mengangkat bahu. “Yah, paling tidak kalau di sini kamu bisa mengolahnya menjadi apa kek: pisang goreng, kolak atau puding. Eh, omong-omong puding pisang tempo hari enak. Buat lagi dong…”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>”Ha! Sejak kapan saya jadi tukang masakmu? Sudah makan gratis tiap minggu siang di sini, masih juga menyuruh-nyuruhku membuat ini – itu tanpa bayaran.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Eh, bukannya kamu senang masak? Beruntunglah aku membawakanmu bahan,” Fandi menepis protesku. Aku mendengus pura-pura kesal.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Aku mengambil sebuah rantang lalu membuka tutup panci di atas kompor. Baso sapi yang kubeli kemarin sore telah matang. Melihatku menyendok kuah dan basonya, Fandi menghampiri.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Hm, baunya enak,” katanya di belakangku. Dia mengambil garpu hendak menusuk sebiji baso.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Aku memukul tangannya yang memegang garpu. “Kamu tidak boleh duluan! Ini buat Papa.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Fandi meringis sebentar dan meletakkan garpunya kembali.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Galaknya…,” dia menggerutu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Kebetulan Mama memasuki dapur. Seperti biasa dia menawarkan ‘undangan’ makan siang gratis pada Fandi yang sudah pasti diterima dengan senang hati.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Makan di sini, Pan?” kudengar Mama keliru menyebut huruf F menjadi P. Ini kebiasaan yang sulit sekali dirubah Mama sejak dulu. Dan Fandi tidak pernah keberatan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Minggu ini makan di bengkel deh, sama Shu-Shu lagi,” kata Fandi sambil menerima rantang yang telah kuisi penuh. Fandi juga memanggil Papaku dengan sebutan Shu-Shu-Paman.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Aku mengambil rantangan lain dan menuju rice cooker menyendok nasi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Belakangan kamu senang makan di bengkel bersama Papanya Lilian, ya?” tanya Mama.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Iya. Soalnya menyenangkan makan sambil ngobrol dengan Shu-Shu. Shu-Shu rajin sekali. Hari Minggu pun tetap buka bengkel.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Yah, itu sudah jadi kebiasaannya selama puluhan tahun,” Mama tersenyum seraya meninggalkan dapur. “Sehari saja tidak ke bengkel rasanya ada yang kurang…”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Tinggal Fandi dan aku berdua lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Kamu biasa ngobrol apa dengan Papaku?” tanyaku sambil menutup rantang rapat-rapat. Bengkel Papa jaraknya sekitar seratus meter dari rumah. Biasanya jika Fandi pergi makan siang di sana, dia akan tinggal sampai sore hingga bengkel tutup dan pulang bareng bersama Papa.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Fandi melipat kedua tangan di dada, tersenyum jahil.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Adalah.. Urusan lelaki.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Hmmm,” aku bergumam seraya melontarkan pandangan sinis padanya. “Sebaiknya kamu jangan terlalu sering ke sana.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Kenapa?” tanya Fandi heran.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Nanti bisa timbul salah paham.” </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Karena?” </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Aku berbalik ke arahnya. Tangan kananku kuselipkan di pinggang. “Karena kamu <em>satu-satunya</em> temanku-yang <em>cowok</em>, yang paling sering nongol di bengkel Papa.” </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Fandi menampakkan wajah lugu seolah dia bocah polos yang sungguh tak tahu apa-apa. “Aku tidak mengerti,” katanya mengangkat bahu. “Apakah itu bisa menimbulkan salah paham?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Ya!” sahutku gemas. “Nanti kau dikira calon menantu Papa!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Fandi diam sedetik. Kemudian dia tertawa. Dia mengambil bungkusan rantang dan bersiap pergi. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Masak ada orang usil yang punya pikiran semacam itu?” </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Aku teringat pada beberapa Ayi – sebutan kepada saudara perempuan Mama, yang pernah menanyakan soal hubunganku dengan Fandi. Mereka curiga kalau aku dan Fandi pacaran meski telah kusanggah. Aku baru saja mau mengatakannya tapi Fandi memotongku sambil nyengir, “Yah, kalau ada yang berpikir begitu, aku tidak keberatan.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Apa?” aku terkejut sampai mencengkeram serbet kuat-kuat.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Fandi berjalan cepat ke arah pintu. Dia mengulang perkataannya-sengaja membuatku marah. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Aku tidak keberatan kalau kita pacaran!” </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Kau!” aku memekik dan serbet melayang dari tanganku.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Fandi berhasil menghindar. Dan dia tertawa penuh kemenangan karenanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Aku dan Fandi sudah saling mengenal sejak kami masih kecil. Rumah kami berdekatan. Cukup jalan kaki keluar dari lorong rumahku lima belas meter. Terus belok ke kiri dan carilah rumah toko keempat. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Jadi tidak heran kalau kami bersahabat sampai sekarang bukan?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Tapi jangan dikira pertemanan kami selalu berjalan mulus. Ketika masih kecil, aku justru menganggap Fandi sebagai musuh bebuyutanku. Dulu dia terkenal sebagai salah satu anak terbandel di lingkungan kami. Aku tidak menyukainya karena dia selalu menjahiliku dan mengejekku sebagai ‘Cewek Gendut’. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Waktu kecil aku memang montok. Orang tuaku tidak pernah keberatan. Entah kenapa, justru berandal kecil satu ini yang merasa terganggu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Meski usia Fandi satu setengah tahun lebih tua dariku, dia terlambat masuk sekolah. Jadilah kami satu sekolah ketika SD dan sekelas terus selama enam tahun berturut-turut. Waktu itu, aku semakin membencinya karena kelakuannya. Bagaimana tidak? Dia mengajari teman-temannya untuk ikut mengejekku ‘Cewek Gendut’.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Tiba masanya ketika kesabaranku habis menghadapinya. Suatu hari ketika kami kelas empat dan permainan kasti sedang <em>in</em> di sekolah kami. Fandi terkenal sebagai pemukul terbaik. Dia selalu tak sabar memukul bola yang diarahkan padanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Lalu, dia memarahiku.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Hei, Gendut! Cepat lempar bolanya!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Aku jengkel sekali. <em>Cukup sudah!</em><span> </span>Aku tak mau dihina sebagai ‘Cewek Gendut’ selamanya. Jadi aku melempar bola kasti hijau dengan dua garis putih itu dengan penuh kebensian ke arahnya. Bola melayang di udara. Betapa kuberharap bola tersebut berubah menjadi batu dan melukai anak brengsek itu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span><em>‘Buk!’</em><span> </span>Bola mengenai pemukul Fandi. Teman-teman kami bersorak. Tapi sejurus kemudian aku mendengar suara melolong. Sorak-sorai berhenti. Dan di hadapan kami Fandi terjongkok sambil memegang mata kirinya yang terkena hantaman bola kasti.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Seminggu kemudian, lingkaran biru besar menghiasi mata kiri Fandi. Aku mengira Fandi akan mengadu pada orang tuanya. Dan Shu-Shu Eng akan ke rumah mencariku untuk membuat perhitungan karena telah menyakiti putra satu-satunya. Tapi hal itu tidak pernah terjadi. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Kata para <em>simpatisan</em>ku (teman-teman yang <em>pro</em> denganku), lemparanku <span> </span>itu benar-benar mujarab. Bola itu tidak hanya mengenai mata Fandi tetapi juga mampu merontokkan sumbatan nadi di otaknya. Kalau diperhatikan, memang sejak pelemparan itu pelajaran berhitung Fandi maju pesat. Entah ada hubungannya atau tidak. Yang pasti hubungan kami sempat <em>mendingin </em>selama beberapa bulan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Kami baru mulai saling berbicara lagi saat kelas lima. Dan sejak itu Fandi tak pernah lagi memanggilku ‘Cewek Gendut’. Dia sudah memanggil nama ”Lilian” dengan sopan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Ada sebuah peristiwa terjadi ketika kami kelas enam. Mama Fandi meninggal. Dan dia tidak meninggal sendiri. Bersamanya ikut janin bakal adik Fandi yang berusia lima bulan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Seingatku, Mama Fandi wanita yang cantik. Kelihatannya jauh lebih muda daripada Shu-Shu Eng. Dan ada saja mulut-mulut usil orang-orang tak berperasaan menghembuskan gosip kejam. Baru sehari istri Shu-Shu Eng dimakamkan, telah tersebar desas-desus kalau dia meninggal karena bunuh diri. Dia mendengar kalau Shu-Shu Eng selingkuh. Kecewa dengan pengkhianatan suaminya, dia memutuskan menggugurkan kandungan dengan tanaman jarak di kamar mandi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Mama Fandi memang ditemukan tergeletak di kamar mandi dengan kaki bersimbah darah. Belasan tahun kemudian Fandi bercerita padaku cerita sesungguhnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Dulu Mama sering keguguran. Aku beberapa kali gagal punya adik baru,” kata Fandi menerawang. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Lalu tahun itu ketika Mama hamil lagi, dokter mendapati ada tumor di rahimnya. Mama diminta aborsi supaya dia bisa selamat. Tapi Mama menolak. Dia berharap keajaiban bisa melahirkan adikku. Tapi dugaannya meleset. Baik dia maupun adikku, dua-duanya tidak selamat.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Shu-Shu Eng sangat terpukul oleh kematian istrinya. Toko Sinar Waja-nya sempat terbengkalai selama beberapa waktu. Bukan hanya itu, Fandi tidak terurus. Sampai-sampai anak itu menjadi liar. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Kenapa kamu atau Papamu tidak pernah mengklarifikasi gosip itu &#8211; jika memang tidak benar?” tanyaku.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Fandi menjawab,”Keluarga terdekat kami tahu soal itu. Tapi aku sendiri baru tahu waktu kelas tiga SMP.” Fandi tertawa. “Sejujurnya, aku sempat mengira gosip itu benar. Sepeninggal Mama, Papa uring-uringan dan selalu keluar rumah. Aku sudah berkesimpulan kalau Papa memang punya wanita simpanan.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Menginjak SMP, Fandi dan aku pisah sekolah. Tiga tahun berikutnya kami sesekali saja <span> </span>bertemu. Setiap kali bersua, Fandi semakin jangkung tapi juga kurus. Meski jarang bertemu, aku tahu perkembangannya dari cerita yang beredar di lingkungan kami. Kudengar Fandi sering membuat Shu-Shu Eng marah. Keduanya sering bertengkar. Di sekolahnya, Fandi bergabung dengan kelompok preman. Dia mulai merokok, membangkang dan ikut tawuran. Prestasi belajarnya parah. Pada awal kelas tiga, Fandi dikeluarkan gara-gara terlibat tawuran besar dengan anak-anak sekolah lain. Dia sampai dirawat di rumah sakit. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Jadi, kapan hubunganmu dan Shu-Shu Eng kembali membaik?” tanyaku penuh minat. Jika melihat kedua Ayah-beranak ini sekarang, tak ada yang percaya kalau dulu mereka pernah melewati masa-masa sulit.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Waktu di rumah sakit itu,” Fandi tersenyum.”Aku menyebutnya kembali ke titik nol. Papa menemaniku sepanjang malam. Kami berdua saja. Membicarakan banyak hal. Papa menceritakan penyebab kematian Mama. Katanya dia menunggu tiga tahun karena menganggap usiaku masih kecil sewaktu Mama meninggal.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Papa menceritakan kesedihannya. Kegelisahannya karena akan lanjut membesarkanku sendirian. Dia sering keluar rumah setelah Mama meninggal karena selalu teringat Mama. Mama meninggalakan terlalu banyak jejak di setiap sudut rumah kami.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Aku juga menceritakan kesedihanku. Mendadak ditinggal pergi oleh wanita yang setiap hari kutemui. Yang merawatku dari kecil. Aku gelisah karena sebelumnya belum pernah begitu jauh berpisah dari Mama. Aku merindukan wangi shamponya. Dan masakannya, aku tidak pernah bisa memakannya lagi.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Fandi terdiam. Dan aku dibiarkan sendiri membayangkan malam sewaktu Ayah-putra ini berbincang-bincang di kamar rumah sakit. Mungkin suasananya cukup melankolis hingga dua-duanya menitikkan air mata. Mungkin pula keduanya sempat berpelukan untuk saling menguatkan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Yang jelas setelahnya itu keduanya pulih. Shu-Shu Eng kembali menjalankan Toko Sinar Waja-nya. Dan Fandi lulus SMP dengan nilai lumayan. Dia juga lolos seleksi di salah satu SMA unggulan. Kebetulan, aku juga lolos seleksi di SMA yang sama.<span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><br />
<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/merlinherlina.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/merlinherlina.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/merlinherlina.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/merlinherlina.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/merlinherlina.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/merlinherlina.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/merlinherlina.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/merlinherlina.wordpress.com/223/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/merlinherlina.wordpress.com/223/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/merlinherlina.wordpress.com/223/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=merlinherlina.wordpress.com&blog=3713065&post=223&subd=merlinherlina&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://merlinherlina.wordpress.com/2009/03/09/lilian-dan-pelajaran-memasak-part-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/631a6d7561a2a506d1e4a89b9c06ad81?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">merlinherlina</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lilian dan Pelajaran Memasak</title>
		<link>http://merlinherlina.wordpress.com/2009/02/22/lilian-dan-pelajaran-memasak/</link>
		<comments>http://merlinherlina.wordpress.com/2009/02/22/lilian-dan-pelajaran-memasak/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Feb 2009 14:34:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>merlinherlina</dc:creator>
				<category><![CDATA[BAHASA HATIKU]]></category>
		<category><![CDATA[FIKSI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://merlinherlina.wordpress.com/?p=216</guid>
		<description><![CDATA[
Kantung plastik hitam yang kubawa ternyata berat juga.
 Maklum, isinya rupa-rupa belanjaanku sore itu. Sebotol saus tiram seberat tujuh koma tujuh ons. Sebotol kecap manis ukuran enam ratus dua puluh milliliter. Sekilo baso sapi. Setengah kilo cumi beku yang sudah dibersihkan. Juga ada beberapa bungkus tepung bumbu.


 Bukan hanya berat, aku mesti hati-hati membawa kantung [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=merlinherlina.wordpress.com&blog=3713065&post=216&subd=merlinherlina&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kantung plastik hitam yang kubawa ternyata berat juga.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Maklum, isinya rupa-rupa belanjaanku sore itu. Sebotol saus tiram seberat tujuh koma tujuh ons. Sebotol kecap manis ukuran enam ratus dua puluh milliliter. Sekilo baso sapi. Setengah kilo cumi beku yang sudah dibersihkan. Juga ada beberapa bungkus tepung bumbu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span id="more-216"></span><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Bukan hanya berat, aku mesti hati-hati membawa kantung plastik itu. Kedua botol kaca di dalamnya sesekali berkelotakan. Aku khawatir mediumnya pecah sebelum isinya sempat kugunakan. Dengan persediaan botol ukuran besar seperti ini artinya aku bisa berhemat karena stoknya cukup untuk dua-tiga bulan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Sebentar lagi aku melewati toko bangunan Sinar Waja. Seperti biasa, sore-sore begitu <em>Tauke</em> tuanya<span> </span>duduk di bangku kecil depan pintu. Tokonya sudah lengang. Pintu harmonikanya siap-siap ditarik. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Ah Eng, nama si Tauke tua. Aku memanggilnya <em>Shu-Shu</em> Eng-Paman Eng.<span> </span>Penampilannya bersahaja dengan celana coklat selutut berpinggang karet dan kaus putih singlet lengan pendek-khas pria Tionghoa lanjut usia umumnya. Badannya tidak gemuk atau kurus. Kulitnya putih, berkerut<span> </span>dengan sedikit bintik-bintik hitam dan biru di pergelangan tangan dan wajah. Rambutnya abu-abu. Sekarang sudah lebih banyak helai-helai putih ketimbang hitam. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Aku dalam jarak semeter dari Shu-Shu Eng. Pandangan kami bertemu. Kulambaikan sebelah tanganku yang tidak menenteng kantung plastik ke arahnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Hai Shu-Shu Eng! Sore!” sapaku riang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Shu-Shu Eng sedang merokok. Dia membalasku seraya menggigit-gigit filter rokok di sela-sela giginya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Hei, Lilian. Kau habis belanja lagi?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Aku tersenyum. Shu-Shu Eng sepertinya sudah hapal kebiasaanku tahun-tahun belakangan ini. Setiap Sabtu sore sepulang kerja aku pasti membawa bungkusan belanja mingguan. Kadang-kadang bungkusannya besar seperti hari ini, kadang pula hanya berupa bungkusan kecil. Jumlah dan ukurannya tidak tentu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Fandi mana?” Aku melongok kepala ke dalam toko dan kulihat tak seorang pun di dalam.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Shu-Shu Eng ikut menengok.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Masih di lantai dua. Mungkin sedang mandi.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Oh,” aku bergumam sedikit kecewa. <em>Kalau Fandi ada, aku bisa meyuruhnya membawa belanjaanku sampai di rumah. </em></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Maka aku permisi dari Shu-Shu Eng. Baru lima langkah dari toko Sinar Waja, seseorang menepuk pundak kananku. Aku sedikit tersentak.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Kata Papaku kau mencariku,” kata pria yang menepukku barusan. Dia mengenakan baju kaus hitam dengan gambar lidah merah terjulur keluar, seperti angka tujuh-tujuh. Rambutnya basah sehabis keramas. Aku mencium wangi sabun dari tubuhnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Inilah Fandi, <em>Shaoye </em>– majikan mudanya Toko Sinar Waja.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Habis belanja ya?” Fandi bertanya. Tanpa menunggu jawabanku dia meraih kantung plastik hitam belanjaanku. Membawakannya untukku. Kami berdua berjalan berdampingan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Hati-hati, nanti botolnya pecah.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Fandi mengintip isi kantung. “Wah,” serunya. “Besok bakal makan enak, nih!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Aku menatap wajah riangnya. Fandi adalah teman, sahabat dan <em>saudara</em>ku yang paling baik. Sekaligus <span> </span>paling <em>tidak tahu malu</em>. Empat bulan lalu aku mengundangnya makan siang di rumah pada hari Minggu. Dan sejak saat itu dia <em>selalu </em>makan siang gratis di rumahku pada hari Minggu.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Saya belum mengundangmu buat besok,” aku mendelik.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Fandi terkekeh.”Tidak perlu undangan atau pemberitahuan, ini kan sudah menjadi <em>rutinitas</em> yang kita sepakati setiap hari Minggu,” dia menekankan pada kata <em>kita.</em></span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span></span></em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">“Seingatku kita tidak pernah buat kesepakatan itu deh,” balasku juga menekankan pada kata <em>kita</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Fandi berjalan selangkah lebih cepat. Dia meledekku. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Terserah! Yang jelas Mama dan Papamu mengijinkan aku makan di rumahmu setiap hari Minggu!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Aku senang memasak meski tak bermaksud menggelutinya secara professional.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Profesiku yang sesungguhnya adalah karyawan di salah satu travel yang buka enam hari seminggu. Jadi, Senin hingga Jum’at, dari pukul delapan hingga lima sore tugasku selalu berhubungan dengan komputer, tiket serta agenda tour. Aku sudah bekerja di sana selama satu setengah tahun sejak aku lulus kuliah sebagai Sarjana Ekonomi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span><span> </span>Pada hari Sabtu, kantorku tutup jam dua siang. Biasanya kami melakukan kroscek pekerjaan selama seminggu dan meeting. Kadang-kadang ini memakan waktu hingga jam empat sore. Paling lama setengah lima. Setelah itu aku akan mengucapkan salam perpisahan dan sampai jumpa di hari Senin kepada kawan-kawanku lalu naik angkot.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Tapi aku tidak langsung pulang seperti biasanya. Pada hari Sabtu sore aku biasanya singgah di pasar tradisional yang buka dari pagi hingga malam. Jaraknya kira-kira dua ratus meter dari rumah. Di sebelahnya ada swalayan. Sesekali aku masuk ke sana juga kalau ada promosi atau membeli makanan beku. Sehabis itu, aku tinggal jalan kaki pulang ke rumah, melewati toko bangunan Sinar Waja. Kalau belanjaku banyak, aku berharap semoga Fandi ada di toko dan membantuku membawakannya sampai rumahku. Kadang-kadang juga dia tak ada. <em>Ya</em>, tidak masalah. Aku tetap masih bisa menentengnya sampai ke rumah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Bisa dibilang aku belajar masak secara otodidak. Mama bukan sosok perempuan Tionghoa yang gemar memasak. Mungkin kedengaran sedikit aneh. Tapi sungguh, dulu Mama tak bisa membedakan <em>angsio</em> dan minyak wijen. Dia juga tidak tahu kegunaan <em>sapo</em>-mangkuk tanah liat tahan panas, peninggalan Nenek. Bukan hanya itu, Mama juga bingung membedakan biji ketumbar dan merica. <em>Nata de coco</em> dan kolang-kaling. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Mau tahu hal yang membuat Mama tergila-gila? Majalah mode dan infotainment. Mama berlangganan majalah mode mingguan. Untuk infotainment, aku suka protes agar dia tak menonton tayangan itu terlalu banyak. Isinya cuma gosip dan gosip. Apa <em>bagus</em>nya acara begitu? </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Tapi Lilian, di sana Mama bisa lihat gaya berpakaian selebritis terbaru. Bagus-bagus dan seksi. Seharusnya kamu nonton itu buat memperbaiki caramu berpenampilan.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Aku mendengus saja kalau Mama berkata begitu. Aku memang bukan <em>tipe up to date.</em> Istilah bahasa Tionghoa, aku ini <em>pu shu</em>-terlalu sederhana. Tapi aku juga bukan tipe <em>jadul</em>, kok. Aku tahu kalau baju dengan bantalan bahu tidak lagi trend sekarang. Kaus serta kemeja ketat lebih pas dikenakan, serasi dengan rok atau jeans. Kalau lipstik <em>glossy</em> masa kini bisa membuat kita terlihat fresh dan muda ketimbang yang <em>matte</em>. Tapi meski rebonding sedang marak, itu belum pernah kucoba karena aku merasa rambutku lurus-lurus saja, </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Mama seharusnya menjadi desainer atau pengamat mode. Bukannya istri seorang pemilik bengkel motor. Dia punya bakat alami di bidang fashion dan penampilan. Atau minimal Mama bisa jadi penjahit atau buka salon. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Tapi Papamu tidak mengijinkan,” kata Mama suatu hari. Papaku tipe pria yang kalau sampai istrinya membuka usaha, artinya kemampuannya sang suami dalam mencari uang sudah berkurang. Dan ini bisa berakibat fatal karena Papa menganggap ini melukai harga dirinya. Papa sebenarnya pria Tionghoa yang cukup moderat. Tapi entahlah untuk yang satu ini, pendapatnya tak bisa dirubah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Namun bukan<span> </span>berarti Mama tidak bisa memasak sama sekali. Mama sebenarnya paling jago memasak sup. Sejak dulu sup buatannya selalu menjadi favoritku dan Papa. Dia tak pernah menengok buku resep. Bumbu utama Mama hanya garam dan gula. Yang membuat tumisan sayurnya mewangi cuma kecap asin. Sesekali dia memakai vetsin. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Aku beruntung karena Mama tidak pernah menuntutku untuk belajar memasak. Semasa sekolah hingga kuliah, aku jarang sekali masuk dapur. Masa-masa itu aku menganggap dapur sebagai tempat panas dan tidak menyenangkan. Sehingga kalau masuk ke sana dan terkena setetes air mendidih saja aku menggerutu. Terpercik minyak panas dari penggorengan aku uring-uringan.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Lalu mendadak, usai lulus kuliah aku mulai belajar memasak.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Setelah lulus kuliah, aku sempat menganggur tiga bulan sebelum akhirnya diterima bekerja di kantor travel yang sekarang. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Kemauan belajarku itu mungkin timbul dari tambahan pengetahuanku soal memasak dari buku-buku dan majalah-majalah yang kubaca. Sehabis membaca kupikir memasak tak serepot kukira. Mungkin pula karena dapur rumah kami telah direnovasi. Desain barunya segar dengan ubin-ubin putih diselingi ubin-ubin kikiran berwarna hijau pada setiap tepinya. Langit-langit dapur kami dibuat lebih tinggi daripada sebelumnya sehingga asap hasil memasak tidak lagi membuatnya sumpek. Dan yang lebih utama adalah kompornya. Mama akhirnya mengganti tiga kompor minyak tanahnya dengan kompor gas bermata dua.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Ya, kenapa tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya kalau kompor bisa jadi merupakan penghalang utamaku dalam belajar memasak. Aku selalu terlalu takut untuk menggunakan kompor minyak tanah karena sejak kecil aku selalu diwanti-wanti Mama, “Lilian, jangan dekat-dekat kompor itu. Jangan bermain-main dekatnya. Jangan utak-atik kompornya kalau sedang menyala…,” dan sebagainya. Ketika usiaku sepuluh tahun, tetangga dua rumah kami kebakaran. Penyebabnya, kompor minyak tanah yang meledak.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Jadi aku mulai belajar memasak. Mama bertindak sebagai <em>chaperon</em>-pendamping di dapur. Dari Mamalah aku mengenal bumbu-bumbu dasar. Mama juga memberiku satu tips sewaktu mengupas bawang merah dan Bombay. “Jangan mengupas melawan arah angin. Matamu akan kepedisan nanti. Kupaslah melawan arah angin.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Karena aku masih baru di dapur dan dapur masih merupakan tempat ‘asing’ bagiku, Mama tak henti-hentinya mengingatkan hal-hal seperti,”Perhatikan gasnya kalau tabungnya baru diganti. Jangan langsung menyalakan kompor. Tunggu beberapa saat. Kalau kau tak mencium bau gas, itu artinya kompornya baru siap dinyalakan.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Kalau mengiris, jari-jari yang memegang barang yang hendak diiris harus ditekuk seperti orang sakit kusta supaya pisau tidak mengiris kuku-kukumu.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Jangan berbicara di atas masakan, nanti air liurmu jatuh ke dalamnya.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Jangan bubuhkan garam terlalu banyak dalam masakan, nanti kau dikira sudah <em>kebelet</em> kawin karena makananmu keasinan.” <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Demikianlah Mama menceritakan padaku berbagai kisah serta pantangan tentang dapur. Dan kisah-kisah itu mulai dari yang logis sampai yang sifatnya tahayul. Aku pun mulai akrab dengan dapur.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Karena makin terbiasa memasak akhirnya aku mahir. Api yang menyala tiba-tiba jika wajan berisi minyak panas dituangi bumbu tak lagi membuatku panik. Terseduh sedikit air panas untuk mengelupas sisik ikan tidak membuatku menggerutu lagi. Makin banyak berlatih membuat masakanku tak lagi gosong. Dan aku jadi tahu kalau daging yang amis bisa dinetralisir dengan jeruk nipis atau jahe. Rasa manis daging ikan paling terasa jika ditim, kedua dibakar dan terakhir digoreng. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Ketika aku mulai bekerja, memasak semakin penting lagi bagiku. Karena bekerja seminggu enam hari, aku hanya bisa memasak pada hari-hari libur. Aku senang memasak sebab aku menemukan kedamaian di dalamnya. Tak ada hal lain yang kupikirkan atau kucemaskan selain campuran bumbu-bumbu yang kutuangkan dalam wadah. Waktu-waktu terasa berharga bagiku ketika menunggu masakan matang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Memasak adalah obat penenangku. Kegembiraanku dari rutinitas seorang karyawan travel. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span><span> </span>Dan ada kebahagiaan sewaktu melihat orang-orang menikmati masakan hasil jerih-payahmu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><em><span> </span></em></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><em><span> </span></em></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span><span> </span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/merlinherlina.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/merlinherlina.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/merlinherlina.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/merlinherlina.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/merlinherlina.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/merlinherlina.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/merlinherlina.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/merlinherlina.wordpress.com/216/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/merlinherlina.wordpress.com/216/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/merlinherlina.wordpress.com/216/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=merlinherlina.wordpress.com&blog=3713065&post=216&subd=merlinherlina&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://merlinherlina.wordpress.com/2009/02/22/lilian-dan-pelajaran-memasak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/631a6d7561a2a506d1e4a89b9c06ad81?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">merlinherlina</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dialog Dengan Pi</title>
		<link>http://merlinherlina.wordpress.com/2009/02/22/dialog-dengan-pi/</link>
		<comments>http://merlinherlina.wordpress.com/2009/02/22/dialog-dengan-pi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Feb 2009 10:32:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>merlinherlina</dc:creator>
				<category><![CDATA[BAHASA HATIKU]]></category>
		<category><![CDATA[FIKSI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://merlinherlina.wordpress.com/?p=208</guid>
		<description><![CDATA[
“Saya sudah selesai membaca buku Anda, Mr. Patel.”
 Lelaki awal lima puluhan itu mendekati meja pendek tempat peralatan minum tehnya berada.
 “Life Of Pi?” katanya seraya mengangkat teko perak. “Menurutmu buku itu bagus, bukan? Yann Martel memang penulis hebat.”


 “Mm..m…”
 Saya bangkit berdiri menghampiri pria itu. Kini dia menuang teh panas dalam teko ke dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=merlinherlina.wordpress.com&blog=3713065&post=208&subd=merlinherlina&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">“Saya sudah selesai membaca buku Anda, Mr. Patel.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Lelaki awal lima puluhan itu mendekati meja pendek tempat peralatan minum tehnya berada.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“<em>Life Of Pi</em>?” katanya seraya mengangkat teko perak. “Menurutmu buku itu bagus, bukan? Yann Martel memang penulis hebat.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span id="more-208"></span><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Mm..m…”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Saya bangkit berdiri menghampiri pria itu. Kini dia menuang teh panas dalam teko ke dalam dua cangkir keramik.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“<em>Yeah</em>, Yann Martel penulis hebat,” saya mengulang perkataannya. Lelaki itu tersenyum.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Susu atau gula?” </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Gula.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Lelaki itu memasukkan sebongkah gula batu ke dalam cangkir. Dia mengangsurkan cangkir tersebut kepadaku. Ucapan terima kasih yang terlontar dari kerongkonganku kemudian seperti bisikan. Saya menghirup teh seteguk. Belum terlalu manis. Gula batunya belum hancur. Seandainya ada melati dalam teh ini, tentu aromanya lebih nikmat.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Lelaki itu juga menghirup tehnya dan kembali ke sofa. Saya mengikutinya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Jadi setelah membaca kisah itu, kau menjadi percaya Tuhan?” </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Saya memandangnya sejenak. Lelaki itu tersenyum ramah. Wajahnya khas dari tanah Hindustan. Kepalanya mulai botak dengan sela-sela rambut yang memutih.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Cangkir saya letakkan di meja. “<em>Well</em>, Mr. Patel. Buku itu tidak menambah kepercayaan saya pada Tuhan.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“<em>Oh</em>?” Lelaki itu tampak terkejut. Dia menyesap tehnya lagi. “Kalau begitu Anda berbeda dari orang kebanyakan, Miss Chung. Dari semua orang yang telah kutemui dan telah membaca buku itu mengaku kalau mereka menjadi atau lebih percaya kepada Tuhan daripada sebelumnya.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Mm..,” tangan kanan saya mengusap dagu seolah berpikir keras. “Tapi saya lihat itu tidak berlaku buat saya.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Lelaki itu meletakkan cangkir ke atas meja. Kedua telapak tangannya bertautan. Atmosfir percakapan ini terasa menjadi serius. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Kalau begitu, apa yang kau temukan di dalamnya?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Saya coba memikirkan sesuatu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Lelaki itu coba memberi petunjuk,”Orang secerdas Anda pasti menemukan ‘sesuatu’ dari segala hal yang dibaca. Nah, dalam <em>Life Of Pi</em>, apakah ‘sesuatu’ itu?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Saya coba menemukan ‘sesuatu’ itu. Bibir saya sempat berkerut sebelum menjawab dia, “Saya kira adegan Anda bertahan hidup di atas sekoci itu salah satu yang berkesan. Saya merasa teori seleksi alam Charles Darwin terparaktek sempurna di situ.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Lelaki itu memejamkan mata sambil mengangguk-anggukkan kepala. Saya tidak yakin pikirannya sama dengan saya. Saat itu di benak saya terlintas sebuah kapal sekoci tanpa atap. Sekoci dengan panjang delapan meter pasti cukup panjang buat menampung: seorang anak lelaki usia enam belas tahun, seekor zebra, <em>hyena</em>, orang utan dan… <em>Richard Parker.</em></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Saya membayangkan sekoci itu di tengah-tengah samudera Pasifik. Si anak lelaki tidak tahu sekoci itu akan berlayar ke mana. Dia sangat sedih, sekaligus ketakutan. Adegan saat si <em>hyena</em> yang kelaparan mulai menerkam kaki zebra yang patah. Lalu bagian-bagian tubuhnya yang lain, isi perutnya. Darah menetes-netes dari hidung zebra jatuh ke laut memancing kehadiran segerombolan hiu. Ketika zebra telah menjadi bangkai, <em>hyena </em>memangsa si orang utan. Dan akhirnya, si <em>hyena </em>dimangsa oleh hewan lebih besar: <em>Richard Parker.</em></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span><span> </span>“Anda pasti sulit membayangkan bagaimana anak lelaki itu bisa ‘berdamai’ dengan seekor harimau Bengal dan hidup berdampingan selama enam bulan bersamanya di atas sekoci itu, bukan?” </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Lelaki itu rupanya telah membuka kedua matanya. Kedua tangannya masih bertaut. <span> </span>Kening saya berkerut. Ya, agak sulit membayangkannya. Anak lelaki itu lalu tinggal berdua saja bersama Richard Parker, si harimau Bengal &#8211; di sekoci itu. Ketika persediaan logistik di sekoci habis, si anak menghapus dahaganya dengan minum darah penyu. Tanpa pilihan lain, dia hanya menyantap daging mentah. Dan supaya si harimau Bengal tak memangsanya, si anak lelaki harus berbagi santapan dengannya. Ikan tebang, ikan <em>dorado</em> atau daging penyu, dilempar <span> </span>ke arah Richard Parker.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Menurut saya Anda berhasil menaklukkan Richard Parker, <em>Sir, </em>”kata saya kemudian. “Anda dan dia berhasil menciptakan teritori di sekoci itu. Dia tak bisa melanggar teritori Anda, begitu pula sebaliknya. Lalu tatapan mata, ya, <em>tatapan mata. </em>Saya setuju dengan hukum itu, <em>jangan sampai melepaskan kontak mata</em>. Bahkan pada binatang pun, mata berfungsi sebagai jendela. Jendela menuju jiwanya.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Lelaki itu tersenyum. Dia melepaskan tautan kedua tanganya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Saya senang mendengar kalimatmu barusan. ‘Mata berfungsi sebagai jendela menuju ke dalam jiwa’ – jiwa seluruh makhluk hidup. Tahukah Anda Miss Chung, di jiwa itu… di jiwa itulah Tuhan bersemayam.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">“Tapi saya geli dengan sikap Anda, Mr. Patel,” kata saya kemudian.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Sebelumnya kurang lebih tiga puluh menit berselang, lelaki itu bermonolog tentang agama dan Tuhan di hadapan saya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Karena?” dia bertanya alasan kegelian saya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Mana mungkin seseorang bisa menganut tiga agama dalam waktu bersamaan?”<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Sekali lagi lelaki itu menyunggingkan senyum. “Bisa saja,” ujarnya santai.”<em>Aku</em> contohnya.”<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“<em>Well</em>, mungkin Anda bisa, <em>Sir</em>. Tapi pengalaman pribadi menunjukkan saya tak bisa menjadi Katolik, Protestan dan Buddhis dalam waktu bersamaan.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Kau pernah beragama?” tanyanya tercengang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“<em>Yeah</em>.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Anda pernah mengenal Kristus?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“<em>Well</em>…, <em>Yeah</em>. Saya masih hafal doa Bapa Kami hingga sekarang.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Sebelah alis lelaki itu terangkat. “<em>Pardon me</em>,” katanya kemudian.”Tadinya kukira Anda agnostik dari awal.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Saya tersenyum. Saya baru menyadari kalau sedari tadi saya mungkin tidak tersenyum sebanyak dia kepada saya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Saya dulu belajar agama, Mr. Patel. Di negara tempat saya dibesarkan agama termasuk salah satu kurikulum wajib di sekolah. Di negara asal Anda,  India, kita bisa saja anak keluarga Hindu yang masuk sekolah Kristen tanpa harus mempelajari agama Nasrani. Di benua Amerika adalah semacam ‘dosa’ jika sewaktu mengurus dokumen-dokumen penting petugas menanyai apa agama kita. Tapi tidak demikian di negara asal saya.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Kini giliran kening lelaki itu yang berkerut.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Jadi menurutmu seseorang seharusnya punya <em>satu</em> agama saja, itu sudah cukup?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“<em>One is enough. Two are too much</em>.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Tapi aku tidak sependapat,” Lelaki itu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kita punya beragam cara untuk memuja Tuhan.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“<em>Yeah</em>, memang,” saya setuju dengannya untuk hal ini.”Tapi saya tetap tak bisa mempraktekkan tiga agama sekaligus dalam memuja Tuhan. Saya tidak bisa meniru Anda menyerukan <em>Batara Krishna</em>, <em>Haleluya Yesus</em> dan <em>Allahuakbar</em> bersamaan.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Lelaki itu tertawa terbahak-bahak. “Kau terdengar seperti Ibu dan Ayahku. Juga kakakku Ravi. Dan ketiga pemuka agama itu. Mereka dulu juga berdebat ketika mengetahui aku menganut tiga agama sekaligus.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Bukan hanya menganut, Anda juga mempraktekkannya dengan sempurna. Yann Martel menuliskannya dengan jelas: ‘Kamis ke kuil, Jum’at ke masjid dan hari Minggu ke gereja.’</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Lelaki itu menyambung,”Saya melakukan puja, shalat dan berdoa. Tidak hanya Veda, tetapi saya juga membaca Quran dan Alkitab.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span><span> </span>Saya termangu sejenak. Lelaki itu bangkit membawa cangkirnya ke meja pendek tadi. Tehnya telah habis sementara punyaku masih penuh tapi telah mendingin. Kami berdua tak berkata apa-apa.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Di satu sisi saya kagum dengan Anda, Mr. Patel,” kata saya memecah keheningan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Kagum?” Lelaki itu mencoba menyambung percakapan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Yeah, tentu saja karena ‘prestasi’ Anda yang itu.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Saya mengacungkan dua tangan. Dengan jari tengah dan telunjuk membentuk tanda kutip dua kali di udara.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Lelaki itu tidak berkata apa-apa tapi dia mengerti. Dia hanya tersenyum melihat simbol yang kubuat.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Di beberapa tempat di muka bumi ini orang biasa baku bunuh karena perbedaan persepsi tentang Tuhan tapi pada diri Anda saya melihat perdamaian semuanya.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Saya hanya memuja Tuhan, Miss Chung.” Lagi-lagi jawaban itu. Sekilas terdengar sederhana tetapi<span> </span>saya mulai memahami maknanya yang sangat dalam.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Mengapa mereka yang bertikai itu tak bisa meneladani separuh saja dari sikap Anda, Mr. Patel? Maksudku, tak perlu sampai memeluk agama yang berbeda tetapi <em>tolerirlah</em> satu sama lain.” <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Karena egoisme salah satu sifat manusia, Miss Chung. Itu yang membuatnya <em>manusiawi</em>.”<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Saya menundukkan kepala ke arah permadani Persia yang menutupi lantai ruang tamu itu. Ujung <em>higheels </em>–ku mengetuk-ngetuk permadani itu. Terasa empuk.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Tapi menurutku manusia seharusnya bisa ‘lebih’ daripada itu. Bukankah mereka diciptakan serupa Tuhan?” tanyaku masih mengetuk-ngetukkan higheels ke permadani. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Lelaki itu tidak langsung menjawab pertanyaanku. Rasanya dia tercenung lama. Aku pun tidak mengharapkan jawaban cepat atas pertanyaanku. Lama kemudian baru aku mendengar suaranya lagi. Kali ini aku berhenti mengetuk-ngetuk permadani dan menengadahkan kepala menatapnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Leleki itu menjawab dengan mimik serius,”Kurasa ketika menciptakan manusia, sebagian DNA Tuhan bermutasi sehingga manusia tak lagi memiliki seluruh kemuliaan-Nya.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">“Jadi apakah kau percaya Tuhan, Miss Chung?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Lelaki itu bertanya ketika kami berdua berjalan melewati selasar menuju pintu gerbangnya. Bau rerumputan pekarangan rumahnya sore itu menggelitik hidungku. Mengancamku untuk bangkis.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Syukurlah bersin itu tidak jadi. Maka, saya menjawab pertanyaannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Ya, saya percaya Dia ada. Tapi saya menolak keterlibatannya lebih jauh dalam hidupku, Mr. Patel.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Lelaki itu tertawa. “Kau tidak mendukung untuk teori penciptaan tujuh harinya?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Saya ikut tertawa. Entah mengapa, saya merasa di udara terbuka seperti ini perbincangan menjadi lebih santai. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Saya menggelengkan kepala. “Terlalu cepat untuk menciptakan segala sesuatu: alam raya, tata surya, planet bumi beserta seluruh makhluk hidup sebagai isinya-hanya dalam waktu tujuh hari.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Kau percaya <em>destiny</em>-takdir?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Di tangan-Nya? Tentu saja tidak.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Kami berdua tertawa.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Kau mirip Mr. Kumar, guru Biologi-ku yang komunis di India dulu. Tapi tunggu sebentar…. Tidak, tidak mirip. Dia benar-benar <em>ateis </em>sementara kau masih percaya.” </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Dan saya bukan penganut paham komunis, Sir.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Kami berdua kembali tertawa.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Demikianlah satu sore bersama Piscine Molitor Patel di rumahnya, Toronto,  Canada. Tak ada kesepakatan apa-apa di antara kami. Tak perlu membuat kesimpulan ini-itu. Bukankah dalam bukunya Yann Martel telah menulis kalau Mr. Patel mau berkawan dengan siapa saja – bahkan dengan orang ateis sekalipun? </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Saya bukan seorang ateis. Percakapan kami sore itu hanya bincang-bincang saja. <em>Ya,</em> bincang-bincang…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/merlinherlina.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/merlinherlina.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/merlinherlina.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/merlinherlina.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/merlinherlina.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/merlinherlina.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/merlinherlina.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/merlinherlina.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/merlinherlina.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/merlinherlina.wordpress.com/208/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=merlinherlina.wordpress.com&blog=3713065&post=208&subd=merlinherlina&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://merlinherlina.wordpress.com/2009/02/22/dialog-dengan-pi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/631a6d7561a2a506d1e4a89b9c06ad81?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">merlinherlina</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Yin Li Zai Wo De Jia</title>
		<link>http://merlinherlina.wordpress.com/2009/01/23/yin-li-zai-wo-de-jia/</link>
		<comments>http://merlinherlina.wordpress.com/2009/01/23/yin-li-zai-wo-de-jia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Jan 2009 15:33:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>merlinherlina</dc:creator>
				<category><![CDATA[BAHASA HATIKU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://merlinherlina.wordpress.com/2009/01/23/yin-li-zai-wo-de-jia/</guid>
		<description><![CDATA[
Yin Li Zai Wo De Jia.
Imlek di rumahku.
 
Bagi keluargaku, menyambut Imlek tidak dimulai dari tujuh hari sebelum perayaan tersebut tiba.
 Mama bukan tipe ibu rumah tangga yang gemar melakukan banyak hal dalam tempo bersamaan. “Kalau kalian bisa merasa letih usai bekerja seharian, saya pun demikian,” katanya. “Mana mungkin kita bisa bersih-bersih, mengganti gorden, menggantung [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=merlinherlina.wordpress.com&blog=3713065&post=205&subd=merlinherlina&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Yin Li Zai Wo De Jia</span></em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Imlek di rumahku.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Bagi keluargaku, menyambut Imlek tidak dimulai dari tujuh hari sebelum perayaan tersebut tiba.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Mama bukan tipe ibu rumah tangga yang gemar melakukan banyak hal dalam tempo bersamaan. “Kalau kalian bisa merasa letih usai bekerja seharian, saya pun demikian,” katanya. “Mana mungkin kita bisa bersih-bersih, mengganti gorden, menggantung hiasan, pergi belanja hingga urusan masak-memasak dikerjakan hanya dalam waktu satu-dua hari?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span id="more-205"></span><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Mama lebih senang <em>mencicil </em><span> </span>pekerjaannya. Termasuk dalam menyambut Imlek.<span> </span>Untuk Imlek tahun 2009 ini, Mama sudah <em>start</em> <span> </span>sejak Desember tahun lalu. Pada tanggal 14 Desember-tepat hari Minggu, Mama meminta Papa bersama pembantu lamanya: Gassing untuk membersihkan pintu. Kami sudah lebih sepuluh tahun tinggal di ruko (rumah toko) yang hanya memiliki satu pintu <em>accordion</em>. Dan setiap Imlek, Papa beserta Gassing melap pintu itu luar dalam. Melumuri setiap engselnya dengan oli dan mengetesnya buka-tutup berulang kali hingga yakin tidak mendengar bunyi mendecit. Kedua orang tuaku percaya kalau rejeki sebuah rumah berawal dari suara pintu yang tidak berdebum atau mendecit ketika digunakan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Tidak ada ritual <em>sapu-sapu</em> alias mengecat rumah setiap kali menjelang Imlek. Seingatku, tembok bagian dalam rumah baru dua kali dicat. Alasan Papa enggan mengecat rumah karena menurutnya pekerjaan itu cukup melelahkan. Lagipula Mama bukan orang yang jika memasak, asap dan jelaganya memenuhi seisi rumah. Itu sebabnya tembok rumah kami masih bisa dibilang ‘bersih’.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Begitu juga dengan pintu. Seingatku Papa baru mengecatnya dua kali. Selalu dengan warna coklat. Itupun tidak dilakukan pada saat menjelang Imlek. Mengecat pintu selalu pada bulan Juli atau Agustus. Kalau menjelang Imlek, pasti bertepatan dengan musim hujan sehingga cat sulit kering. Selain itu, rumah kami menghadap lapangan ex tempat parkir bioskop yang telah roboh. Pada pagi atau sore, lapangan itu biasa digunakan mulai dari anak-anak hingga orang dewasa untuk bermain bola kaki. <em>Sayang</em> kan, kalau pintu baru saja dicat, ditempeli jejak lumpur bekas tendangan bola.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">***</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">“Kalian jangan sekali-kali buat keributan pada hari ini. Hari ini adalah perayaan <em>Hiak Yuan</em>-makan onde.” </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Mama megatakan hal tersebut kepadaku dan adikku, Ali, seminggu setelah Papa dan Gassing membersihkan pintu yakni pada minggu pagi tanggal 21 Desember. Aku dan Ali memang suka berdebat. Terkadang kami berdebat hingga pertengkaran tak terelakkan karena masing-masing enggan mengalah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Menurut Mama, perayaan <em>Dong Zhi </em>atau lebih dikenal dengan perayaan <em>Hiak Yuan</em><span> </span>dalam bahasa Kuangtong, merupakan hari yang sangat penting. Bahkan maknanya melebihi Imlek. Bulatan-bulatan tepung ketan melambangkan keluarga yang bersatu pada hari itu. Maka pada hari tersebut tidak boleh ada keributan. <em>Dong Zhi</em> merupakan perayaan terakhir dalam kalender lunar Tionghoa. Sehabis <em>Dong Zhi</em>, orang-orang Tionghoa tinggal menunggu satu perayaan besar yakni Imlek, yang datang sebulan kemudian.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Sejak kecil, aku tidak pernah melihat Mama bangun pada subuh untuk membuat onde. Sehari sebelum <em>Hiak Yuan</em>, usai makan malam Mama mulai mengeluarkan bahan-bahan membuat onde-ondenya. Dua bungkus tepung Rose Brand, sebuah baskom hijau berdiameter tiga puluh sentimeter, serta dua nampan besar berdiameter lima puluh sentimeter. Mama memasukkan tepung kedalam baskom hijau, lalu menuangkan air. Tak pernah ada resep khusus dalam membuat onde. Mama tidak pernah melihat catatan. Dia hanya mengandalkan <em>feeling</em> saja. Mama menguleni tepung, membantingnya. Ketika merasa kekenyalan tepung itu sudah cukup, dia mulai memilin lalu mencubit-cubitnya menjadi bongkahan-bongkahan kecil. Setelah itu, cubitan adonan tersebut siap digulung dengan kedua telapak tangan menjadi bola-bola kecil berdiameter sekitar 1.5 sentimeter.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Dulu, aku dan Ali yang bertugas menggulung cubitan-cubitan itu. Bagi kami, ini mengasyikkan. Kadang-kadang aku dan Ali bermain-main sebentar dengan cubitan adonan. Menggulung lalu menekan tengahnya mirip topi, memipihkannya atau menempelkannya dengan gulungan onde lain hingga menyerupai <em>missetotle</em> mini. Aku dan Ali akan terkikik-kikik melihat adonan siapa yang paling konyol. Kami baru akan berhenti jika Mama marah,”Hei! Itu bukan untuk mainan!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Kini, setelah dewasa dan bekerja, aku sering lembur pada bulan Desember. Beberapa tahun terakhir aku sering melewatkan saat-saat Mama membuat onde. Ali masih sering membantu Mama menggulung adonan cubit. Tapi dia sudah tak bisa berkelakar seperti dulu lagi karena posisiku diganti Papa. Papa ingin proses pembuatan onde cepat selesai agar Mama lekas beristirahat. Dia tak segan-segan menegur Ali jika adikku itu membuang-buang waktu bereksperimen dengan adonannya. Sedangkan<span> </span>tugasku dalam pembuatan penganan ini hanya pada bagian akhir, yakni mencuci wadah-wadah kotor.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Mama sering bercerita. Pada tahun pertama menikah dengan Papa, Mama melihat Ibu Mertuanya, <em>Pho Pho</em>-ku, bangun pada jam dua dini hari untuk membuat onde. Dengan mata terkantuk-kantuk <em>Pho Pho</em> membuat onde tanpa dibantu siapapun. “Saya sudah biasa bikin ini sendiri,” begitu kata <em>Pho Pho</em> sewaktu Mama tanya mengapa dia tak membiarkan menantu-menantu perempuannya membantu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Sebenarnya tak usah membuat pada jam segini. Selesai makan malam tadi sebenarnya sudah bisa. Di rumah orang tuaku dulu begitu, <em>Gei Gen</em>,” kata Mama.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Keesokan harinya tidak busuk?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>“Tidak. Cuaca kan dingin, jadi onde yang sudah jadi tidak khawatir membusuk. Besok pagi, kita tinggal memasak air dengan gula merah dan seruas jahe. Onde-onde ini pun cukup direbus ke dalam air panas mendidih. Setelah ia mengapung ke atas, segera kita angkat dan masukkan ke dalam air gula merah tadi.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Tahun berikut dan seterusnya, Pho Pho memakai saran Mama sewaktu membuat onde.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Pada hari Hiak Yuan, Mama bangun jam enam, memasak bulatan-bulatan onde yang diletakkan dalam dua nampan besar dan ditutup di atas meja makan pada malam sebelumnya. Sambil menunggu air gula merahnya matang, Mama mengeluarkan mangkuk-mangkuk dan sendok-sendok bebek. Jumlahnya ada dua puluh dua pasang. Onde-onde yang sudah masak diletakkan ke dalam mangkuk-mangkuk itu beserta kuah gula merahnya. Lalu semuanya diletakkan ke empat altar yang ada di rumah kami: dua belas di altar Dewa-Dewa Langit, satu di altar Dewa Dapur, tiga di altar Dewa Tanah dan enam di altar leluhur. Pagi di hari Hiak Yuan, sarapanku <em>ya</em>, onde-onde itu.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><span> </span>Mamaku tidak pernah menceritakan mengapa kami orang Tionghoa harus makan onde pada tanggal 22 Desember. Aku mencari tahu sendiri. Dari beberapa buku yang pernah kubaca, tradisi <em>Hiak Yuan</em> sudah dilakukan orang Tionghoa sejak ribuan tahun lalu. Anehnya, tidak seperti sebagian perayaan Tionghoa lain yang memakai penanggalan Lunar, <em>Hiak Yuan</em> ditetapkan berdasarkan penanggalan Masehi sama seperti <em>Qing Ming </em>di bulan April. Anehnya <em>lagi, </em>Hiak Yuan tidak melulu dirayakan pada 22 Desember. Ini masih menimbulkan tanda tanya bagiku. Pada tahun-tahun tertentu, ia dirayakan pada 21 Desember-seperti tahun 2008 kemarin. Selain pengetahuan lainku bahwa <em>Hiak Yuan</em> juga ditetapkan pada hari yang sama dengan <em>winter solstice</em>, selebihnya aku tak tahu apa-apa lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/merlinherlina.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/merlinherlina.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/merlinherlina.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/merlinherlina.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/merlinherlina.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/merlinherlina.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/merlinherlina.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/merlinherlina.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/merlinherlina.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/merlinherlina.wordpress.com/205/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=merlinherlina.wordpress.com&blog=3713065&post=205&subd=merlinherlina&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://merlinherlina.wordpress.com/2009/01/23/yin-li-zai-wo-de-jia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/631a6d7561a2a506d1e4a89b9c06ad81?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">merlinherlina</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tulisan sebelumnya</title>
		<link>http://merlinherlina.wordpress.com/2009/01/02/204/</link>
		<comments>http://merlinherlina.wordpress.com/2009/01/02/204/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Jan 2009 06:18:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>merlinherlina</dc:creator>
				<category><![CDATA[BAHASA HATIKU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://merlinherlina.wordpress.com/2009/01/02/204/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Sesuatu yang terjadi dalam beberapa hari, kadang-kadang bahkan dalam sehari, bisa mengubah keseluruhan jalan hidup seseorang.&#8221;
- Khaled Hosseini dalam The Kite Runner
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=merlinherlina.wordpress.com&blog=3713065&post=204&subd=merlinherlina&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em>&#8220;Sesuatu yang terjadi dalam beberapa hari, kadang-kadang bahkan dalam sehari, bisa mengubah keseluruhan jalan hidup seseorang.&#8221;</em></p>
<p style="text-align:right;"><strong>- Khaled Hosseini dalam <em>The Kite Runner</em></strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/merlinherlina.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/merlinherlina.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/merlinherlina.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/merlinherlina.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/merlinherlina.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/merlinherlina.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/merlinherlina.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/merlinherlina.wordpress.com/204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/merlinherlina.wordpress.com/204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/merlinherlina.wordpress.com/204/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=merlinherlina.wordpress.com&blog=3713065&post=204&subd=merlinherlina&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://merlinherlina.wordpress.com/2009/01/02/204/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/631a6d7561a2a506d1e4a89b9c06ad81?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">merlinherlina</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>(Kembali) Ke Bali-Sebuah Catatan Perjalanan (lagi)</title>
		<link>http://merlinherlina.wordpress.com/2008/12/01/sebuah-catatn-perjalanan-lagi/</link>
		<comments>http://merlinherlina.wordpress.com/2008/12/01/sebuah-catatn-perjalanan-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Dec 2008 11:25:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>merlinherlina</dc:creator>
				<category><![CDATA[PERJALANAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://merlinherlina.wordpress.com/?p=161</guid>
		<description><![CDATA[Tanjung Banoa-Bali, 26 November 2008
Dibanding bulan-bulan lalu, frekuensi online internet saya untuk bulan ini jauh lebih sedikit. November ini bisa dibilang bulan yang padat kegiatan. Saya hanya online seperlunya di kantor. Sepulang di rumah tidak lagi.

Pertengahan November (12-16) ada pameran Makassar Computer Expo di Celebes Convention Centre, Tanjung Bunga yang berlangsung dari pagi jam sembilan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=merlinherlina.wordpress.com&blog=3713065&post=161&subd=merlinherlina&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><a href="http://merlinherlina.files.wordpress.com/2008/12/dsci02082.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-174" title="dsci02082" src="http://merlinherlina.files.wordpress.com/2008/12/dsci02082.jpg?w=300&#038;h=225" alt="dsci02082" width="300" height="225" /></a><em>Tanjung Banoa-Bali, 26 November 2008</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Dibanding bulan-bulan lalu, frekuensi online internet saya untuk bulan ini jauh lebih sedikit. November ini bisa dibilang bulan yang padat kegiatan. Saya hanya online seperlunya di kantor. Sepulang di rumah tidak lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"><span id="more-161"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Pertengahan November (12-16) ada pameran Makassar Computer Expo di Celebes Convention Centre, Tanjung Bunga yang berlangsung dari pagi jam sembilan hingga malam jam sepuluh. Selama lima hari itu, sesampainya di rumah saya sudah lelah dan tidak sempat mengecek email. Alhasil, ketika saya mengecek kotak surat minggu berikutnya, ada 200 surat yang menunggu dibaca di yahoo.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV"> Alasan berikut kenapa saya ‘malas’ online di rumah belakangan adalah karena Jewel In The Palace ( <em>Dae Jang Deum </em>). Dua minggu terakhir, saya rajin mengikuti serialnya lewat dvd yang dipinjamkan oleh salah seorang sepupu. Memang sinema elektronik dari negeri gingseng ini sudah pernah tayang di Indosiar – bahkan sampai diulang dua kali. Tapi pada dua-dua kesempatan itu pula saya tidak pernah bisa menyaksikan dengan baik. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="FI">Ini merupakan salah satu serial terpanjang yang <em>sudi </em>saya tonton. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV">Ceritanya menarik. Meski ide dasarnya sebetulnya sederhana, tapi banyak pelajaran moral yang bisa dipetik, disamping tentu saja kita jadi lebih mengenal tentang adat-istiadat serta kebudayaan Korea.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV"> Lalu pada tanggal 26 – 28 November kemarin saya berangkat ke Bali dalam rangka promo LCD Monitor ACER. Ini kali kedua saya mengunjungi pulau dewata. Sebelumnya, tahun lalu pada pertengahan Maret, saya juga berkunjung ke sana selama tiga hari.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV"> ***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV"> Saya selalu senang berkunjung ke Bali. Bali seperti <em>second home</em> saya. Mungkin karena ada beberapa keluarga yang tinggal di sana. Mungkin karena suasana dan lingkungannya membuat kita merasa aman dan nyaman. Entahlah. Tapi jika disuruh memilih tempat tinggal lain setelah Makassar untuk dihuni, saya akan memilih Bali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV"><a href="http://merlinherlina.files.wordpress.com/2008/12/dsci02053.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-175" title="dsci02053" src="http://merlinherlina.files.wordpress.com/2008/12/dsci02053.jpg?w=300&#038;h=225" alt="dsci02053" width="300" height="225" /></a><em>Di rumah makan Pawon Pasundan</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV"><em><a href="http://merlinherlina.files.wordpress.com/2008/12/dsci0217.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-176" title="dsci0217" src="http://merlinherlina.files.wordpress.com/2008/12/dsci0217.jpg?w=300&#038;h=225" alt="dsci0217" width="300" height="225" /></a>Mengangkat penyu di Pulau Penyu</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV"><em><a href="http://merlinherlina.files.wordpress.com/2008/12/dsci0231.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-177" title="dsci0231" src="http://merlinherlina.files.wordpress.com/2008/12/dsci0231.jpg?w=300&#038;h=225" alt="dsci0231" width="300" height="225" /></a>Bapak Anwardie dan Ibu Farida Massiang. &#8220;Jinak ji ini elangnya?&#8221;-Jinak, selama tidak mematuk. Hehe..<br />
</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV"> Saya berangkat bersama rombongan Anta Tour. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="PT-BR">Total seluruhnya dua puluh lima orang. Sebagian besar berasal dari Makassar. Sisanya dari Kendari dan Gorontalo. Suasananya hangat dan akrab. Kami berangkat sekitar pukul setengah sepuluh dari Bandara International Hasanuddin ( Ini kali pertama saya masuk ke bandara baru. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="FI">Ketika ke Jakarta bulan July kemarin, saya masih melalui bandara lama Mandai). Kmi tiba di Bandara Ngurah Rai sekitar pukul setengah sebelas. Langsung diajak makan malam ke rumah makan Pasundan di daerah Tuban. Sehabis itu kami diajak ke Tanjung Banoa. Saya hanya mau naik motorboat ke Pulau Penyu. Tapi ogah mengikuti olahraga air seperti <em>banana boat, parasailing</em>, speed boat dan sebagainya. Kami di sana sampai kira-kira jam tiga sore. Sehabis itu kami dibawa ke Garuda Wisnu Kencana (GWK).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="FI"> Dalam perjalanan menuju GWK kami melewati daerah kampus Udayana, kampus terbesar di Pulau Bali. Kembali soal GWK, menurut pemandu lokal kami Bapak Wayan Londra, rencananya patung tersebut akan menjadi patung yang letaknya tertinggi di dunia, bahkan melebihi patung Liberty ( <em>Oh ya? </em>). Untuk sampai ke GWK kita harus mendaki anak-anak tangga yang tidak <em>main-main</em> jumlahnya.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><a href="http://merlinherlina.files.wordpress.com/2008/12/dsci02361.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-178" title="dsci02361" src="http://merlinherlina.files.wordpress.com/2008/12/dsci02361.jpg?w=300&#038;h=225" alt="dsci02361" width="300" height="225" /></a><em>Garuda Wisnu Kencana</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="FI">Sehabis dari GWK, kami diajak ke Uluwatu untuk melihat pura paling selatan di Bali. Pura tersebut berdiri di atas tebing dan di bawahnya terhampar samudra Hindia yang luas tanpa pulau-pulau penghalang seperti Kahyangan, Samalona atau Lae-Lae di Losarinya Makassar. Di bawah tebing ombak laut memukul-mukul karang. Buihnya putih dan bergulung-gulung. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="FI"><a href="http://merlinherlina.files.wordpress.com/2008/12/dsci0252.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-179" title="dsci0252" src="http://merlinherlina.files.wordpress.com/2008/12/dsci0252.jpg?w=300&#038;h=225" alt="dsci0252" width="300" height="225" /></a><em>Batu karang dan Samudra Hundia dari atas Pura Uluwatu</em><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="FI"> Karena sudah sore, angin bertiup kencang sekali selama kunjungan kami di Uluwatu. Saya tidak berjalan terlalu jauh sampai masuk ke dalam pura karena khawatir ’bertemu’ dengan monyet-monyet penghuni pura. Di Uluwatu ini memang ada banyak monyet yang hidup bebas. Sebelum masuk, Pak Wayan sudah mengingatkan kami agar melepas segala bentuk perhiasan seperti kalung, anting, gelang, jam tangan bahkan kacamata. Sering ada kejadian dimana monyet-monyet tersebut menarik barang-barang pengunjung kemudian membawanya kabur atau bahkan meremukkannya. Saya tentu berpikir tentang kacamata minus yang saya kenakan. Jika saya lepas, saya tidak dapat melihat jelas. Wah, daripada beresiko disambar monyet, mending saya lekas kembali ke bis. Setelah semua rombongan kembali berkumpul dalam bis, saya mendengar dri salah satu peserta kalau tadi mereka sempat mellihat seekor monyet yang berhasil menarik kacamata seorang turis Jepang. Untungnya monyet itu mau mengembalikan setelah <em>negosiasi</em> dengan iming-iming pisang berhasil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="IT"> ***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="IT"> Kami makan malam pada hari pertama itu di Jimbaran. Tepatnya di restoran sea food Furama. Rencananya kami makan malam di ruang terbuka sambil menikmati sunset. Angin kembali bertiup kencang di sini sehingga membatalkan rencana tersbut. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="FI">Saya mulai merasa masuk angin. Musuh utama saya kalau berpergian seperti ini adalah angin. Badan mulai erasa meriang dan kepala pening. Sehabis makan malam kami semua dibawa menuju hotel Ramayana di Kuta. Sesampainya di kamar saya olangsung mandi air hangat, mengoles minyak kayu putih dan minum obat sakit perut </span><span style="font-size:10pt;font-family:Wingdings;" lang="FI"><span> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="FI"> . Sekitar setengah jam kemudian, kondisi saya serasa membaik. Dan saya mengikuti ’tantangan’ salah seorang teman yang mengajak keluar malam jalan kaki berkeliling Kuta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="FI"> Karena kedatangan saya ke Bali kali ini tanpa perberitahuan sebelumnya, jadilah sepupu-sepupu saya pada kaget. ”Kok nggak bilang-bilang sebelumnya?” Saya jawab ya, karena cuma tiga hari, ngapain juga perlu ngelapor dulu? Alhasil, karena ini sifatnya mendadak, mereka tak bisa menemui saya malam di hari pertama itu. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV">Tidak mengapa, malam itu saya tetap berkeliling Kuta bersama enam teman yang lain. Kami sempat singgah di warung Made ( yang katanya sering dijadikan tempat jumpa pers selebriti jika berada di Bali ). Sebelum kami masuk kembali ke kamar masing-masing, saya singgah ke sebuah minimarket. Membeli sekaleng Fanta dan sebotol besar Aqua. Saya minum Fanta itu begitu tiba di kamar dan tak lama sesudahnya saya tidur pulas sampai pagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV"> ***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV"> Baru kali ini saya bisa tidur nyenyak di tempat yang jauh dari rumah. Biasanya kalau ganti tempat, mata sulit terpejam atau biasanya cuma tidur-tidur ayam. Keesokan harinya setelah bangun badan terasa segar dan setelah sarapan kami pun siap berangkat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV"> Tujuan pertama kami di hari kedua adalah menuju desa Galuh di Kabupaten Gianyar menonton tari Barong. Pertunjukan sudah berlangsung lima belas menit ketika kami sampai. Cerita tari barong kali ini dikutip dari salah satu bagian kisah Mahabharata. Dewi Kunti dalam perjalanana menemui salah satu patihnya dirasuki roh jahat sehingga memberikan putra bungsunya, Sadewa untuk disandera oleh patih tersebut. Dialog dalam tarian menggunakan bahasa Bali tapi secara keseluruhan tarian ini masih bisa dinikmati. Ending ceritanya seperti semua kisah dalam tari Barong Bali. Bukan dengan menyelipkan angpao ke mulut barong&#8230; ( <em>emangnya barongsai ? hehe.. </em>). Tapi lebih kepada sebuah pembelajaran tentang adanya dua kekuatan di dunia ini yang saling bertolak belakang namun juga saling membutuhkan. Pada akhirnya tidak ada satu dari kekuatan itu yang dominan. Mereka terus ada dan tetap saling menyeimbangkan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV"><a href="http://merlinherlina.files.wordpress.com/2008/12/dsci0260.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-180" title="dsci0260" src="http://merlinherlina.files.wordpress.com/2008/12/dsci0260.jpg?w=300&#038;h=225" alt="dsci0260" width="300" height="225" /></a><em>Tari Barong. (Barongnya kejauhan deh.., <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  )</em><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV"><span> </span>Selepas dari Galuh kami dibawa menuju Kintamani yang terkenal dengan danau dan gunung Baturnya. Perjalanan ke sana memakan waktu sekitar satu setengah jam. Dalam perjalanan tersebut, masih di kawasan Gianyar, saya sempat melihat sebuah rumah besar berpagar putih tertutup rapat. Tapi di depan pagar tersebut berdiri selusinan orang membawa kamera dan terus melongokkan kepala ke arah dalam. Mereka sepertinya wartawan. Ada apa gerangan? Mungkinkah rumah itu sedang dihuni salah satu selebritis atau politikus incaran para kuli disket?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV"> ***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV"> Kintamani berarti ’Cinta yang tulus’. Menurut Pak Nyoman, guide lokal kami yang pada hari kedua itu mengenakan pakaian khas Bali <em>udeng</em> dan sarung, nama Kintamani berasal dari sebuah kisah romantis beberapa abad yang lalu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV"> Alkisah ada seorang raja di Bali jatuh cinta dengan seorang gadis China bernama Kang Cingwi. Demi cintanya yang besar terhadap gadis itu, Raja rela turun tahta dari singgasananya karena para menterinya tidak menyetujui pernikahan tersebut. Jadilah <em>ex </em>Raja ini dan Kang Cingwi menyepi di sebuah tempat di daerah pinggiran Danau Batur usai menikah. Mereka hidup bahagia dan keturunan mereka hidup di daerah yang kini dinamai Kintamani itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="FI"> Ketika kami sampai di Kintamani waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Ini kali kedua saya mengunjungi Kintamani. Setahun yang lalu museum vulkanologinya belum selesai. Tapi kunjungan kedua kali ini juga tidak membuat saya bisa berlama-lama melihat keindahan Danau dan Gunung Batur. Hujan deras menyambut kedatangan rombongan kami disertai kabut tebal yang menghalangi pandangan. Hujan dan halimun berhenti sesaat saja. Ketika kami hendak meninggalkan Kintamani, hujan dan kabut tebal kembali mengguyur. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="FI"><a href="http://merlinherlina.files.wordpress.com/2008/12/dsci0266.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-181" title="dsci0266" src="http://merlinherlina.files.wordpress.com/2008/12/dsci0266.jpg?w=300&#038;h=225" alt="dsci0266" width="300" height="225" /></a><em>Kintamani yang berkabut</em><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="IT"> Sampai di sini, rencana berubah. Semula rombongan hendak dibawa ke Tampaksiring. Tapi karena mayoritas memilih ke Sukawati untuk berbelanja, arah bis pun berubah menuju Ubud. Kira-kira sejam dari Kintamani kami tiba di Pasar Sukawati dua atau dengan nama lain Pasar Guang. Di sini kita bisa berbelanja souvenir-souvenir khas Bali dengan harga miring. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV">Bahkan kita bisa tawar-menawar dengan para pedagang seperti di Pasar Sentral – Makassar. Karena yang pergi dalam tur kali ini semuanya adalah pedagang komputer, bisa dibayangkan alotnya tawar-menawar berlangsung? </span><span style="font-size:10pt;font-family:Wingdings;" lang="SV"><span> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV"> ***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV"> Setelah dari Sukawati, rombongan kami dibawa menuju Kuta kembali. Kali ini mengunjungi Joger. Kalau hari gini pembaca belum tahu apa itu Joger, aduuuh, <em>cape deh&#8230; </em>Sebagian besar anggota rombongan turun dan kembali berbelanja di sini. Saya memutuskan tidak ikut. Bersama empat anggota rombongan lainnya, kami memutuskan kembali ke hotel untuk mandi dan beristirahat sejenak. Setelah itu kami menyusul rombongan lainnya menuju restoran Selera Kuring di Sunset Road untuk makan malam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="PT-BR"> Malam itu usai kembali ke hotel acara bebas sampai besok jam 11. Malam itulah salah seorang sepupu, Cie Wiwi dan suaminya, Ko Theo datang berkunjung. Mereka mengajak saya makan (lagi) di salah satu restoran dekat dari hotel. Ketika duduk, Cie Wie sengaja memilih tempat khusus buat saya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="PT-BR"> “ Lihat di depan sana Lina,” katanya setelah saya duduk.” Itu hotel Kuta Paradiso tempat kamu menginap ketika pertama kali ke Bali tahun lalu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="PT-BR"> ***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="PT-BR"> Keesokan paginya karena acara bebas saya mengunjungi Klenteng Kuta yang letaknya lima belas menit jalan kaki dari hotel. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="PT-BR">Entah karena kebetulan atau apa, hari itu ternyata bertepatan dengan tanggal satu Imlek. Kondisi klenteng bersih dan terpelihara baik. Karena hari itu bertepatan dengan tanggal satu Imlek, ada banyak pengunjung (mayoritas warga Tionghoa di Bali) yang datang dengan membawa sesajen.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><a href="http://merlinherlina.files.wordpress.com/2008/12/dsci0269.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-182" title="dsci0269" src="http://merlinherlina.files.wordpress.com/2008/12/dsci0269.jpg?w=480&#038;h=360" alt="dsci0269" width="480" height="360" /></a><em>Salah satu sudut klenteng Kuta</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="PT-BR">Sekembalinya ke hotel, saya mengikuti beberapa teman untuk mengunjungi Centro, mal terbesar di Kuta. Jaraknya juga kurang lebih lima belas menit dari hotel. Waktu kami tiba, Centro baru buka. Gerai-gerai dalamnya masih sementara berbenah. Kondisinya hampir samalah dengan semua mal yang ada di Makassar. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV">Hanya saja barang-barangnya lebih bervariasi dan berkelas dengan harga-harga yang hm, hm, hm&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV"><a href="http://merlinherlina.files.wordpress.com/2008/12/dsci0276.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-183" title="dsci0276" src="http://merlinherlina.files.wordpress.com/2008/12/dsci0276.jpg?w=300&#038;h=225" alt="dsci0276" width="300" height="225" /></a><em>Berpose di Centro dengan latar belakang Pantai Kuta</em><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV"> Kami semua akhirnya meninggalkan hotel dan menuju bandara pada pukul setengah dua belas siang. Sesampainya di bandara, pemeriksaan sangat ketat. Kita harus melewati sekurang-kurangnya dua pintu detektor sebelum masuk ke ruang tunggu. Ketika hendak naik ke pesawat pun harus ada pemeriksaan KTP segala.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="SV"> Karena selama tiga hari tidak perbah menyentuh surat kabar, televisi, atau pun internet, sesampainya di Makassar saya baru tahu kalau teroris menyerang belasan tempat di Mumbai – India, Rabu 26 November. Mereka juga menyandera ratusan orang. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="IT">Di hotel Oberoi, di antara ratusan sandera terdapat lima orang warganegara Indonesia asal Bali. Salah satunya rumahnya terlacak di Kabupaten Gianyar. <em>Jangan-jangan</em>, rumah berpagar putih di Gianyar yang saya lihat dikerubungi lusinan wartawan kemarin itu&#8230; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="IT"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="IT"><br />
<!--[if !supportLineBreakNewLine]--><br />
<!--[endif]--></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;" lang="IT"> </span></em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/merlinherlina.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/merlinherlina.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/merlinherlina.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/merlinherlina.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/merlinherlina.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/merlinherlina.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/merlinherlina.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/merlinherlina.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/merlinherlina.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/merlinherlina.wordpress.com/161/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=merlinherlina.wordpress.com&blog=3713065&post=161&subd=merlinherlina&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://merlinherlina.wordpress.com/2008/12/01/sebuah-catatn-perjalanan-lagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/631a6d7561a2a506d1e4a89b9c06ad81?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">merlinherlina</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://merlinherlina.files.wordpress.com/2008/12/dsci02082.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">dsci02082</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://merlinherlina.files.wordpress.com/2008/12/dsci02053.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">dsci02053</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://merlinherlina.files.wordpress.com/2008/12/dsci0217.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">dsci0217</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://merlinherlina.files.wordpress.com/2008/12/dsci0231.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">dsci0231</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://merlinherlina.files.wordpress.com/2008/12/dsci02361.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">dsci02361</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://merlinherlina.files.wordpress.com/2008/12/dsci0252.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">dsci0252</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://merlinherlina.files.wordpress.com/2008/12/dsci0260.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">dsci0260</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://merlinherlina.files.wordpress.com/2008/12/dsci0266.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">dsci0266</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://merlinherlina.files.wordpress.com/2008/12/dsci0269.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">dsci0269</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://merlinherlina.files.wordpress.com/2008/12/dsci0276.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">dsci0276</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pikiran</title>
		<link>http://merlinherlina.wordpress.com/2008/10/03/pikiran/</link>
		<comments>http://merlinherlina.wordpress.com/2008/10/03/pikiran/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Oct 2008 14:02:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>merlinherlina</dc:creator>
				<category><![CDATA[BAHASA HATIKU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://merlinherlina.wordpress.com/?p=156</guid>
		<description><![CDATA[Tanyakan padaku, apa yang menguasai dunia di jaman purbakala?
Dinosaurus? Es?
Jabanku adalah pikiran.

Tanyakan pula padaku apa yang menguasai dunia pada awal peradaban?
Tuhan? Iblis?
Jawabanku tetap : pikiran.
Apa yang memimpin dunia ketika abad pertengahan?
Agama? Uang?
Bukan keduanya &#8211; tetapi pikiran.
Lalu apa yang kelak memimpin dunia di masa kini dan akan datang?
Sains dan teknologi?
Alien atau UFO?
Aku tetap menjawab satu : [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=merlinherlina.wordpress.com&blog=3713065&post=156&subd=merlinherlina&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Tanyakan padaku, apa yang menguasai dunia di jaman purbakala?</p>
<p><em>Dinosaurus? Es?</em></p>
<p>Jabanku adalah pikiran.</p>
<p><span id="more-156"></span></p>
<p>Tanyakan pula padaku apa yang menguasai dunia pada awal peradaban?</p>
<p><em>Tuhan? Iblis?</em></p>
<p>Jawabanku tetap : pikiran.</p>
<p>Apa yang memimpin dunia ketika abad pertengahan?</p>
<p><em>Agama? Uang?</em></p>
<p>Bukan keduanya &#8211; tetapi pikiran.</p>
<p>Lalu apa yang kelak memimpin dunia di masa kini dan akan datang?</p>
<p><em>Sains dan teknologi?</em></p>
<p><em>Alien atau UFO?</em></p>
<p>Aku tetap menjawab satu : <em>pikiran.</em></p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Diedit dari naskah puisi lama yang kutulis pada tanggal 29 November 2007 di <em>diary. </em>Kemarin baru baca-baca buku harian. Tak terasa sudah setahun berlalu dan buku harian itu belum penuh-penuh juga. Kayaknya itu bukan <em>diary </em>lagi <em>deh </em>-  tapi <em>sometimely</em>, soalnya cuma diisi kapan-kapan, <em>yah</em> kalau lagi ada waktu.</p>
<p>Ternyata setahun ini pun sudah banyak peristiwa berlangsung.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/merlinherlina.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/merlinherlina.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/merlinherlina.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/merlinherlina.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/merlinherlina.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/merlinherlina.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/merlinherlina.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/merlinherlina.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/merlinherlina.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/merlinherlina.wordpress.com/156/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=merlinherlina.wordpress.com&blog=3713065&post=156&subd=merlinherlina&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://merlinherlina.wordpress.com/2008/10/03/pikiran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/631a6d7561a2a506d1e4a89b9c06ad81?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">merlinherlina</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Survive Religion</title>
		<link>http://merlinherlina.wordpress.com/2008/09/08/the-survive-religion/</link>
		<comments>http://merlinherlina.wordpress.com/2008/09/08/the-survive-religion/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Sep 2008 14:14:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>merlinherlina</dc:creator>
				<category><![CDATA[BAHASA HATIKU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://merlinherlina.wordpress.com/?p=144</guid>
		<description><![CDATA[PATUNG Buddha Bamiyan bisa saja diledakkan Taliban. Stupa dan pilar-pilar Asoka boleh hancur atau hilang. Dan situs vihara-vihara kuno mungkin masih terkubur bermeter-meter di dalam tanah negeri Jambudipa. Akan tetapi Buddhisme tetap ada. Dia ibarat nadi yang berdenyut secara kontinu. Belum terputuskan. Belum bisa dihilangkan dari muka bumi.

 

Sang Buddha pernah berkata pada Ananda, salah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=merlinherlina.wordpress.com&blog=3713065&post=144&subd=merlinherlina&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">PATUNG Buddha Bamiyan bisa saja diledakkan Taliban. Stupa dan pilar-pilar Asoka boleh hancur atau hilang. Dan situs vihara-vihara kuno mungkin masih terkubur bermeter-meter di dalam tanah negeri Jambudipa. Akan tetapi Buddhisme tetap ada. Dia ibarat nadi yang berdenyut secara kontinu. Belum terputuskan. Belum bisa dihilangkan dari muka bumi.</span></p>
<p><a href="http://merlinherlina.files.wordpress.com/2008/09/dsci04341.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-147" title="dsci04341" src="http://merlinherlina.files.wordpress.com/2008/09/dsci04341.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span id="more-144"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">S<span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">ang Buddha pernah berkata pada Ananda, salah seorang murid terdekat Beliau bahwa usia ajaran yang dibabarkannya akan bertahan selama 5000 tahun. Tahun 2008 ini sama dengan tahun 2552 BE (<em>Buddhist Era</em>). Itu artinya, agama Buddha masih ada sampai 2448 tahun ke depan. 20 abad~2 millenium lagi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Apa yang telah diberikan siswa Sang Bhagava terhadap dunia setelah mendapatkan dhamma? Sayang sekali masih sedikit orang yang bisa mengaplikasikannya. Contohlah <em>Khanti Paramam Tapo Titikha~</em>kesabaran merupakan kebijaksanaan yang paling tinggi. Akan tetapi dalam prakteknya, masih banyak yang membiarkan dirinya dikuasai nafsu menjadi marah dan sedih. Saya pun termasuk masih demikian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://merlinherlina.files.wordpress.com/2008/09/dsci0400.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-148" title="dsci0400" src="http://merlinherlina.files.wordpress.com/2008/09/dsci0400.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Bhikkhu Yang Ariya Nagasena pernah berkata kepada Raja Menander I dari Yunani, “ Seorang umat seharusnya menjaga agamanya jika agama tersebut sudah mulai memudar.” Dan saya yang umat awam ini berusaha menjalankan saran YA. Nagasena. Minggu lalu saya menggunakan waktu lima hari untuk menulis kegiatan Festival Seni Budaya Buddhist 2008 yang diadakan di Mall GTC Tanjung Bunga Makassar. Selama menulis itu saya seakan memperoleh pencerahan dan semakin mengagumi Buddhisme. Saya tidak melihatnya sebagai sarana puja yang dipenuhi rupang, dupa, bunga ataupun lilin. Tapi lebih kepada bahwa agama ini mengajarkan kebenaran-<em>dhamma</em>. Ya, Kebenaran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Dalam Kalama Sutta Sang Buddha pernah bersabda, “ <em>Adalah suatu hal yang wajar untuk menjadi ragu pada hal-hal yang meragukan. Marilah kaum Kalama, jangan percaya pada apapun hanya berdasarkan: wahyu atau pemaparan, tradisi turun-temurun, kabar angin, hal yang sesuai kitab suci,logika, sekilas tampak benar, alas an masuk akal,dukungan teori-teori, pikiran orang yang sangat dihormati. Kaum Kalama, bila kamu sendiri tahu bahwa sesuatu itu buruk, tidak pantas dilakukan, tercela dan dikecam para bijaksana, bila hal-hal ini dilakukan dan diupayakan menuju kemunduran batin serta penderitaan, maka tinggalkanlah hal itu.”</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><a href="http://merlinherlina.files.wordpress.com/2008/09/dsci0428.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-149" title="dsci0428" src="http://merlinherlina.files.wordpress.com/2008/09/dsci0428.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Buddhisme tak memelakkan diri. Seperti keyakinan lainnya, dia terbagi dalam berbagai sekte. Mahayana di Asia Timur, dengan <em>Zen</em>-nya yang penuh logika kharismatik. Tantrayana memuja Tisarana dari balik atap-atap dunia di Himalaya. Dan Theravada yang diturunkan dari sesepuh-sesepuh ke generasi selanjutnya, malaksanakan samadi, sila dan panna di berbagai tempat di Srilangka dan Asia Tenggara. Apakah mereka pernah berseteru? Apakah karena berbeda aliran umat Mahayana dan Theravada tidak peduli kepada Dalai Lama yang menganut Tantrayana ketika mengasingkan diri dari negaranya, Tibet? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Pada dasarnya Buddhisme tidak neko-neko. Salah satu hal yang bisa membuat kita tahu adalah lewat doa-doanya. Simak saja salah satu di antaranya. Seperti <em>Chant Of Metta</em> ~ chanting cinta-kasih di bawah ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Aham avero homi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">May I be free from enmity and danger</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Abyapajjho homi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">May I be free from mental suffering</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Anigho homi<em></em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">May I be free from physical suffering</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Sukhi attanam pariharami</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">May Itake care of my self happily</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Mama matapitu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">May my parents</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Acariya ca natimitta ca</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Teachers, relatives and friends</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Sabrahma carino ca</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Fellows dhammafares</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Avera hontu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Be free from enmity and danger</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Abyapajjha hontu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Be free from mental suffering</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Anigha hontu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Be free from physical suffering</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Sukhi attanam pariharantu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">May they take care of them selves happily</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Imasmim arame sabbe yogino</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">May all yogies in this compound</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Avera hontu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Be free from enmity and danger</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Abyapajjha hontu </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Be free from mental suffering</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Anigha hontu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Be free from physical suffering</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Sukhi attanam pariharantu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">May they take care of them selves happily</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Imasmim arame sabbe bhikkhu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">May all monks in this compound</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Samanera ca</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Novice monks</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Upasaka upasika yo ca</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Laymen and laywomen disciples</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Avera hontu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Be free from enmity and danger</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Abyapajjha hontu </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Be free from mental suffering</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Anigha hontu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Be free from physical suffering</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Sukhi attanam pariharantu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">May they take care of them selves happily</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Amhakam catupaccaya dayaka</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">May our donors of the four supports (clothing, food, medicine and lodging)</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Avera hontu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Be free from enmity and danger</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Abyapajjha hontu </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Be free from mental suffering</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Anigha hontu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Be free from physical suffering</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Sukhi attanam pariharantu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">May they take care of them selves happily</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Amhakam arakkha devata</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">May our guardian devas</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Imasmim vihare</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">In this monastery</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Imasmim avase</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">In this dwelling</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Imasmim arame</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">In this compound</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Arakkha devata</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">May the guardian devas</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Avera hontu</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Be free from enmity and danger</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Abyapajjha hontu </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Be free from mental suffering</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Anigha hontu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Be free from physical suffering</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Sukhi attanam pariharantu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">May they take care of them selves happily</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Sabbe satta</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">May all beings</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Sabbe pana</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">All breathing things</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Sabbe bhutta</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">All creatures</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Sabbe puggala</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">All individuals</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Sabbe attabhava pariyapanna</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">All personalities</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Sabbe itthoyo</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">May all females</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Sabbe purisa</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">All males</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Sabbe ariya</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">All noble one ( saint )</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Sabbe anariya</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">All worldlings</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Sabbe deva</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">All deities</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Sabbe manussa</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">All humans</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Sabbe vinipatika</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">All those in the foue woeful planes</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Avera hontu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Be free from enmity and danger</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Abyapajjha hontu </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Be free from mental suffering</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Anigha hontu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Be free from physical suffering</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Sukhi attanam pariharantu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">May they take care of them selves happily</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Dukkha muccantu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">May all beings be free from suffering</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Yattha laddha sampatito mavigacchantu </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">May whatever they have gained not be lost</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Kammasaka</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">All beings are owners of their own kamma</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Purathimaya disaya</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">In the eastern direction</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Pacchimaya disaya</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">In the western direction</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Uttaraya disaya</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">In the northtern direction</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Dakkhinaya disaya</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">In the southern direction</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Purathimaya anudisaya</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">In the south east direction</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Pacchimaya anudisaya</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">In the northwest direction</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Dakkhinaya anudisaya</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">In the south west direction</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Hetthimaya disaya</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">In the direction below</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Uparimaya disaya</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">In the direction above</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Sabbe satta</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">May all beings</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Sabbe pana</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">All breathing things</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Sabbe bhutta</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">All creatures</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Sabbe puggala</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">All individuals</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Sabbe attabhava pariyapanna</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">All personalities</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Sabbe itthoyo</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">May all females</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Sabbe purisa</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">All males</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Sabbe ariya</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">All noble one ( saint )</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Sabbe anariya</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">All worldlings</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Sabbe deva</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">All deities</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Sabbe manussa</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">All humans</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Sabbe vinipatika</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">All those in the foue woeful planes</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Avera hontu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Be free from enmity and danger</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Abyapajjha hontu </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Be free from mental suffering</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Anigha hontu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Be free from physical suffering</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Sukhi attanam pariharantu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">May they take care of them selves happily </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Dukkha muccantu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">May all beings be free from suffering</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Yattha laddha sampatito mavigacchantu </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">May whatever they have gained not be lost</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Kammasaka</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">All beings are owners of their own kamma</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Uddham yava bhagava ca</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">As far as the highest plane of existence</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Adho yava aviccito</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">To as far down as the lowest plane</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Samanta cakkavalesu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">In the entire of universe</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Ye satta patthavicara</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Whatever beings that move on earth</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Abyapajjha nivera ca</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">May they be free from mental suffering and enmity</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Nidukkha ca nupaddava</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">And from physical suffering and danger</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Uddham yava bhagava ca</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">As far as the highest plane of existence</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Adho yava aviccito</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">To as far down as the lowest plane</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Samanta cakkavalesu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">In the entire of universe</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Ye satta udakecara</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Whatever beings that move on water</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Abyapajjha nivera ca</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">May they be free from mental suffering and enmity</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Nidukkha ca nupaddava</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">And from physical suffering and danger</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Uddham yava bhagava ca</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">As far as the highest plane of existence</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Adho yava aviccito</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">To as far down as the lowest plane</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Samanta cakkavalesu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">In the entire of universe</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Ye satta akasecara</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Whatever beings that move in air</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Abyapajjha nivera ca</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">May they be free from mental suffering and enmity</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Nidukkha ca nupaddava</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">And from physical suffering and danger</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/merlinherlina.wordpress.com/144/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/merlinherlina.wordpress.com/144/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/merlinherlina.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/merlinherlina.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/merlinherlina.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/merlinherlina.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/merlinherlina.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/merlinherlina.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/merlinherlina.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/merlinherlina.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/merlinherlina.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/merlinherlina.wordpress.com/144/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=merlinherlina.wordpress.com&blog=3713065&post=144&subd=merlinherlina&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://merlinherlina.wordpress.com/2008/09/08/the-survive-religion/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/631a6d7561a2a506d1e4a89b9c06ad81?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">merlinherlina</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://merlinherlina.files.wordpress.com/2008/09/dsci04341.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">dsci04341</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://merlinherlina.files.wordpress.com/2008/09/dsci0400.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">dsci0400</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://merlinherlina.files.wordpress.com/2008/09/dsci0428.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">dsci0428</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>A Thousand Splendid Suns</title>
		<link>http://merlinherlina.wordpress.com/2008/08/18/a-thousand-splendid-suns/</link>
		<comments>http://merlinherlina.wordpress.com/2008/08/18/a-thousand-splendid-suns/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Aug 2008 14:24:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>merlinherlina</dc:creator>
				<category><![CDATA[BAHASA HATIKU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://merlinherlina.wordpress.com/?p=141</guid>
		<description><![CDATA[KEMANA PERGINYA penulis sekaligus pemilik blog ini? Sudah hampir sebulan tidak ada tulisan baru di situsnya. Jangan-jangan, dia tidak pernah lagi masuk ke situs ini untuk sekedar mencek komentar~atau yang lebih parah, dia sudah lupa kalau dia memiliki blog.
Well, saya masih ada, tidak kemana-mana dan tetap di kota Makassar. Memang sebulan ini saya tidak memuat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=merlinherlina.wordpress.com&blog=3713065&post=141&subd=merlinherlina&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">KEMANA PERGINYA penulis sekaligus pemilik blog ini?</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> Sudah hampir sebulan tidak ada tulisan baru di situsnya. Jangan-jangan, dia tidak pernah lagi masuk ke situs ini untuk sekedar mencek komentar~atau yang lebih parah, dia <em>sudah lupa </em>kalau dia memiliki blog.</span><span id="more-141"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Well, </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">saya masih ada, tidak kemana-mana dan tetap di kota Makassar. Memang sebulan ini saya tidak memuat tulisan baru di blog. Sebenarnya bukan hanya di sini. Di situs cafenovel pun masih ada dua cerita yang belum saya selesaikan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Belakangan ini saya agak <em>pelit </em>menulis. Saya sekarang pilih-pilih tema dan enggan menulis asal-asalan. Salah satu penyebab lain adalah menurunnya <em>mood.</em> Faktornya mulai internal hingga eksternal. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Kabarku selama sebulan ini sedang-sedang saja. Sejak tanggal 20 Juli <em>( tulisan terakhirku tentang Tebing Merah dimuat tanggal 20 Juli kan? )</em>, saya menghadiri tiga pesta pernikahan. Satu orang mantan kawan SMA, satu orang sepupu jauh dan seorang lagi teman sesama pelatihan di Panyingkul. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Saya sempat bicara dekat dengan salah seorang sepupu Papa yang datang berkunjung ke rumah awal Agustus lalu. Saya tidak bisa menyebutkan pembicaraan kami sebagai wawancara sebab kami berbincang-bincang tidak lebih dari 30 menit dan saya tidak menanyakan kesediaannya untuk diwawancarai. Dia adalah pengiring wanita ketika Mama menikah. Sejak tahun 1999 pindah ke Canada. Saya juga sempat berbincang dengan keponakannya~yang enam tahun lebih muda dari saya. Dua tahun lalu, dia bersama seluruh keluarganya masih tinggal di sebuah kompleks ruko bilangan jalan Gunung Latimojong. Hingga pada suatu hari kami mendapat telepon dari Papanya yang mengabarkan kepindahan mereka <em>sekeluarga </em>ke Amerika Serikat. Sekarang, mereka tinggal di New Jersey.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Saya tertarik dengan cerita-cerita Sieau Fong, demikian namanya. Saya menanyainya apakah dia kesulitan berbahasa ketika pertama kali tinggal di Amerika? Sieau Fong menjawab malu-malu, <em>ya. </em>Apakah dia pernah mengalami perlakuan buruk dari teman-teman barunya di sekolah? Sieau Fong menjawab, <em>tidak. Syukurlah, </em>kata saya. Sebelumnya sebuah peristiwa <em>Bullying </em>berkelabat di benak saya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> ***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">MEMASUKI AGUSTUS ini seisi penghuni rumah seolah-olah mendapat giliran sakit. Mula-mula Ali. Lalu Papa, Mama dan saya sendiri. Kecuali Nenek. Nenek baik-baik saja walau mengeluhkan kakinya rematik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Sakit kami seputar flu dan pilek. Saya terserang cukup parah. Obat-obat <em>analgesic, antihistamin</em> sampai <em>antibiotic</em> tidak banyak menolong. Virus flu ini mengamuk minta waktu inkubinasi. Menggelitik hidung, menyakiti tenggorokan hingga merampas suaraku. Jatah libur hari kemerdekaan yang cuma dua hari ditambah menjadi tiga hari. Tapi tidak banyak yang bisa diperbuat. Tahun-tahun lalu setiap 17 Agustus kami sekeluarga pasti keluar naik mobil untuk berkeliling dari pagi hingga sore. Biasanya kami berlabuh selama dua jam di mall dan makan siang di Rumah Makan Seafood Apong di Jalan Diponegoro. Waktu itu Nenek belum tinggal bersama kami. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Kemarin dulu, Tante terkecil, adik bungsu Mama datang menemput Nenek untuk menginap di rumahnya selama dua hari. Hari Minggu kemarin saya isi dengan membantu Mama memasak, menyiapkan hidangan sesajen untuk menyembahyangi <em>Aye – </em>Kakek dari pihak Ayah. 17 Agustus hari Minggu kemarin bertepatan dengan hari kematian <em>Aye.</em><span> </span>Malamnya Papa mengajak kami berkeliling dengan mobil. Hanya berkeliling. Papa berharap melihat pemandangan kota yang bermandikan cahaya dari lampu-lampu hias yang dipasang di gedung-gedung dan kantor-kantor pemerintah. Tapi rupanya tahun ini tidak seperti harapan Ayah. Sebagian gedung dan kantor di jalan protokol itu tampak seperti malam-malam pada hari biasa. Sunyi. Gelap.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Pagi tadi Papa kembali mengajak kami keluar jalan-jalan. Kali ini ke anjungan pantai Losari. <em>Sumpah</em>, semenjak anjungan ini mulai dibuka untuk umum, baru sekali ini saya mengunjunginya. Sayangnya, baru beberapa tahun usianya, kondisinya sudah seperti tempat tua. Besi-besi pagar yang menghadap ke laut catnya mengelupas, bahkan ada yang sudah patah tapi tidak diperbaiki. Sampah bertebaran di selokan-selokan, pedagang kaki lima tampak satu-dua. Mama minta difoto pada beberapa view yang menurutnya, berpemandangan indah. Ali memotret. Papa berjalan<span> </span>melihat-lihat. Saya duduk di tepi anjungan, membaca.<em></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Kami kira-kira ada 30 menit di sana. Sehabis itu Mama minta diantar ke Pasar Sentral buat membeli daging sapi. Ali kemudian bilang kalau dia mau mentraktir kami semua makan <em>Wun Hun Mien – </em>pangsit mi,di jalan Sangir. Porsinya cukup besar. Sejak memakannya jam sembilan pagi tadi sampai sore jam empat sekarang, perut masih terasa kenyang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Kami tiba di rumah jam sembilan lewat lima belas menit. Papa kembali ke bengkel. Saya berbenah. Mama mencuci. Jam sepuluh Ali pamit ke warnet dan baru pulang jam tiga tadi. Lima belas menit setelah Ali pergi, Nenek pulang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> ***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">LALU APA SAJA yang dilakukan penulis yang kehilangan mood ini selama sebulan? </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Biasa. Pergi kantor pagi, pulangnya petang~kadang-kadang malam. Mengerjakan tugas-tugas rutin dan membaca. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Membaca? </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Ya. Membaca. Apalagi yang bisa dilakukan seorang penulis yang akinya mulai <em>soak</em><span> </span>selain membaca? Tiga minggu terakhir saya merampungkan buku Dave Pelzer yang berkisah seputar <em>child abuse</em>. Dilanjutkan tiga buku Torey Hayden. Dua diantaranya adalah kisah tentang <em>Sheila. </em>Tapi menurut saya, terbaik itu <em>Murid Istimewa,</em> yang versi Inggris diberi judul <em>Just Another Kid. </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Buku itu berkisah tentang kelas terakhir yang Torey ajar sebelum dia berhenti menjadi guru. Murid Torey ada enam. Seorang gadis autis, dua anak dengan kelainan seksual dan tiga anak korban perang dari Irlandia. Torey juga punya murid lain~yang masalahnya tak kalah seriusnya dengan keenam murid ciliknya. Dia adalah Ladbrooke, asisten sukarelawan yang berusia tiga puluh dua tahun. Seorang dokter Fisika. Cantik. Pintar. Gugup. Pemabuk.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Dan ada sebuah buku lagi. Inilah buku ter<em>dahsyat </em><span> </span>yang baru saya baca saat ini. Judulnya: <em>A Thousand Splendid Suns.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><a href="http://merlinherlina.files.wordpress.com/2008/08/a-thousand-splendid-suns2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-140" src="http://merlinherlina.files.wordpress.com/2008/08/a-thousand-splendid-suns2.jpg?w=192&#038;h=300" alt="" width="192" height="300" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">A THOUSAND SPLENDID SUNS </span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">sebenarnya bercerita tentang dua orang wanita: Mariam dan Laila, dua-duanya adalah istri Rasheed, seorang pembuat sepatu di Kabul, Afghanistan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Meski berkisah tentang dua wanita, saya lebih tertarik dengan figur Mariam yang oleh Khaled Hosseini digambarkan kalem, penurut, <em>menerima</em> begitu saja segala perlakuan tidak adil terhadap dirinya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Mariam seorang<em> harami</em> – anak haram, hasil hubungan gelap seorang pria kaya di kota Heart bernama Jalil dengan pembantunya, Nana. Entah karena enggan menikahi Nana yang berpenyakit aneh atau memang karena desakan dari ketiga istrinya, Jalil <em>mengungsikan </em><span> </span>Nana dan Mariam di luar kota dan hanya mengunjungi mereka setiap Kamis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Mariam pun dibesarkan oleh dua cerita. Satu versi Ayah, satu lagi versi Ibu. Keduanya selalu bertolak belakang. Namun pada setiap kesimpulan, Mariam selalu menganggap kisah Jalil-lah yang benar. Mariam sangat mengagumi Ayahnya meski sang Ibu selalu mencerokinya dengan perkataan yang menumbuhkan perasaan bersalah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Lalu tibalah hari dimana semua tragedi berawal. Menjelang hari ulang tahunnya yang kelima belas, Mariam mengunjungi rumah Ayahnya di Herat untuk pertama kalinya. Ini dilakukannya diam-diam sebab jika Nana tahu, dia pasti akan melarangnya pergi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Sesampainya di rumah itu, yang menemuinya hanyalah seorang supir. “ Jalil Khan tidak ada di rumah,” katanya. Dan Mariam memutuskan untuk tetap menunggu. Dia tidur di luar rumah tersebut, baru terbangun keesokan harinya ketika si supir mengguncang bahunya. “Akan kuantar kau pulang. Ini perintah dari Jalil Khan!” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Tapi sebelum Mariam masuk ke dalam mobil, terlebih dahulu dia melesat masuk ke dalam pekarangan rumah Jalil, menyaksikan hamparan taman yang indah serta gedung berlantai dua. Dan secara tidak sengaja Mariam melihat seorang pria di lantai dua, yang juga sedang memandangnya lalu cepat-cepat menutup tirai jendela. <em>Pria itu Jalil.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Sepanjang perjalanan pulangnya Mariam tak hentinya menangis. Dia bukan hanya menangis karena Ayahnya tega membiarkannya tidur di luar rumahnya. Perkataan Nana selama ini benar. Ayahnya pembohong. Semua cerita versi Jalil selama ini adalah bohong. Dan kesedihan seolah belum berhenti sampai di sini. Sesampainya di rumah, Mariam menemukan Nana tewas gantung diri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> ***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> PADA salah satu bagian bola bumi ini, ada tempat dimana anak-anak perempuan yang sudah susah payah disekolahkan oleh orang tuanya, ternyata menyia-nyiakan kesempatan itu. Mereka ke sekolah tidak untuk belajar tetapi untuk bergosip, berlomba-lomba memamerkan aksesori terbaru dan termahal, memikirkan bagaimana mengikuti audisi atau masuk agensi yang akan mempopulerkan nama mereka sebagai bintang. Di belahan bumi lain, anak-anak perempuan harus meredam keinginan mereka untuk sekolah~entah itu karena dilarang oleh orang tua, keluarga, adat, agama, hukum atau pemerintah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Pada bagian bumi ini, terdapat pula wanita-wanita yang begitu mudah bercerai dari suaminya hanya dengan alasan, <em>“Kami sudah tak cocok lagi…” </em><span> </span>Sedangkan di bagian lain bumi, ada banyak wanita yang tetap hidup bersama suaminya selama bertahun-tahun meski dia telah dihina, dipukul, disakiti baik secara fisik dan psikis tanpa bisa mengumamkan kata cerai karena dilarang oleh adat, agama atau pemerintah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Mariam tinggal bersama Jalil sepeninggal Nana. Tapi itu hanya tujuh hari. Seminggu kemudian Mariam dipanggil menghadap Jalil dan ketiga istrinya. Hosseini piawai sekali mendeskripsikan adegan ini. Mariam duduk di hadapan keempat orang itu menunggu vonis. Besok, Mariam akan dinikahkan dengan seorang duda yang tinggal di Kabul, 650 km jauhnya dari Herat. Rasheed namanya. Usianya tiga kali lipat umur Mariam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Kebencian Mariam terhadap Jalil mulai memuncak ketika dilihatnya Jalil diam saja sementara ketiga istrinya terus mencecar Mariam. Mariam juga tahu. Bahwa dua saudari tirinya yang lain, yang juga sebaya dengannya saat itu tengah belajar di sekolah. Belum dinikahkan seperti dirinya. Masa depan cerah seolah menanti mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Mariam menikahi Rasheed dengan terpaksa. Dia ikut pindah bersama suaminya ke Kabul. Awalnya Rasheed memperlakukan Mariam dengan baik. Lalu, ketika Mariam menunjukkan ketidak mampuannya dalam mengandung dan melahirkan anak, Rasheed mulai kasar padanya. Dia tidak segan menghina Mariam, memukulnya, membuat wanita itu ketakutan setengah mati. Dan setelah delapan belas tahun menikahi Mariam tanpa keturunan, Rasheed mengambil seorang istri lagi. Gadis cantik bekas tetangga mereka yang bernama Laila.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> ***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> HOSSEINI menggambarkan kisah istri tua dan madunya ini dengan manusiawi sekali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Awalnya mereka bertengkar. Selalu berselisih. Pemicunya Mariam yang merasa cemburu dan menuduh Laila telah <em>mencuri </em>suaminya. Lalu perlahan-lahan, diantara kedua wanita itu terjalin pemahaman yang luar biasa besarnya. Mariam yang semula hidup dalam gulita karena merasa dirinya ibarat gulma yang tidak dikehendaki oleh siapapun, mendadak merasakan ribuan matahari menyinari hatinya. Akhirnya, Mariam diberi juga kesempatan untuk menjadi seorang teman, saudara serta ibu.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">Tidak salah kalau buku ini terpilih menjadi <em>New York Times Bestseller</em>. Pada bagian belakang sampulnya London Times menulis, <em>“Sebuah cerita fiksi yang cemerlang, diprediksi akan lebih memberikan pengaruh luar biasa kepada pembaca</em> <em>dibandingkan The Kite Runner.”</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">*Kite Runner adalah novel perdana Khaled Hosseini yang telah terjual sebanyak 8 juta kopi. Hosseini seorang dokter dan masih berpraktek hingga sekarang. Dia tinggal di San Jose, California, Amerika Serikat. Situs resminya di: <em><a href="http://www.khaledhosseini.com/">www.khaledhosseini.com</a></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/merlinherlina.wordpress.com/141/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/merlinherlina.wordpress.com/141/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/merlinherlina.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/merlinherlina.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/merlinherlina.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/merlinherlina.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/merlinherlina.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/merlinherlina.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/merlinherlina.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/merlinherlina.wordpress.com/141/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/merlinherlina.wordpress.com/141/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/merlinherlina.wordpress.com/141/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=merlinherlina.wordpress.com&blog=3713065&post=141&subd=merlinherlina&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://merlinherlina.wordpress.com/2008/08/18/a-thousand-splendid-suns/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/631a6d7561a2a506d1e4a89b9c06ad81?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">merlinherlina</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://merlinherlina.files.wordpress.com/2008/08/a-thousand-splendid-suns2.jpg?w=192" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>